Kompas tanggal 28 Februari 2007 menurunkan laporan tentang obat palsu yang disamakan dengan genosida, suatu kejahatan terhadap kemanusiaan yang harus dihukum dengan berat. Disamping obat baru malaria yang ditemukan di china (artemisinin) yang dibahas dengan porsi cukup banyak (sudah dipalsukan juga dan oleh china pula), diduga obat2 seperti antibiotik, diabetes, jantung, penghilang nyeri, obat kuat v**gra, obat TBC dan obat AIDS bahkan Vaksin meningitis dan tammiflu sudah menjadi sasaran pemalsuan obat. WHO khusus menyoroti 3 macam yaitu obat2 malaria, TBC dan AIDS.



Sebenarnya masalah obat palsu ini bukan cerita lama, sudah puluhan tahun
berlangsung marak di indonesia ini. Distribusi obat palsu ini mungkin sama
ruwetnya dengan distribusi obat aslinya. Maksudnya, melibatkan banyak
pihak/sindikasi. (Bisa jadi thread sendiri masalah distribusi obat dan harga
obat yang mahal di Indo)

Seorang teman yang kebetulan adalah seorang praktisi farmasi menceritakan
sedikit seluk-beluk mengenai obat-obat palsu ini. Menurutnya, obat palsu jaman
dulu agak berbeda dengan obat palsu sekarang. Dulu pemalsu obat masih memilih
jenis2 obat yang akan dipalsukan. Disamping syaratnya haruslah obat yang laku
keras, obat yang menyangkut nyawa seseorang seperti obat jantung, darah tinggi
atau lainnya jarang sekali ditemukan bentuk sediaan yang palsu. Namun sekarang
sudah berbeda, seperti sinyalemen dalam laporan itu, obat apa saja yang penting
secara total omset lebih dari 1 miliar rupiah cendrung akan dipalsukan.

Menjamurnya toko obat dan apotik2 ikut menyuburkan praktek perdagangan obat
palsu ini. Persaingan dagang yang ketat telah memicu upaya mendapatkan sediaan
obat yang semurah-murahnya supaya dapat menjual dengan harga yang murah pula.
Harga murah telah menjadi strategi utama dalam bisnis ini. Lipitor 20mg
misalnya, yang dijual dengan kisaran 18-20 ribuan, dengan hpp 16ribuan, sering
dapat diperoleh di toko obat dengan harga 10-11 ribu saja. Dikatakan lipitornya
import. (Memang secara umum, obat2an di indo lebih tinggi dari harga obat dengan
nama sama di LN, ini juga aneh.) Seringnya itu produk pakistan, india atau
kadang2 vietnam.

Sang teman tadi sering mengeluh menghadapi persaingan tersebut, karena harga
yang dijual di toko obat (TO)/ apotik lain harga jualnya kurang lebih sama
dengan harga modal dia. Memang diakui tidak hanya obat palsu yang menyebabkan
harga obat yang dijualnya TO/apotik lain menjadi lebih murah. Diuraikan mulai
dari alasan2 yang masih baik sampai dengan yang terjelek:

1. Faktor pajak. Apotik yang memilih membayar pajak secara benar, sudah kalah 1
langkah dibandingkan dengan yang tidak, terutama PPn (Pajak Pertambahan Nilai)
yang nilainya 10%. Belum lagi PPh21 karyawan + PPh 25 badan dari
keuntungan/profit.
2. Faktor economic scale. Apotik/TO yang perputaran obatnya tinggi alias salenya
tinggi, memperoleh ‘advanced’ dalam discount. Beli partai besar tentu harganya
berbeda dengan beli ecer yang se-emprit2. Namun selisih harga di sini tidak
terlalu besar umumnya.
3. Produsen obat sering menerapkan strategi harga yang berbeda antara retail
seperti apotik/TO dengan instansi2 tertentu. Nah, konon produk ini sering
‘bocor’ juga ke apotik/TO, meskipun produsennya terkadang memberikan kode-kode
produksi tertentu untuk obat2 jenis ini.
4. Konon masih ada fasilitas pengobatan untuk karyawan untuk instansi tertentu,
(biasanya instansi pemerintah) yang memberikan jatah pengobatan bagi
karyawannya. Ini kalau ga dipakai, biasanya ‘hangus’. Nah, karyawan yang
bersangkutan akan tetap me-reimburse obat2an tertentu yang mahal (biasanya ke
apotik yang sudah dirujuk) dan mudah dijual lagi ke apotik atau TO.
5. Barang ‘spanyol’ maksudnya separoh nyolong atau pun nyolong benaran. Ini bisa
macam2, mungkin dari karyawan yang bekerja di instansi farmasi tertentu, atau
benaran melalui suatu sindikasi mafia perampok/pencuri apotik.
6. Obat2an import. Obat yang dijual disubsitusi dengan obat2 import dengan nama
sama yang harga obatnya lebih murah. Di sini untung2an bagi konsumernya, kalau
lagi beruntung ya mungkin bisa mendapatkan kualitas yang tidak kalah dengan yang
asli didistribusikan oleh PBFnya (Pedagang Besar farmasi).
7. Obat kadaluarsa. Obat2 yang telah expired alias kadaluarsa, dengan
teknik-teknik tertentu bisa diketik lagi tanggal kadaluarsanya dan dijual
kembali. Konon, praktek demikian banyak dilakukan. Ada sebuah pasar di bilangan
jakarta pusat yang terkenal banyak Tonya marak dengan praktek ini. Konon mereka
berani membeli obat2 yang sudah kadaluarsa, tentu dengan harga yang miring.
Apotik/To yang tidak mempunyai trick ini, biasanya suka membuang obat2
kadaluarsanya ke sini. Daripada dibuang di tong sampah, kalau dijual di sini
masih bisa jadi duit, begitu kilahnya.
8. Obat palsu. Terkadang, apotik/TO yang menjualpun tidak menyadari bahwa dia
menjual obat palsu. Yang mereka tahu mereka mendapat sumber yang murah, sehingga
bisa menjualnya dengan harga yang lebih murah. Produsen obat yang besar
menghabiskan dana extra dalam upaya memerangi obat2annya yang dipalsukan. Baik
dari segi packaging yang diberi tanda hologram khusus, atau secara berkala
packagingnya diganti.

Nah, sekarang bagaimana menyikapinya? Kalau anda mendapatkan obat murah dari no
2 s/d 5 diatas, maka anda termasuk ‘beruntung’. Namun, apakah anda akan
beruntung setiap kali? Teman saya memberi tips. Biasakanlah membeli obat di
apotik2 yang syukur2 sudah terbukti ‘kebersihan’nya. Jangan nomor satukan harga
murah, tetapi yang penting kualitas. Biasanya orang minum obat karena sakit dan
ingin cepat sembuh. Menkonsumsi obat palsu atau yang dosisnya tidak benar dapat
memicu resistensi parasit, kuman atau bakteri penyebab penyakit terhadap obat2an
tersebut.

Seorang teman yang relatif lumayan taraf ekonominya, yang kalau pergi bersama
maunya dia yang bayar makanan, Baju dan sepatu merk-nya yang ajubile,
gonta-ganti gadget HP atau PDAphone dll. Namun dalam prilaku membeli obat, punya
prilaku yang menurutku rada ga masuk akal. Beliau sudah pernah ditiup dan pasang
ring 2 kali di pembuluh darah jantungnya, jadi rutin salah satu obatnya adalah
lipitor. Ketika suatu saat membeli dari temanku yang punya apotik, dia terkejut
dan keliatan agak keberatan dengan harga obat tersebut dan berniat membeli yang
harganya lebih murah. Akhirnya ga tahan aku semprot: “Ente duit banyak dan kalau
sekali entertain bisa 1-2 juta. Untuk kesehatan, tambahan 10 ribu perak per hari
untuk lebih secure untuk pengobatan saja koq keberatan?”

Aku yakin, orang seperti temanku ini banyak!

wiro
_________________________________________________________
dikirim lewat http://forums.superkoran.info - tanpa moderasi