Inilah fakta yang tersembunyi dari awam berdasarkan sumber yang sangat bisa dipercaya.

PKS/IM Indonesia itu dalam melakukan strategi direncanakan dengan matang, terjadwal, termonitor, terkoordinir, jadi bukan secara serabutan atau spontan saja. Setiap Kader itu diberikan suatu buku pegangan/pedoman. Makin tinggi tingkat Kader/Murbbinya makin besar tanggung jawab dan makin lengkap buku pedoman yang dipegangnya.


Strategi dan rencana mereka dilakukan di berbagai bidang mulai dari
menguasai DKM, Kegiatan ROHIS Sekolah dan KAMPUS, Usaha Perekonomian,
Kegiatan Sosial, Majlis Ta’lim dll. Hampir semua kegiatan islam di
masyarakat sekarang sebenarnya sudah dimasuki oleh KADER-KADER PKS/IM bahkan  ke dunia entertaintment juga. Siapa sangka kalau PEPENG, ASTRI IVO, NENO WARISMAN ternyata adalah KADER mereka juga?

Ini kisah nyata dari seorang KADER X yang pernah ditugaskan untuk
“menguasai” Majsid sebut saja Masjid A.

X adalah seorang Kader Tarbiyah/IM/PKS yang sangat aktif dan berkali-kali telah teruji dan berhasil mengelola berbagai kegiatan organisasinya. Suatu saat X ditugaskan oleh Murabbinya untuk dapat menguasai kegiatan di Masjid  A. Maka mulialah X membuat rencana mulai dari pendekatan pertama meramaikan masjid tersebut.

Sebagaimana umumnya, Masjid kampung biasanya dipimpin oleh seorang Kyai Lokal yang mengadakan pengajian/majlis ta’lim bagi penduduk.

Nah langkah pertama X untuk mencapai maksudnya adalah dengan mengajak beberapa KADER IM/PKS meramaikan menjadi hadirin dalam Majlis Sang Kyai.
Pada saat itu para KADER dilarang sama sekali melakukan perbantahan dan  tugasnya hanya untuk meramaikan saja sambil memperhatikan pola dan kemampuan Sang Kiai.

Setelah beberapa lama mengikuti kegiatan majlis ta’lim tersebut dan dirasa
sudah cukup pengamatannya, maka mulailah dilakukan skenario selanjutnya.
Karena kegiatan Majlis ini relatif masih tradisional, monoton dan kurang
meriah, kemudian KADER X dan kawan-kawan melakukan komunikasi dengan Kyai dan menawarkan bantuan untuk mengkoordinir kegiatan yang lebih luas. Pak
Kyai sih seneng saja awalnya karena beranggapan wah anak-anak muda ini
enggak perduli dari mana kok semangat betul untuk mengisi acara di
Masjidnya. Jadi Pak Kyai setuju aja.

Setelah itu maka skenario berikutnya disusunlah Acara oleh KADER X dkk. yang  udah dibuat sebelumnya karena mereka sudah punya Format Acara dari Archives/Arsip kegiatan-kegiatan di tempat lain. Seluiruh Kader pun
diharuskan datang ke Masjid A tersebut oleh Murabbi. Acara Majlis Ta’lim pun  semakin ramai karena dikerubuti oleh KADER PKS/IM. Pak Kyai pun walaupun kaget darimana datangnya orang-orang asing ini menjadi senang masjidnya menjadi ramai. Pada saat itu skenario masih membiarkan Pak Kyai yang  memimpin Acara sehingga Beliau tidak merasa disingkirkan.

Kemudian setelah Acara berjalan semakin mantap, mulailah didatangkan seorang Murabbi Senior lulusan Jamiah/Universitas di Negeri Arab untuk datang ke  Pengajian tsb pada saat topiknya cukup kontroversial. Ceramah Pak Kyai diprotes oleh Murabbi ini yang memang sudah siap dengan segala
dalil-dalilnya dan akhirnya berhasil menjinakkan Pak Kyai. Tittle Lulusan
AlAzhar dan kemampuan bahasa arab Murabbi IM menjadikan Pak Kyai bertambah segan juga dan akhirnya mengalah memberikan kesempatan pada Muabbi PKS/IM untuk mengisi acara. Skenario berjalan mulus.

Maka sejak saat itu Koordinator Kegiatan Majlis, Pengisi Acara, Pengurus
Masjid pun diubah menjadi Wajah PKS/IM yang mencatut nama Salafi/Sunni. Propaganda dan Kaderisasi pun diperlebar wilayahnya ke Masjid tersebut. Tentu saja yang non-PKS IM enggak sanggup sendirian menghadapi kerubutan  para KADER tersebut dan akhirnya menyingkir atau tersingkir. Sedangkan bagi  Kyai Ajengan ada yang kecewa, ada yang ngalah, ada yang marah, ada juga yang selanjutnya “gabung” tanpa menyadari apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Dalam beberapa kasus, perencanaan mulai dari awal hingga dikuasainya Majlis Taklim dan DKM itu memerlukan waktu lama hingga 2-3 tahun. Bayangkan sabar banget IM/PKS ini dalam melakukan skenarionya.

Hal itu juga terjadi terhadap Organisasi2x dan Lembaga2x lainnya baik itu Ormas,Departemen, Pemda, Unit Kegiatan Kampus, Unit Kegiatan Sekolah, Badan Ekonomi maupun Sosial seperti Bank Muamalat dan Dompet Dhuafa sebenarnya sudah “dikuasai” mereka. Bahkan PKK ibu-ibu pun berusaha di dominasi oleh mereka. Heubat kan……….

Contoh lain : Untuk Mata kuliah Agama di Kampus misalnya : Yang tidak ikut mentoring jangan harap bisa dapet nilai A. Dan Mentornya sebagian besar adalah dari KADER yang memang sudah diatur oleh Unit Kegiatan Keislaman Kampus yang juga sudah dikuasai mereka seperti yang di UI, UGM, ITB maupun di UNPAD misalnya.

Selentingan mereka sebenarnya juga sudah membuat Skenario (Blue Print) dalam mengambil alih Kekuasaan Politik di Indonesia.

Jika kita membaca di PKS-Pedia
http://pks-anz.org/pkspedia/index.php?title=Tokoh-tokoh_PKS dan melihat komposisi KADER dan MURABBI PKS/IM di Peta Perpolitikan Indonesia saat ini, tidak aneh kalau dalam 5 atau 10 tahun lagi partai ini akan berkuasa dan  kemudian mulai menerapkan rencananya yang masih tersembunyi.

Lihat juga perkembangan PKS/IM di luar negeri dengan mengklik
http://en.wikipedia.org/wiki/Muslim_Brotherhood

Jika PKS/IM memang Moderat dan menjunjung KEADILAN sejati dan demokrasi no problem. Tapi jika seperti yang terjadi di Turki, Mesir, Aljazair, Somalia, Sudan dll……kaum nasionalis demokrat harus waspada.