Selasa, 18 Oktober 2005.  Dalam tulisan-tulisan saya yang lain saya menyebut bahwa saat ini rakyat Indonesia masih dijajah. Kita mengenal penjajah-penjajah Inggris dan Belanda serta Jepang, tetapi penjajah yang paling mutakhir adalah justru para pejabat pemerintah dan legislatif serta judikatif. Analisis saya ini tidak usah secara tergesa-gesa dibantah dan bersikap marah kepada saya. Pada hari ini di koran Kompas pada halaman 25 ada judul berita paling menarik yang berbunyi: Gubernur Sulut Hapus Honor dan Biaya PRT disusul caption lebih kecil: Keperluan Pribadi Gubernur Jangan Dibebankan kepada Rakyat. Saya baca cepat satu kali dan saya langsung bersorak gembira dalam hati. Photocopy berita ini saya lampirkan dibagian akhir dari tulisan ini.

Dalam tulisan-tulisan saya yang lain saya menyebut bahwa saat ini rakyat Indonesia masih dijajah. Kita mengenal penjajah-penjajah Inggris dan Belanda serta Jepang, tetapi penjajah yang paling mutakhir adalah justru para pejabat pemerintah dan legislatif serta judikatif. Analisis saya ini tidak usah secara tergesa-gesa dibantah dan bersikap marah kepada saya. Pada hari ini di koran Kompas pada halaman 25 ada judul berita paling menarik yang berbunyi: Gubernur Sulut Hapus Honor dan Biaya PRT disusul caption lebih kecil: Keperluan Pribadi Gubernur Jangan Dibebankan kepada Rakyat. Saya baca cepat satu kali dan saya langsung bersorak gembira dalam hati. Photocopy berita ini saya lampirkan dibagian akhir dari tulisan ini.

Yang amat menonjol adalah bagian yang mengatakan bahwa Gubernur, Pak Harry Sarundajang ini, adalah mantan Inspektur Jenderal Departemen Dalam Negeri. Departemen Dalam Negeri rupanya mempunyai seorang tokoh yang mungkin bisa menjadi panutan dan yang patut mendapat julukan pemimpin pada waktu yang akan datang. Saya sendiri dengan perasaan sedih terpaksa harus menyatakan bahwa pada saat ini amat sedikit para pejabat kita yang dapat disebut sebagai pemimpin, karena julukan yang patut disandangnya hanyalah sebagai pimpinan, itupun malah kemungkinan besar masih harus ditambah ilmunya dengan menambah pengetahuan dalam Ilmu Penyeliaan.

Apa yang dikerjakan oleh pak Harry Sarundajang ini adalah sesuatu yang baik sekali, karena secara terbuka boleh dibilang baru satu kali ini terjadi. Sebenarnya sudah ada pendahulunya, yakni Gubernur Timor Timur, maaf saya belum ingat namanya, akan tetapi seorang Brigadir Jenderal yang menjadi Sekretaris Daerah Satu yang kebetulan adalah teman saya, pernah bercerita bahwa suatu saat dia diminta datang kekamar kerjanya. Pak Gubernur ini minta agar SEKDA teman saya itu menyaksikan, bersama-sama dengan beberapa personil lainnya, dia membuka laci meja kerjanya. Dari dalam laci dia mengeluarkan banyak amplop yang berisi uang. Uang-uang didalam amplop itu adalah uang-uang honor seperti yang dihapuskan oleh Pak Harry Sarundajang ini. Honor untuk banyak kegiatannya sebagai Gubernur selama menjabat, diserahkan kembali kepada para yang hadir untuk dikembalikan.

Prinsipnya dia tidak mau menerima dan membelanjakannya. Kelanjutannya saya tidak mengikuti dikembalikan kemana uang itu disalurkan, karena saya amat terpesona dengan cerita teman saya tadi. Itu juga kejadian yang langka seperti yang pernah dialami oleh manusia Indonesia.

Ayah saya, Doel Arnowo, pernah menjabat sebagai Walikota Kotamadya Soerabaia yang pertama setelah merdeka penuh dibawah Negara Kesatuan Republik Indonesia (tahun 1950 sampai dengan 1952). Sebuah peristiwa kecil pernah terjadi sebagai berikut. Karena baru saja diangkat, ayah saya masih tinggal didepan rumah kediaman resmi Walikota Surabaya sekarang, Jalan Ondomohen 61, Surabaya. Jalan Ondomohen kemudian diganti menjadi Jalan Walikota Moestadjab, yang adalah Walikota pengganti ayah saya setelah ayah saya dipindahkan. Rumah yang didiami ayah saya tersebut, Jalan Ondomohen nomor 84 letaknya tepat berseberangan dengan rumah kediaman resmi Walikota tersebut. Dengan sendirinya teras depan rumah tersebut kecil saja, mungkin hanya sekitar tiga kali empat meter saja. Suatu sore ayah saya bergegas karena harus mengahadiri sebuah rapat.

Sebelum naik mobil ada tamu datang dan agak memaksa bertemu sebentar dan memberikan sebuah bungkusan. Karena tergesa-gesa seperti itu, ayah saya menaruh bungkusan itu diatas sebuah meja di teras. Tidak ada yang menyentuh bungkusan tersebut sampai ayah pulang kembali sekitar pukul 21.00 malam. Waktu dibuka isinya ternyata beberapa perhiasan dari emas berupa kalung, gelang dan lain-lain. Ayah terkejut dan menunjukkan kepada ibu. Ibu sempat mencoba kalung dan kelihatan kagum karena belum pernah memiliki yang seperti itu. Saya masih berumur 13 tahun waktu itu dan cerita ini saya kumpulkan setelah menjadi bahan pembicaraan keluarga ayah antara lain kakak-kakak saya yang telah menginjak usia 18 dan 15 tahun, selama bertahun-tahun kemudian. Tapi apa kata ayah saya? BUNGKUS kembali !! Itu perintahnya kepada ibu. Esok harinya sipembawa dan yang memberikan bungkusan tersebut dipanggil ayah saya dan diminta membawanya kembali. Dia menyatakan tidak berani karena dia diutus oleh si Polan, yang seorang pengusaha. Ayah saya berkata kira-kira sebagai berikut: “Kalau kamu sebut barang ini sebagai hadiah, itu tidak benar karena si Polan itu sedang ada masalah dengan Kotamadya Surabaya mengenai pelebaran jalan Kembang Jepoen. Jadi bila kamu besikeras tidak mau, maka saya panggil Polisi” Pada waktu itu Polisi berada dibawah Departemen Dalam Negeri, jadi di Surabaya dibawah Walikotamadya. Dan terjadilah, ayah saya memanggil Polisi dan yang kebetulan bisa dihubungi adalah Polisi yang sejak lama menjadi Polisi bernama Liem Boen Pong, seorang Polisi professional. Saya sebut professional karena dia menjadi politie dalam penjajahan Belanda dan menjadi Polisi dalam Penjajahan Jepang serta menjadi Polisi dalam Aksi Polisionil Belanda serta kembali menjadi Polisi dalam Negara Republik Indonesia. Liem Boen Pong adalah Polisi yang menjaga sel dimana ayah saya dipenjara oleh penjajah Jepang, yang pernah dengan berani memberi ayah saya sebatang rokok dengan diam-diam.

Memang saya terlalu kecil waktu itu untuk tahu dan mengikuti bagaimana proses selanjutnya, yang jelas Liem Boen Pong memang datang dan menangkap orang dimaksud dan dibawa ke kantor Polisi di Jalan Ambengan. Itu yang saya ketahui, sebuah peristiwa agak mirip dengan masalah diatas, yang menyangkut ayah saya sendiri dan menjadi kejadian yang amat nyata terjadi.

Pejabat disogok itu memang terjadi sejak lama, mungkin sejak jamannya Abu Nawas atau Ken Arok. Sepanjang hidup saya yang hampir tujuhpuluh tahun ini saya belum pernah melihat keberhasilan pemberantasan korupsi yang tuntas. Kesimpulan saya agar pemberantasan korupsi dan yang sama dengan korupsi akan bisa signifikan, yang salah satu caranya adalah dengan mengangkat lebih banyak menjadi pejabat: orang-orang yang seperti contoh diatas, Harry Sarundajang. Dengan bangga saya juga menyejajarkan nama ayah saya sebagai salah satunya. Saya katakan begini karena saya mengenal ayah saya dan mengetahui agak detail mengenai beliau itu orang seperti apa. Kalau saya salah pasti beliau tidak terkenal sebagai orang baik dan tidak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan jalan Majen Soengkono. Disekitar Tugu Pahlawan Surabaya pun ada patung beliau karena beliau adalah tokoh Peristiwa Hari Pahlawan 10 Nopember 1945 di Surabaya. Kejujuran bukanlah sesuatu yang bisa diajarkan karena dia bukan ilmu dan hanya bisa keluar dari lubuk hati masing-masing orang secara naluri.