Feb 26 , ketika membaca tulisan Djaya tentang secangkir kopi untuk Ken , tak terasa ingatan melayang ke saat 5-6 bulan yang lalu . Saat dimana persisnya pengalaman yang sama terjadi pada diri sendiri . Tepatnya 20 Agustus 2006 , ketika sedang menikmati libur dan kemudian HP berdering dan ternyata pemberitahuan dari sang Vice President Director untuk datang ke pabrik di Bandung tanggal 22 Agustus..

Saat itu memang sudah ada dugaan tentang apa yang
akan terjadi , tapi belum ada kepastian secara jelas apa yang akan disampaikan
oleh mereka . Yang kemudian menjadi jelas dalam pertemuan tersebut bahwa
perusahaan akan ditutup keesokan harinya , atau 23 Agustus 2006 . Ketakutan yang
selama itu sudah terasa menjadi kenyataan bahwa “sawah” tempat mencari nafkah
harus ditutup karena kerugian terus menerus selama 3 tahun .

Wajah-wajah muram dan sekaligus marah dari rekan-rekan yang hadir membuat
situasi sedikit memanas karena yang hadir adalah kepala seksi atau bagian yang
membawahi banyak anak buah , yang kebanyakan adalah buruh dengan level
pendidikan dan kehidupan masih di bawah standar .. Setelah perdebatan yang
panjang dan lebar serta juga dengan banyak uraian airmata , semua akhirnya harus
menerima kenyataan .. “OPERASI PERUSAHAAN DIHENTIKAN , SEMUA KARYAWAN DI-PHK” ..
Titik

Sebagai orang yang membawahi penjualan produk perusahaan tersebut , hal tersebut
sudah saya prediksi jauh-jauh hari .. Hanya ketika GONG tersebut dibunyikan ,
masih terasa sakit di hati , dan api ketakutan , kekhawatiran yang selama ini
seperti diberi tambahan bahan bakar untuk mencapai level puncak . Tak
terhindarkan terbayang wajah si kecil dan ibunya yang menunggu kepastian di
rumah mengenai apa yang selama ini sudah diinformasikan sehari-hari .. Titik
suram dalam kehidupan saya mencapai puncaknya pada hari tersebut .

Kenapa baru pada saat itu mencapai titik puncaknya ? Karena beberapa bulan
sebelumnya , sejak awal tahun , rumor , gossip sudah beredar mengenai hal
tersebut dan kerugian yang tetap tak ter-cover dengan kenaikan harga penjualan
atau bagusnya penjualan , sudah menunjukkan indikator yang jelas bahwa ada yang
salah dengan perusahaan ini . Selama itu pula , setiap hari tekanan dan
kekhawatiran bertambah gram demi gram , dan maju inci demi inci … Setiap bangun
, kecemasan ketika berangkat kerja semakin menggunung .

Saat pulang pertemuan hari itu , terbaca oleh sang mantan pacar apa yang sudah
terjadi dan dia berusaha menenangkan (walaupun terlihat dari wajahnya diapun
menyimpan kekhawatiran yang sangat) ..

Sejak saat itu , yang ada di hati saya adalah sedikit “penyesalan” karena satu
bulan sebelumnya ada tawaran kerja di tempat lain yang ditolak karena masih ada
keinginan dan harapan untuk dapat bangkit kembali . Gambaran masa depan seketika
menjadi sangat dan amat suram buat kami berdua (si kecil belum tahu dan
mengerti) . Apakah nanti si kecil mampu untuk sekolah , atau mampukah kami
membayar cicilan rumah , apakah akan ada pekerjaan lain dalam waktu cepat ..
Benar-benar sebuah situasi yang menakutkan buat kami . Apalagi ketika itu
perundingan mengenai pesangon sepertinya akan berjalan cukup lama sedangkan
cadangan keuangan kami sudah menipis .
Agak berbeda dengan Ken yang dapat cepat berpikir positif dan mencari jalan
keluar , kami seperti berada dalam kesuraman cukup lama (mungkin karena di UK
sono ada JPS dan juga jumlah pengangguran yang pasti kalah dibandingkan disini -
> 40 juta penganggur di Indonesia) . Kekhawatiran yang terpikirkan semakin lama
justru semakin menenggelamkan kami lebih dalam , raut muka dan suara yang kadang
sulit terkontrol sempat membuat si kecil jauh dari saya .. Bahkan mungkin Tuhan
pun jauh dari saya saat itu , karena sempat terlupakan untuk melakukan kewajiban
saya terhadap-Nya . Saya lebih memilih untuk menenggelamkan diri dalam pemikiran
tentang masa depan ..

Entah , saya lupa tepatnya karena apa atau kapan .. tapi suatu pagi saya bangun
tidur (yang terus terang nggak nyenyak) , kemudian terpikirkan tanggung jawab
terhadap para anak buah di kantor . Saat itu tentu saja mereka jauh lebih resah
.. dan akhirnya saya pikir , lebih bagus untuk membantu menenangkan mereka dulu
. Mulai saat itu , akhirnya saya menyibukkan diri untuk menenangkan mereka ,
mengajak ngobrol mereka , memberi saran mengenai peluang .. dan sampai menelpon
relasi-relasi dengan harapan siapa tahu ada lowongan untuk anak buah anak buahku
. Ternyata , kesibukan begini membuat kecemasan-kecemasan dan kekhawatiran
berkurang banyak dan pikiran jernih mulai bisa jalan lagi . Sampai suatu saat
saya ujungnya berpikir dan bersiap untuk yang terburuk .. Pada akhirnya saya
bisa sampaikan ke mantan pacar : “Tenang , kita harus terus hidup dan mencari
uang , kalaupun nanti saya jadi tukang ojeg , jangan khawatir , saya akan
kerjakan ..!” terbayang demikian karena sepeda motor kreditan saya masih ada dan
dengan itu masih tetap ada peluang untuk mencari nafkah . Sedikit mendinginlah
lahar kecemasan yang melingkupi , sedikit demi sedikit semua tidak lagi menjadi
terlalu suram . MASIH ADA HARAPAN .. dan senyum pun mulai ada di wajah kami , si
kecil pun tidak lagi menjauhi

Tak berapa lama kemudian .. Allah yang sempat saya lupakan beberapa lama ,
menunjukkan ada jalan terang ketika masa suram . Perusahaan yang sebelumnya saya
tolak ternyata masih berminat mempekerjakan saya , walaupun turun jabatan dan
hanya menjadi salesman di pasar local / domestic .. Alhamdulillah , itu yang
terucap dari mulut istri saya ketika itu dan senyum terkembang semakin lebar ,
jalan yang semakin ada titik terangnya . Walaupun tak berapa lama kemudian ,
setelah menjalaninya , terasa sekali ada sesuatu yang mengganjal di hati tentang
perusahaan baru ini .. Mungkin karena masih terlalu terikat dengan perusahaan
yang lama (11 tahun disana sejak mulai lulus) ..

Lagi-lagi tak dinyana , sebuah perusahaan lain membuka lowongan dan teman saya
yang sudah duluan masuk memberikan informasi , setelah lamaran diterima ,
diinterview dan diterima ..

Itulah tempat saya bekerja saat ini , tempatnya 54 kilometer dari rumah saya di
Bogor dan dijalani dengan naik motor pulang pergi demi menghemat ongkos . Apakah
berat , bagi badan yang semakin tua ini , jelas berat .. tapi dibandingkan harus
mengalami masa seperti 5-6 bulan lalu , terasa ringan .. kekhawatiran tetap ada
, tapi jauh lebih ringan .

Sampai saat ini , kekhawatiran ini masih ada , kecemasan itu masih menggelayut .
Bagaimana kalau nanti terjadi lagi masa seperti itu .. kami pernah mengalami
masa tersebut dan melewatinya , jadi kalau itu terulang lagi , insya allah ,
kami pun akan dapat melewatinya lagi .

Juga kalau ditilik lagi pada saat sekarang ternyata masa tersebut tidaklah
sesuram seperti yang saya bayangkan . Ada banyak hal dan beban teringankan
dengan PHK tersebut . Dengan uang pesangon , kreditan rumah bisa dilunasi dan
begitu juga dengan kreditan motor (yang saya pake sekarang) .. Yang tak
terbayangkan adalah justru setelah PHK tersebut saya bisa bertemu dengan
beberapa rekan AK secara tatap muka .

Tulisan ini dibuat untuk berbagi pengalaman.. siapa tahu ada diantara mereka
yang mengalami masa suram yang sama . Semoga bermanfaat

Sekian dan salam