Tulisan Charles Murray ini penting untuk semua orang. Ada baiknya jangan dihapus untuk dibaca lagi kalau tidak lagi sibuk.

http://www.aei.org/publications/pubID.25662/pub_detail.asp

Tulisan Charles Murray penting untuk semua orang. Ada
baiknya jangan dihapus untuk dibaca lagi kalau tidak
lagi sibuk.

Kebijakan 'No child left behind' (bukan saja
naik/lulus semua tapi semua harus mencapai standard
tertentu) memang baik diatas kertas. Tapi dalam
kenyataan dikelas, tidak mungkin dicapai dan
sesungguhnya tidak perlu.

Tidak semua anak punya IQ diatas 100. Kalau disama
ratakan, maka guru terpaku pada anak yang saya
tangkapnya kurang cepat. Akhirnya kemajuan kelas
terkendala, kalau anak yang daya tangkapnya kurang
menjadi penentu. Ini dapat diatasi dengan membagi
kelas menjadi 3 kelompok berdasar competency-based
teaching yang diterapkan di SD Pakasi Malang.

Kebijakan 'No child left behind' seolah memberi
iming-iming agar semua anak melanjutkan belajar di
perguruan tinggi, 4-year college atau S-1 kalau di
Indonesia. Seorang anak dengan IQ pas2an mungkin saja
dengan kerja keras dapat angka 7 di aljabar biasa.
Tapi dia pasti mendapat kesulitan memecahkan soal
differensial-integral karena untuk ini perlu IQ paling
tidak 115. Begitu pula dalam mengikuti pelajaran
bahasa, karena berbahasa yang runtut dengan kaidah
tata bahasa dan syntax (urutan kata) yang benar juga
memerlukan tingkat intelegensi yang cukup tinggi.

Padahal di Amerika seorang craftsman (tukang listrik,
montir kendaraan dan mesin, tukang kayu, tukang ubin,
tukang saluran air, dll) pasti mendapat order karena
pasaran mereka terbuka lebar. Begitu juga di keadaan
di tanah air. Upah mereka tak jarang lebih tinggi dari
pemegang S-1 atau bachelors degree. Jadi mereka yang
tak akan mampu ketingkat lebih tinggi, jangan
dipaksakan. Cukup 2-year college atau program D-2
atau D-3 saja. Progran D-3 itu istilahnya program
siap pakai.

Dalam masyarakat manapun, jumlah orang yang
dianugerahi IQ> 120 tidak banyak. Di Amerika hanya
10% dari populasi rata2 kelas sekolah. Mereka ini
nantinya menjadi dokter, insinyur, akuntan, pengacara,
dosen, budayawan, penulis buku, kolumnis, anchor TV.
Mereka tergolong 'intellectually gifted'. Lantaran
apa yang mereka lakukan mempengaruhi banyak orang,
mereka secara mendasar harus berbekal kaidah grammar
dan syntax agar mampu menyatakan pemikirannya dengan
tepat. Juga mereka perlu dibekali pengetahuan etika
mendasar paling tidak Aristoteles dan Konfusius.

Charles Murray menutup tulisannya dengan ajakan
terimalah kenyataan bahwa harus ada anak yang
tertinggal karena keterbatasan IQ mereka. Mereka ini
tak kurang bergunanya bagi kesejahteraan dan
kebahagiaan masyarakat banyak.

Salam,
RM