Penduduk Eropa.

Pada tanggal 31 Desember 1925, penduduk bangsa Eropa di dalam kotapraja Batavia berjumlah 28.848 jiwa dibandingkan dengan 17.960 pada akhir tahun 1924. hal itu menunjuk kepada pertambahan 888 jiwa dalam waktu setahun, jadi 1 dalam setiap 25 jiwa.

Pertambahan ini sangat besar mengingat bahwa penduduk dari Amsterdam, bertambah 1 dibanding 116, Rotterdam 1 : 53, dan Den Haag 1 : 44.

Gambaran selanjutnya tentang perkembangan pertambahan penduduk yaitu perbedaan antara penduduk bangsa Eropa pada tahun 1920 dan 1925, yaitu 24.546 dan 28.848, atau 3400 jiwa dan itu meskipun banyak Kantor-kantor Pemerintah yang pindah ke Bandung. Di antara penduduk bangsa Eropa tentu saja bangsa Belanda yang paling banyak kemudian menyusul bangsa Inggris dan kemudian bangsa Jerman.

Bangsa-bangasa Eropa lainnya juga diwakili oleh misalnya orang Denmark, Perancis, Italia, Rusia, Austria, Swis dan Swedia.

Orang Perancis dulu terutama bermukim di “Lingungan Perancis”, yang sekarang adalah Rijswijkstraat, orang Italia sejak lama berkecimpung dalam pembuatan barang-barang kesenian yang terutama barang-barang yang terbuat dari marmer.

Mata pencarian orang Inggris dan Jerman terutama dalam bidang perdagangan , teristimewa perdagangan besar.

Bahwa jumlah mereka cukup banyak terbukti adanya klub Inggris dan klub Jerman yang tersendiri.

Kepentingan dari bangsa-bangsa ini dilaksanakan oleh konsul-konsul mereka masing-masing, dalam hal ini ditunjuk kepada Bab VII, PERDAGANGAN.

Orang Pribumi.

Orang-orang pribumi yang jumlahnya kurang lebih 210.000 jiwa, dalam Kotapraja kita terdiri dari bermacam-macam golongan. Pada mulanya adalah suku Sunda yang dalam tahun-tahun yang lalu telah sangat bercampur dengan bermacam-macam bangsa dan suku di dalam nusantara. Seperti orang Melayu, Bugis, Jawa, Ambon, Menado, Timor, dsb., dimana kaum lelakinya telah berhubungan untuk jangka waktu lama atau pendek dengan para wanita dari daerah ini sedangkan orang-orang Eropa, Tionghoa, Arab, Jepang dsb., tidak merasa enggan untuk berhubungan dengan para wanita negeri ini!

Sebagai akibat alamiah adalah terbentuknya suatu golongan tersendiri yang dapat dengan cepat dibedakan dengan orang Sunda, yang masih ada disekeliling Batavia. Mereka ini terutama mata pencariannya adalah berternak dan bertani dan berpakaian dan hidup secara sederhana.

Orang-orangpribumi yang berdiam dalam ibu kota mempunyai banyak dan bermacam-macam bidang matapencarian. Banyak diantara mereka yang berkerja pada orang Eropa dan Tionghoa sebagi pembantu rumnah tangga, kusir, sopir, pegawai kantor, opas, dsb.

Banyak di antara mereka yang merasa bangga dapat bekerja pada Pemerintah atau Kotapraja sebagai pegawai kantor, meskipun gajinya kurang dibandingkan dengan pegawai swasta. Banyak pula di antara mereka yang matapencariannya adalah binatu, tukang jahit, tukang sepatu, tukang kayu, kusir dari kendaraan sewaan, dsb. atau berkenalana di dalam kota dengan “warung” bergeraknya, sebagai penjual buah-buahan, ikan, dsb.

Mereka semuanya bermukim di dalam apa yang dinamakan “kampung”, yang terletak di antara hunian orang Eropa, tetApi tidak tampak dari luar.

 Orang Tionghoa.

Setelah orang pribumi, yang terbanyak adalah orang Tionghoa : di batavia terdapat kurang lebih 40.000 jiwa.

Mereka dapat dibandingkan diantara mereka dengan kaum “singkek”, yaitu yang berasal dari Tiongkok dan “peranakan” yang mempunyai darah pribumi mengalir di dalam tubuhnya dan pula lahir di sini dari dulu mereka bermukim berkelompok di suatu daerah tertentu yang dinamakan wijk (lingkungan) dan hanya pada pengecualian , mereka diizinkan untuk bermukim di bagian kota lainnya. Apa yang dinamakan “wijken=stelsel” ( sistim lingkungan), sejak tahun 1919 telah dihapuskan dengan Stbl. No. 180. dan sejak itu, bagi orang Tionghoa, bebas bermukim di mana saja sesuai yang mereka kehendaki.

Dalam tahun itu juga untuk mereka diberlakukan “catatan sipil” sedangkan bagi orang Tionghoa yang berpendidikan dan berada, tidaklah sulit untuk disamakan statusnya dengan orang Eropa. Namun banyak diantara mereka tetap merasa sakit hati karena , tidak secara “masal” disamakan statusnya seperti orang Jepang.

Orang-orang Tionghoa terutama adalah pedagang dan kecuali beberapa perusahaan perdagangan besar, mereka adalah pedagang perantara. Pada umumnya , perdagangan orang Eropa adalah perdagangan besar, dan perdagangan perantara oleh orang Tionghoa, seolah-olah melengkapinya.

Di anatara merkea banyak terdapat ahli-ahli suatu bidang pekerjaan dan kerajinan tertentu, seperti tukang pembuat perabotan, kerajinan rotan, tukang sepatu, dsb.dsb, sedangkan di kantor-kantor besar dan bank-bank juga banyak yang mendapatkan pekerjaan sebagai kasir dan sejenisnya.

Banyak juga yang menjadi pedagang keliling dengan bermacam-macam barang dan penjual daging babi yang sampai dimana-mana di dalam kota.

Karena rajin dan hemat, banyak di antara mereka menjadi kaya. Mereka bekerja dan berkutat sampai jauh malam dan jika semua sudah tenang, masih banyak terlihat orang-orang Tionghoa yang berkerja di bawah lampu minyak yang redup. Karena hal ini dan kebutuhan hidup mereka yang sangat sedikit maka persaingan mereke dalam bidang pertokoan dengan orang Eropa, semakin menjadi sulit untuk dipertahankan. Modal-modal Tionghoa yang besar, bisanya berasal dari perdagangan madat dan usaha pegadaian yang sekarang telah dihapuskan. Setelah ini maka jumlah modal yang besar-besar ditanamkan dalam usaha Pemerintah dalam bidang hutan jati dan paberik-paberik gula dan perdagangan besar gula.

Salah satu sifat yang baik dari penduduk kotapraja kita itu , adalah keramahatamahan dan kesopanan mereka, sedangkan mereka juga sangat mengutamakan sanak keluarga.. Pada waktu ini banyak di antara mereka yang mengirimkan anak laki-lakinya ke sekolah yang lebih tinggi dan juga untuk studi lanjutan mereka mengirmkannya ke negeri Belanda, karena itu waktu ini sudah ada sarjana hukum, dokter dan akuntan Tionghoa, yang menjalankan profesinya. Di antara generasi muda, bahasa Belanda dan Inggris sudah mereka kenal secara umum karena mereka tidak hanya mengikuti pendidikan Eropa, tetapi juga karena di sekolah-sekolah mereka sendiri, bahasa-bahasa itu diajarkan.

Mereka sangat terikat kepada adat istiadat nenek moyang mereka, terbukti yang dapat dilihat pada upaca perkawinan dan penguburan., meskipun dterutama dikalangan orang muda , pikiran moderen Barat sudah mulai banyak dilaksanakan.

Orang Arab.

Sebelum orang-orang Portugis dan Belanda, orang-orang Arab sudah berkunjung ke kepulauan nusantara ini, dan kemudian tinggal menetap sedangkan yang terutama datang sejak abad ke 17, adalah dari negeri Arab bagian Selatan(Hadramaut). Di tanah airnya terdapat empat golongan yang terpisah dengan ketat namun di Hindia Belanda, pemisahan golongan – golongan ini kurang tampak.

Meskipun demikian , mereka dari apa yang dinamakan golongan pertama atau kelas satu, yang dinamakan “Sayid”, yaitu keturunan dari Husein, cucu nabi, disini juga sangat dihormati oleh orang-orang “non Sayid”, terterihat pada acara cium tangan.

Yang termasuk ketiga golongan lain adalah yang disini dinamakan “Sjech” yaitu untuk membedakan dari yang dinamakan “Sayid”.

Pada mulanya sama dengan orang Tionghoa mereka berdiam di lingkungan tersendiri dan juga sesudah tahun 1919 diizinkan untuk bermukim di mana saja . Matapencarian mereka yang utama, sama dengan orang Tionghoa, ialah berdagang dan mereka juga merupakan mata rantai dagang antara perdagangan besar orang Eropa dan pribumi. Mereka berdagang kain mentah, dan teristimewa kain katun yang sudah dikelantang maupun tidak. Banyak diantara mereka adalah pemilik tanah yang luas dan membanguna gedung-gedung besar di atasnya sehingga tmereka mempunyai saham dalam turut mempercantik kota.

Sifat mereka yang kurang terpuji adalah meminjamkan uang dengan bunga yang sangat tinggi sebagai lintah darat. Karena mereka berasal dari tanah suci asal agama Islam, oleh penduduk asli mereka dihormati sebagaimana mestinya, namun jumlah mereka boleh dikatakan tidak terlalu banyak dan pengaruh dalam bidang ekonomi tidak begitu besar dibandingkan dengan orang-orang Tionghoa.

Orang Hindia = Inggris..

Orang-orang Hindia=Inggris di Batavia terutama diwakili oleh orang Bombay, Keling dan Sikh.

Golongan pertama kebanyakan berdagang dan khususnya kain sutera, kain-kain sangat halus, dsb. dan di Pasar Baroe terdapat banyak perusahaan mereka yang terutama berdagang barang-barang tersebut.

Orang-orang Keling terutama bermatapencarian sebagai tukang cukur dan potong rambut, sedangkan orang Sikh, yang biasanya adalah bekas tentara, mempunyai pekerjaan sebagai penjaga baik siang maupun malam di hotel-hotel besar, perkantoran dan juga perumahan swasta.