Beberapa fakta tentang nasi dan orang indonesia;
– Setiap kali ada kenaikan harga, mereka yang menikmati keuntunganadalah kurang dari 20% rumah tangga, karena yang 80% penduduk adalahpengkonsumsi sepenuhnya.



- Untuk menghasilkan 1 ton beras, diperlukan sekitar 19.000 liter air.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh amerika dan australia, air
yang digunakan untuk bertanam padi adalah pemborosan tertinggi secara
output GDP

- Ketimbang mengkonsumsi protein, kita juga sebenarnya termausk boros
memakan karbohidrat. Mungkin wajar karena kita membutuhkan banyak
tenaga otot ketimbang otak, karbohidrat memang fungsi utama nya
menghasilkan tenaga bagi tubuh. Tapi ada karbohidrat yang cepat
sekali diolah menjadi tenaga, juga ada karbohidrat yang lebih lama
diolah tubuh. nasi termasuk golongan karbohidrat yang cepat diolah
tubuh.

Tapi bila terlalu banyak memakan karbohidrat yang terlalu cepat
diolah tubuh jelas tidak baik. Ketika kita tidak lagi membutuhkan
tenaga otot melainkan tenaga pikiran, tenaga yang kadung terbentuk
segera diubah menjadi lemak. Selain menjadi tumpul dalam pikiran
(lamban dalam berpikir), kita juga jadi gampang mengalami kegemukan
(lamban dalam bertindak)

- Orang Indonesia rata-rata mengkonsumsi nasi sebanyak 136,5
kg/tahun —tertinggi di dunia. Orang Indonesia tanpa nasi dianggap
belum makan. Bahan makanan lain seperti protein, mineral, dan vitamin
jadi kurang asupannya. Nasi sentris, selain boros, juga membuat
postur tubuh rata-rata orang Indonesia lebih pendek dari bangsa lain
yang konsumsi proteinnya lebih tinggi.

- Ketergantungan kita yang luarbiasa pada nasi/beras, jelas membuat
kita menjadi lebih miskin (dengan asumsi porsi belanja menjadi lebih
boros). alternatif lainnya, kita harus menemukan jenis bahan makanan
yang lebih murah dan lebih baik komposisi gizinya, gandum misalnya.
Karena harga gandum perton sekitar $175 sementara harga beras sekitar
$550

- Kandungan energi nasi sekitar 97 kalori per 100 gr, sementara
energi roti sekitar 361 kalori/100 gr.
Kalau diasumsikan kebutuhan energi minimal adalah 2000 kalori, bila
dibelanjakan beras, akan menghabiskan konsumsi 2 liter beras (sekitar
10-12 ribu), sementara bila dibelanjakan gandum, hanya akan
menghabiskan sekitar 1200 rupiah(600gr).

- Betapapun gandum lebih ekonomis, komoditas seperti jagung,
singkong, sagu, kentang dan bahan pangan tradisional lainnya
sebetulnya lebih reasonable daripada memaksakan nasi diseluruh
penjuru tanah air, padahal hanya jawa (terutama jawa barat dan jawa
tengah) yang cocok ditanami padi (memperhitungkan ketersediaan air
dalam jumlah besar).

Jepang dan china sampai pada tahap ini cukup berhasil dalam
mendiversifikasi konsumsi pangannya, walau mereka berawal dari
kondisi yang sama seperti indonesia yaitu pengkonsumsi beras
sepenuhnya.

sementara indonesia saat ini sudah mulai memasuki situasi berbahaya,
karena ketergantungan luarbiasanya terhadap beras bisa mempengaruhi
kesinambungan pembangunan bangsa.

jangan jangan, indonesia benar benar menjadi miskin, lamban dan bodoh
karena nasi?


http://nofieiman.com/articles/beras-sebagai-sumber-kemiskinan/



burunhantu