Saat ini kalau kita lihat berita di TV banyak terjadi antri beras OP [operasi pasar] yang harga tertingginya Rp 3,700 saja.  Melihat antri beras seperti ini, kita jadi ingat keadaan 40 tahun yang lalu jaman Bung Karno, rakyat antri beras dimana-mana.

Memang sungguh ironis, kita sudah merdeka 60 tahun, telah mengalami jaman Orde Baru 32 tahun, telah mengalami Pelita 6 kali, namun rakyat masih antri beras.  Kondisi ekonomi rakyat saat ini sungguh memprihatinkan.  Ekonomi rakyat yang berjalan saat ini adalah hidup dari selisih harga.
 
Teman saya yang pedagang di Lombok mengatakan, minyak tanah yang harus dibungkus plastik, diecer kepada rakyat, beli satu literan, harganya separo [jauh lebih murah] padahal ada yang telepon minta satu tanki, bayar dimuka, cash, harga bagus [30% di atas harga eceran], untuk apa dibungkusin satu-satu?  tanyanya heran dengan manajemen pemerintah.  harga minyak tanah kok bisa begini? sambil geleng-geleng kepala.
 
Ada lagi yang punya POM bensin banyak di Lampung.  Saat ditanya, kok banyak banget POM bensinnya?  apa ada yang beli?  ya banyak, yang beli truk-truk kosong antri solar, satu tanki Colt Diesel penuh, terus mereka ke pabrik-pabrik, dikosongkan, balik lagi antri di POM bensin.  Satu rit [trayek] bisa dapat Rp 200,000 lebih menguntungkan daripada bawa cabe, bawa pisang dari Lampung.  Maka tak heran kalau transportasi di indonesia saat ini sungguh sibuk, sibuk antri solar di POM Bensin, mereka pikir, untuk apa bawa pisang, bawa sapi?.  Bawa solar [kosongan] saja sudah dapat untung.
 
Satu grosir beras ditangkap polisi karena menyelewengkan beras OP [operasi pasar] karena beras dari Bulog langsung dikirim 2 ton ke mobil pick up, rencana dikirim kepada tengkulak.  Saat ditanya wartawan, jawabnya:
 
"Tidak ada pembatasan, mau beli 5 KG, 10 KG berapa saja asal mau bayar dilayani"
"Termasuk beli 2 Ton?"
 
"Termasuk beli 2 Ton, tidak ada petunjuk pembatasan, asal bayar cash ke Bulog".
 
Jaman globalisasi, rakyat India sibuk kerja menangani call center [customer di USA malam hari dilayani dari India di siang hari], mereka sibuk bikin software, rakyat kita sibuk antri beras, antri minyak tanah.
 
Waktu memberikan seminar, saya pernah ditanya anak-anak remaja di kota kecil, betul di kota kecil. 
 
"Bapak, untuk apa belajar susah-susah? Bapak mau stick golf?  Mau coin emas? Mau jam tangan mewah?  Kita pesan saja online.  Bapak tahu carding gak? Kita biasa seminggu sekali beli stick golf, enak gratis kok"
 
Ohhhhhhalah, carding kok dijadikan mata pencaharian.  Saya heran ini Indonesia, yang dicita-citakan Bung Tomo, Bung Karno, Bung Hatta, Buya Hamka?
 
-end-