8 May 2005
DVD yang berisi movie memang menguntungkan untuk dinikmati. Kali ini saya menikmati sebuah movie yang berjudul The Pianist. Pemeran Utamanya adalah Adrien Brody, sebuah film yang dibuat oleh Roman Polansky Film berdasarkan buku yang ditulis oleh Wladyslaw Szpilman yang berbentuk otobiografi. Film ini mendapat penghargaan tinggi sebagai film terbaik di Festival Film di Cannes pada tahun 2002 dengan : The Winner of coveted Palme d’Or (Best Picture) award at the Cannes Fesrtival.

Alur ceritanya meliputi kehidupan sebuah keluarga ras Yahudi yang terdiri dari Ayah, Ibu dan Wladyslaw Szpilman seorang pemain Piano yang handal, beserta adik-adiknya Halina dan Hendryk. Adegan dimulai dengan permainan piano sang Pianist yang piawai memainkan lagu, yang sedang disiarkan melalui Radio Nasional Polandia di Warsawa. Hari itu, pada tahun 1939, invasi tentara Nazi Jerman telah meluas ke Negara-negara Eropa, telah mencapai dan memasuki kota Warsawa. Ketika dentuman pertama tedengar distudio, Wlady diberi isyarat oleh teknisi Radio Polandia agar memberhentikan permainan pianonya. Wlady tidak bersedia untuk menghentikan permainan pianonya karena mungkin mempunyai semangat : the show must go on. Para petugas Siaran Radio lari tunggang langgang, Wlady masih sempat menyelesaikan beberapa nada lagi, ketika sebuah bom meledak dan mengenai gedung dimana studio berada. Jendela serta isi studio hancur berkeping-keping.

Dengan sedikit luka didahinya dia berhasil pulang dan bertemu dengan keluarga ayahnya, dimana ibu dan adik-adiknya sedang sibuk menyiapkan barang-barang untuk dibawa mengungsi kebagian daerah lain yang mereka anggap aman.

Mula-mula Wlady menentang untuk mengungsi, dan berpendapat bahwa mengungsi atau tidak, kalau memang harus mati dia lebih memilih untuk mati saja dirumahnya sendiri. Tetapi nasib seluruh keluarga berubah dengan drastis ketika Tentara Nazi menunjukkan perangai yang teramat kejam dengan memaksa semua keluarga Yahudi untuk pindah kedalam sebuah zona tertentu didalam kota. Mereka diharuskan meninggalkan rumah serta harta bendanya yang lain, dan hanya diperbolehkan membawa barang sebanyak kurang dari 15 kilogram. Begitu aliran para manusia Yahudi ini mengisi zona yang ditentukan, maka segera dibangun tembok yang memisahkan zona tersebut dengan dunia luar. Keluarga ini berhasil mengumpulan uang mereka sejumlah 5000 satuan. Salah seorang adiknya, mengingatkan bahwa telah keluar pengumuman bahwa sebuah keluarga hanya boleh memiliki uang sebanyak 2000 satuan uang waktu itu. Maka mereka bertengkar bagaimana menyembunyikan sisanya sebesar 3000 lebih. Semua mengusulkan pikiran masing-masing sesuai dengan pemikiran mereka. Akhirnya ayahnya memilih untuk menyembunyikannya didalam biolanya.

Mulailah keluarga ini dengan kehidupan yang susah mendadak dan menurun menyebabkan kesengsaran dan nestapa. Kekurangan makanan membawa malapetaka dan perlakuan Tentara Nazi yang diluar batas-batas kemanusian dengan nyata digambarkan dibagian ini. Penindasan habis-habisan dari kekejaman manusia yang amat luar biasa yang saya kenali dari gambar-gambar didalam buku-buku The Second World War ( 10 jilid) milik ayah saya, dapat saya saksikan dalam bentuk yang bergerak didalam film ini.

Banyak adegan dimana sekelompok orang disuruh berbaris rapi lalu seorang opsir Tentara Nazi dengan tenang dan sikap arogan menentukan orang untuk keluar dari barisan dan disuruh telungkup. Semuanya menurut dan sang Opsir dengan tenang sekali menembak semua kepala yang tertelungkup tadi. Cukup dengan satu peluru untuk tiap kepala. Ketika peluru habis dengan tenang dia mengambil magazine pelurunya yang baru dan meneruskan menghabisi sisa yang masih hidup. Pengambilan magazine peluru ini diperlihatkan seakan-akan seperti layaknya mengambil sebuah rokok dari bungkusnya.

Rombongan manusia Yahudi ini diperlihatkan digiring kedalam kereta api. Ada seorang perempuan bertanya kepada seorang opsir: kemana mereka akan dibawa. Tanpa mengatakan sepatah katapun sang opsir menjawab dengan menembakkan sebuah peluru kedahi penanya. Perempuan tersebut langsung terjengkang dan tergeletak mati. Wlady sendiri diselamatkan oleh MacArthur, bukan sang Jenderal yang terkenal itu akan tetapi temannya yang menjadi antek Nazi Jerman, dengan mengeluarkannya dari rombongan mereka yang digiring. Pontang panting dia ingin masuk kembali dan ikut keluarganya yang didorong kedalam gerbong kereta seperti mendorong ternak saja. Usahanya sia-sia. Adegan berikutnya, memperlihatkan bagaimana ayahnya yang sedang berusaha mempertahankan biolanya tanpa hasil sedang keluarganya yang lain sudah masuk kedalam gerbong. Apa yang terjadi dengan nasib orang-orang yang dibawa naik kereta api ini, laki-laki, perempuan, tua, muda dan anak-anak, tidak diberitakan dan semua sirna tanpa bekas. Wlady mulai mengembara dan hidup terlunta-lunta seperti gelandangan sambil terus menerus memikirkan dan selalu bertindak untuk menyelamatkan diri dari penangkapan dan upaya penghapusan ras Yahudi oleh Tentara Nazi.

Upaya genocide (pemusnahan dengan jalan membunuh sekelompok manusia atau bangsa) ini, dilakukan dengan konsisten dan terus menerus. Sukar bagi akal sehat bahwa manusia Jerman bisa sekejam itu. Saya mengenal selama ini bahwa Negara Jerman dipenuhi dengan ilmuwan hebat, musisi dan komposer lagu-lagu klasik hebat dan para intelektual yang berbudaya tinggi. Dengan munculnya kekuasaan seorang Adolf Hittler, sebuah bangsa seperti Jerman dapat dibuat seperti robot-robot yang mengikuti idealisme serta perintah gila yang timbul dari otaknya.

Sukar bagi saya untuk menerima bahwa sejarah bangsa Jerman dapat sekelam dan sekejam itu. Dari penduduk Yahudi di Warsawa pada 31 Oktober 1939 yang meliputi sekitar 360 ribu jiwa, tinggal sekitar 60.000 jiwa saja pada tanggal 16 Agustus 1942.

Dengan pertolongan temannya yang dulunya seorang pemain cello dan sekarang telah bersuamikan seorang simpatisan akan nasib orang Yahudi, Wlady ditolong dari waktu kewaktu. Sering dia tidak makan sampai berhari-hari lamanya, tidak mengkonsumsi makanan atau air, meskipun dia disembunyikan didalam apartemen bagus. Apalagi dia tidak boleh mengeluarkan suara karena dia harus memberi kesan bahwa apartemen itu kosong penghuninya. Karena dia harus sendirian dan tidak boleh membuat suara apapun, ada adegan yang menampilkan dia membunyikan piano dengan jari yang sama sekali tidak menyentuh piano tetapi diperdengarkan suara Piano denga sempurna dan lengkap. Sungguh adegan yang mengharukan. Demikian berlangsung kehidupan sengsaranya sampai pada suatu saat di tahun 1943. Dari jendela kamarnya dia dapat menyaksikan lebih banyak korban yang dirawat di Rumah Sakit diseberang jalan. Korban kebanyakan anggota tentara Nazi yang sedang menghadapi serbuan Tentara Rusia yang makin mendekat.

Dia sedang mengais-ngais makanan dari dalam kamarnya akan tetapi tidak dapat menemukan remah-remah makanan yang layak dapat dimakan. Tubuhnya lemah dan lunglai sehingga ketika dia meraih papan yang biasanya tempat menyimpan makanan, malah dia memecahkan barang pecah belah dan membuat suara gaduh. Tetangganya yang sadar bahwa suara gaduh membuktikan adanya penghuni, berteriak minta dibukakan pintu atau dia memanggil Polisi. Wlady keluar dari persembunyiannya dan menghadapi seorang perempuan yang galak dan dapat mengenalinya sebagai seorang Yahudi dan berteriak-teriak minta pertolongan agar si Yahudi yang satu ini ditangkap. Akan tetapi Wlady berhasil melarikan diri ke bagian kota lain yang sudah merupakan puing-puing karena sudah hancur dan tidak berpenghuni.

Didalam puing-puing ini dia hidup dari sisa makanan yang cuma sedikit dan mungkin sudah basi, sehingga pada suatu saat dia menemukan sebuah kaleng makanan. Karena tidak dapat menemukan alat pembuka kaleng maka dia menggunakan sepotong besi pengungkit arang yang berujung runcing dan sepotong besi lain untuk pemukul, untuk membuat lubang. Setelah berkali-kali memukul dan dan hampir berhasil, kaleng tadi terlempar dan jatuh menggelinding dilanta, berguling-guling. Kaleng berdenti berguling didekat sepasang kaki bersepatu lars milik seorang opsir Jerman berpangkat Kapten. Berdetak hatinya dan tentu saja ketakutan. Sang Kapten mengajukan pertanyaan dengan suara halus dan sama saekali tidak membentaknya. Kamu siapa, apakah kamu tinggal digedung ini dan karena Wlady diam saja, dia melanjutkan bertanya; “ Verstehen Sie mir?” (mengertikah anda apa kata saya?). Dengan menggunakan kata Sie maka sang Kapten sudah menunjukkan bahwa dia memilih kata yang lebih hormat dari pada kamu. Sie dapat diterjemahkan dengan anda, sedang kata kamu atau engkau digunakan kata du.

Wlady menjawab dengan mengangguk, dan ketika dia ditanya apa kerjanya, jawabnya: saya adalah …eh … dulu adalah seorang pianist.

Tanpa berkata sang Kapten mengajak Wlady untuk beranjak ke sebuah bilik. Kapten masuk belakangan dan mempersilakan Wlady untuk memainkan piano. Oleh karena telah beberapa tahun lamanya tangannya hanya digunakan untuk bekerja kasar maka jari-jarinya kaku dan dia agak ketakutan. Akan tetapi setelah dia memijit beberapa kali beralunlah sebuah lagu klassik lengkap dan lancar serta indah permainannya.

Selesai ”performance” kecil dan pribadi ini, sang Kapten bertanya apa dia bersembunyi didalam gedung ini dan apakah dia seorang Yahudi? Kedua pertanyaan dijawab dengan ya. Dimana kamu bersembunyi?, dia jawab di attic (langit-langit gedung). Katanya selanjutnya: “ Tunjukkan kepada saya.” Mereka bergerak menuju ketempat persembunyian dibagian atas gedung, dan sang Kapten sebelum meninggalkan gedung, bertanya sekali lagi: apa anda mempunyai makanan, Wlady hanya menunjukkan kaleng yang tadi sudah tumpah kuahnya karena berguling-guling. Kapten pergi tanpa sepatah katapun lagi dan melangkah kemobilnya dengan gagah.

Beberpa hari kemudian Wlady yang telah ditumbuhi jenggot dan kumis lebat, terbangun dari tidurnya dengan lemah karena mendengar suara hiruk pikuk didalam gedung. Satu pasukan Tentara Jerman telah memasuki gedung dan bermarkas didalamnya. Adegan berikut masuklah seorang opsir Tentara Nazi dan semua memberi hormat kepadanya. Ternyata sang komandan ini adalah Kapten yang telah dikenalnya. Kamar kerjanya adalah kamar yang tidak jauh dari tangga yang menuju ke tempat persembunyian Wlady di attic. Dan ketika ada peluang baik sang Kapten yang komandan ini naik dan menemui Wlady dan memberinya sebuah bungkusan. Isinya dibuka dan terlihatlah sebuah roti besar dan selai yang cukup banyak.

Kelihatan Wlady mengambil selai dengan telunjuknya dan menjilat dan menikmatinya.

Pada waktu tentara Rusia sudah maju dan mendekat serta menekan Tentara Nazi untuk mundur, sebelum mundur, Kapten menasihati Wlady agar sabar menanti beberapa hari lagi sampai Tentara Rusia datang. Kapten pergi berlalu sambil meninggalkan mantel opsirnya untuk dipakai oleh Wlady yang kelihatan compang camping dan kedinginan, mengatakan aku masih memiliki satu lagi yang lain dan langsung lenyap meninggalkannya.

Tentara Rusia muncul bersama penduduk sipil berderet memasuki kota yang penuh dengan puing. Melihat ini Wlady dengan emosional menghambur menemui sepasang laki-laki dan perempuan dan memeluk silaki-laki. Akan tetapi si perempuan berteriak teriak: Orang Jerman!, he is a German !! Seorang tentara menembak dan nyaris mengenainya, akan teteapi dia dapat berlari dan berlindung didalam gedung. Ditembaki dan dikepung oleh beberapa orang bersenjata, diberondong dengan senapan otomatis, Wlady berteriak-teriak I am Polish, I am Polish, aku orang Polandia. Terdengar suara menghardik: “Keluar dan angkat tanganmu”, maka keluarlah Waldy yang memang terlihat agak lucu, seorang yang berjenggot dan berkumis lebat seperti orang gelandangan dan seperti orang gila, tetapi mengenakan mantel milik seorang opsir Tentara Nazi Jerman. Berjalan tertatih-tatih mengangkat tangan dan berkata dalam bahasa Polandia: saya adalah orang Polandia. Orang bersenjata yang mengepungnya ada yang mengerti dan mengatakan kepada yang lain, iya dia memang orang Polandia. Selamatlah Wladyslaw Szpilman, sang Pianist.

Berikutnya diperlihatkan adegan konsernya yang kelihatan agung dan akbar diiringi oleh The Warsaw Philharmonic National Orchestra of Poland.

Dari sekian banyak lagu-lagu yang diperdengarkan diseluruh film ini yang patut dicatat dan amat asyik dinikmati adalah Nocturne in C Minor Posthumous, Grande Polonaise, Op. 22 – Allegro Molto dan tidak lupa Ballad in G Minor, Op 23 karangan Frederic Chopin.

Juga amat nikmat mendengarkan karangan Ludwig Von Beethoven : Sonata No. 14 in C Minor Op. 2712 “Monoscheinsonate”.

Komponis Jerman tak terhitung jumlahnya. Tetapi sejarah telah mencatat bahwa diantara manusia kejam yang ada dimuka bumi ini telah memasukkan pemerintahan dan barisan tentara Nazi Jerman kedalam kategori ini. Hanya adegan perkenalan dan saling menghargai antara Wladyslaw Szpilman dan Sang Kapten (yang kemudian sekali baru diketahui nama aslinya sebagai Kapten Wilm Hosendfeld), merupakan adegan yang menghibur dan sebagai adegan penyeimbang dari segala adegan kekjaman dengan adegan manusia Jerman yang very very human. Tidak ada yang absolute didunia ini: ada yang buruk diantara yang jelek dan sebaliknya ada yang jelek diantara yang baik-baik.