Saya mengenal piano sejak umur sebelas tahunan mulai dengan cuma pegang pegang saja, lama-lama saya pencet dan bunyi. Kemudian keluar nada-nada dan beberapa hari kemudian saya bisa memencet nada-nada yang akhirnya membentuk bagian dari sebuah lagu. Sekarang saya tidak ingat lagu apa itu karena sudah lebih dari limapuluh tahun yang lalu. Rupanya waktu itu kesukaan saya terhadap piano, menarik perhatian besar ayah saya, yang pada waktu itu menjabat Walikota Surabaya (1950 s/d 1952). Akhirnya dipanggilkanlah untuk saya seorang guru piano.Datanglah mevrouw (nyonya) Schaap, seorang wanita Belanda berbadan pendek seperti orang Indonesia pada umumnya, tetapi tangan kanannya mempunyai cacat sedikit, yakni jari manisnya kurang satu ruas, sehingga gerakan jarinya diatas toets piano agak aneh. Biarpun demikian dia bisa menekan toets sejauh satu oktaaf meskipun sebenarnya jari-jarinya tidak mendukung untuk melakukannya. Yang jelas dia bisa memperdengarkan suara dua nada bawah dan atas sepanjang satu oktaaf. Jarinya agak cacat dan suara yang dihasilkannya superb, sempurna. Ketika pindah ke Jakarta guru piano saya terpaksa digantikan oleh seorang laki-laki, Belanda juga, laki-laki guaalakk. Saya diharuskan menaruh uang logam dibalik tangan saya kalau main piano dan uang logam itu tidak boleh jatuh. Kalau jatuh dia akan berteriak sambil menyebut nama Jesoes (Belanda untuk nabi Isa).

Kalau dia tidak berteriak dalam bahasanya, dia akan memukul tangan saya dengan penggaris. Saya diajar dia cuma tahan tiga bulan lamanya. Itulah sekedar riwayat mula-mula saya belajar main alat musik ini.

Sejak saat itu saya menyukai lagu-lagu klasik Barat dan saya mulai mendengarkan orchestra-orchestra melalui siaran radio dan putaran piringan hitam.

Waktu saya belajar di Sekolah Menengah Atas saya menyaksikan sebuah film yang mengisahkan riwayat Eddy Duchin [saya tonton sepuluh kali], pianist yang hidup di Amerika Serikat. Pemeran Eddie Duchin adalah Tyrone Power dan peran kekasihnya adalah Kim Novak. Lagu-lagunya adalah lagu klasik yang dimainkan secara pop. Gaya dialah yang saya sukai, klasik tetapi pop, dan yang sering saya mainkan adalah yang berjudul To Love Again – yang lagu aslinya adalah karangan Friederich Chopin : Nocturne opus 9 No. 2. Didalam film ini ditayangkan permainan duo dengan anak kecil pengungsi perang Phillipino dan juga ada dia mainkan dengan dua piano secara bersama-sama.

Tahun 1962 sewaktu saya belajar di Jepang, saya pernah pergi mendengarkan Mantovani Orchestra di Nagoya, Jepang. Saya menikmati rasa senang luar biasa, karena saat itulah saya pertama kali melihat orchestra (45 orang pemain musiknya) dan dipimpin orang setenar Mantovani yang amat terkenal diseluruh dunia pada sekitar akhir 1950 an dan awal 1960 an.

Pada tanggal 25 Juli 2006, saya menyaksikan pertunjukan colossal permainan piano secara bersama-sama sebanyak sepuluh buah piano. Penyelenggaranya adalah Toyich International Projects yang mementaskan acara yang disebut dengan Toronto Gala Monster Concert, bertempat di Nathan Phillips Square didepan City Hall, Toronto, Canada. Tempat ini hanya sebuah Plaza terbuka dan sebuah panggung. Pemimpin dari segala kegiatan ini adalah seorang wanita kulit putih bernama Boyanna Toyich.

Yang lain dari yang lain adalah Concert ini dibangun dengan menggunakan alat musik Piano seluruhnya, tanpa alat musik lain dan dengan pemain piano sebanyak dua puluh orang.

Ini berarti satu piano dimainkan oleh dua orang pianist. Keunikan seperti ini belum pernah saya menemui sebelumnya kecuali pada saat concert kali ini. Saya tidak tahu apakah yang seperti ini sudah sering, akan tetapi bagi saya adalah hal yang pertama kali.

Meskipun dimulai pada pukul 19.30 malam, dan saya sudah berada ditempat pada pukul 18.40, akan tetapi matahari msih terang benderang dan sudutnya masih sekitar tiga puluh derajat. Tempat duduk saya agak kekanan pandangan mata, disamping panggung tepat memandang ke matahari yang hampir tenggelam itu. Pada waktu concert siap dimulai saya perhatikan bahwa matahari telah terhalang oleh sebuah gedung tinggi, sehingga saya dapat melepas kacamata hitam saya. Tempat yang pada waktu saya datang masih terisi sekitar empat puluh persen, tiba-tiba terasa penuh, meskipun tidak berdesak-desak. Saya duduk dengan leluasa, disebelah kiri saya perempuan tua, orang Canada – yang Prancis, karena dia bicara bahasa itu dan berumur sekitar tujuh puluh lima tahunan dengan kacamata tebal seperti pantat botol. Sebelah kanan juga seperti dia tuanya, berbahasa apa saya kurang bisa menangkapnya, seperti Itali. Sengaja saya menghindari tegur sapa sehingga dapat konsentrasi mendengarkan musik, tidak bercakap-cakap.

Kenapa saya lakukan hal ini karena saya selalu ingat kejadian di Jepang, ketika saya mengajak seorang teman saya yang sama-sama menggemari lagu klasik, saya mengatakan “Iki ni mimasyoo”, dahinya berkerenyit manandakan tidak setuju. Saya tanya apakah ada yang salah kata-kata saya. Dia menjawab: “Iya, seharusnya anda mengatakan iki ni kikimasyoo”. Setelah saya mengerti masalahnya, dengan meminta maaf saya perbaiki bahasa saya. Kata-kata saya mengajaknya pergi itu dalam bahasa Indonesia persisnya, ayo kita pergi melihat konser. Setelah dibetulkan maka bahasanya berbunyi: ayo kita pergi mendengarkan konser. Nah terasa kan bagaimana sensitivenya bahasa Jepang dengan pengertian kita dalam bahasa Indonesia?

Memang dalam berbahasa orang Indonesia perlu belajar lebih banyak agar pergaulan menjadi lebih nyaman. Secara bahasa, bahasa Indonesia sudah cukup memiliki dan mempunyai kata-kata yang mendukung pergaulan internasional, tetapi penggunaannya kurang di-elaborasi.

Tata caranya kurang dianjurkan untuk dipergunakan.

Orang Indonesia ternyata terlalu tinggi hati bila saatnya harus bertindak andap asor (merendah) karena meminta sesuatu dan apalagi punya sifat agak pelit menyatakan terimakasih.

Saya sudah pernah juga menyaksikan pertunjukan yang diramaikan oleh Twilite orchestra yang dipimpin oleh Adie M.S. Saya tidak mempunyai complain apapun terhadap Sdr. Adie M.S. besama orchestranya. Kelihatan oleh saya bahwa pimpinan sdr. Adie ini perfect dan mulus. Yang saya tengarai mengecewakan adalah justru publik yang menontonnya. Karena lagu klasik sering berhenti sejenak dan belum selesai satu lagu, maka penonton diharapkan untuk mengerti kalau belum waktunya bertepuk tangan. Tetapi banyak orang kecélé, masalahnya karena tidak mengerti tetapi bukan bodoh, sering sekali bertepuk tangan sebelum waktunya. Jadi mengapa saya tulis tadi dengan kata: pertunjukan, karena jenis musik orchestra lagu klasik sdr. Adie M.S. tadi tidak dihadiri oleh penonton yang sesuai seperti diharapkan.

Jam menunjukkan pukul 19.30 dan diatas panggung meskipun langit tetap terang benderang, mulai sibuk para pianist menempatkan diri diposisinya masing-masing.

Ternyata masih ada basa dan basinya yang memakan waktu sekitar 20 menit berupa pidato kepada sponsor, kepada fasilitator dan sebagainya. Saya pikir ini kok seperti acara di Indonesia, tetapi setelah saya dengarkan lebih cermat lagi, saya kira mereka memang perlu mengadakannya karena upaya rombongan Ibu Boyana Toyich ini adalah amal dan tidak mencari untung sama sekali.

Dia memang perlu menerangkan bahwa barang siapa menyumbangkan sebesar 20 Dollar Kanada atau lebih maka akan mendapat bukti pembebasan pajak secara tertulis dan bisa diperhitungkan dengan pembayaran pajak seseorang atau badan. Biarpun tidak kelihatan, dengan cara pembebasan pajak seperti itu berarti Pemerintah Kanada ikut mensponsori acara seperti ini, acara kesenian yang merupakan makanan rohani rakyatnya. Makanan rohani jelas sekali perlu untuk kesehatan jiwa.

Ibu Boyanna Toyich dalam pidatonya membahas bagaimana jerih payahnya telah membuahkan hasil dari pemerintah local maupun internasional selama bertahun-tahun sebelumnya. Diantara sponsor utamanya kali ini adalah Robert Lowrey’s Piano Experts, BMO Financial Group, Faculty of Music – Unversity of Toronto, The Royal Conservatory of Music dan sebagainya. Nama Lowrey bukan nama asing di Indonesia karena produk-produknya juga dijual di Indonesia sejak lama.

Dari dua puluh dua nama pianist yang tertera dalam brochure program yang saya terima, saya tengarai ada tujuh nama yang menunjukkan asal usul siempunya nama, yaitu adalah mereka yang berasal dari Asia Oriental. Hal ini menarik sekali buat saya karena diantara mayoritas kulit putih ada yang berkulit hitam entah dari mana saya kurang jelas. Tetapi keberadaan yang tujuh orang tadi tidak bisa tidak kelihatan mencolok di panggung. Hal ini adalah hal yang tidak terlalu mengejutkan kalau kita ingat bahwa para pendatang yang ada di kota Toronto sebagian besar (lebih dari lima puluh persen) adalah orang Asia Oriental dan banyak diantara mereka yang kelihatannya memang terlahir di Canada.

Nah, sekitar pukul 19.50 dimulailah concert dan mereka mainkan lagu pertamanya Night in the Tropics karangan Gottschalk dan lagu keduanya Overture to Semiramide karangan Rossini. Kedua lagu pertama ini dipimpin langsung sebagai conductor oleh Ibu Boyanna Toyich.

Lagu ketiga adalah lagu yang teramat masyhur karangan Franz Liszt berjudul Hungarian Rhapsody No. 2 diarransir dan di conduct oleh bekas murid Ibu Boyanna Toyich yang bernama Vincent Cheng. Kaki saya ikut menghentak-hentak lantai dan ikut mengayunkan tangan sesuai dengan panjang pendeknya iramanya yang dramatis. Sungguh ini amat melegakan, dan timbul perasaan yang indah, amat sulit digambarkan dengan kata-kata. Vincent Cheng yang mukanya serious dan kelihatan tegang, menunjukkan sedikit senyuman pada waktu para hadirin memberikan applause agak lama sambil berdiri.

Hebat juga seorang Asia, tetapi mungkin dia ini warganegara Canada, dapat menunjukkan kebolehannya dalam kegiatan kesenian Barat bertempat didunia Barat.

Pada malam ini keseniannya bersifat internasional dan para pemain dan penontonnya juga internasional.

Suasana dan bunyi-bunyian yang dihasilkan oleh hanya satu jenis alat musik, piano, apalagi sepuluh buah dan denting-dentingnya berharmoni dengan indahnya, sungguh amat memikat. Denting piano tidak sama dengan suara biola yang digesek atau mandoline yang dipetik, biarpun ketiga alat musik semuanya adalah dawai. Memang ketiga dawai ini berlainan dari cara membunyikannya, yaitu: dawai piano: dipukul, dawai biola: digesek dan dawai mandoline : dipetik. Akan tetapi alat musik sebelum era digital kata orang, piano adalah alat yang paling mendekati sempurna.

Pada lagu keempat tidak kalah termasyhurnya karangan CHARLES FRANÇOIS GOUNOD berjudul Faust (Valse), iramanya mengalun-alun mesra dan menghanyutkan.

Lagu kelima adalah Symphony Nomor 40 (1st movement) karangan Wolfgang Amadeus Mozart.

Kedua lagu ini kembali diconduct oleh Ibu Boyanna Toyich yang penuh dengan semangat tinggi menyelesaikannya dengan tepuk tangan dan jangan lupa teriakan. Ibu tua yang disebelah saya ikut mengeluarkan seruan yang cukup keras dan seru juga.

Malam sudah mendekati pukul 21.00 dan saya yang tadinya merasa khawatir hujan akan turun, menengadah kelangit, kelihatan awan berarak kearah Selatan menuju ke danau Ontario, dan kelihatannya bagian ramalan cuaca yang biasanya akurat mengenai cuaca kali ini akan salah sama sekali, dan itu baik untuk acara ini.

Yang merupakan lagu keenam adalah kumpulan dari tiga lagu-lagu Rakyat Canada yang khusus di buat untuk 10 piano. Kumpulan tiga lagu ini ditulis untuk Toyich International Projects Monster Concert Pianists 2004 dan di conduct oleh Erika Yost. Diterangkan sebelumnya bahwa salah satu lagu ini adalah menggambarkan cinta kasih seorang wanita yang hangat dalam menyambut kedatangan manusia baru (lahirnya sang bayi) didaerah Nunavut.

Nunavut adalah sebuah propinsi yang paling Utara dan yang terbaru di Canada. Saya membayangkan kumpulan lagu ini seperti lagu-lagu pulau-pulau di Nusantara. Bersemangat, lembut dan menggelora.

Dua lagu diantra lagu yang sisa adalah lagu karangan Gioacchino Antonio Rossini, seorang Itali yang lahir pada abad ke 17 dan menspesialisasikan dirinya kedalam kelompok pengarang lagu yang khusus mengenai opera. Dan sebagai lagu yang ketujuh dalam acara ini, Gioacchino Antonio Rossini diberi waktu menggambarkan karyanya dalam opera Il Barbiere di Siviglia atau The Barber of Seville dan di lagu ke sembilan adalah legenda terkenal Guillaume Tell atau William Tell.

Lagu ke delapan Danse Macabre, yang menggambarkan suasana seperti film horror lengkap dengan tarian oleh tengkorak.

Tiga lagu ini mengakhiri acara keseluruhan malam ini yang membawa tepuk tangan penonton tiada putusnya. Karena standing ovation seperti inilah maka diberikan satu enchore (lagu ekstra karena appresiasi yang besar) dengan hidangan istimewa yang akbar. Ternyata untuk enchore ini telah disiapkan tiga puluh orang pianists yang memainkannya bersama-sama dengan menggunakan piano yang hanya sepuluh buah tersebut. Satu piano untuk tiga pianists. Pada hal waktu pembukaan acara tadi disebut kan motto yang juga tercamtum dalam websitenya berbunyi:

 TEN PIANOS

            TWENTY PIANISTS

                  TWO HUNDRED FINGERS

                   I N U N I S O N

Saya pulang dengan hati riang dan bersenandung didalam hati, tidak didengar oleh siapapun, kecuali oleh batin saya sendiri. Memang sungguh saya menghargai perjuangan para musisi kita sejak lama. Nama-nama yang lekat dengan masalah ini adalah : Sjamsoel Bachri, sang Pemimpin Orkes Radio Republik Indonesia dan Iskandar (ayah dari Diah Iskandar) juga, dilengkapi dengan seorang kriikus musik J.A. Dungga, yang sering mengkritik dengan tajam. Dalam seni suara saya mengenal baik penyanyi, yang teman sekolah serta berboncengan sepeda: Onny Soerjono. Pranajaya almarhum yang sama-sama belajar di Jepang (1959) dan sudah menyandang Juara Pertama Seriosa Indonesia, belajar selama beberapa tahun di sebuah konservatorium. Pada beberapa minggu setelah kedatangan rombongan pelajar dan para trainee di Tokyo, “pangkat sebagai juara Seriosa Indonesia” Pranajaya diketahui oleh para mahasiswa Takushoku Daigaku (University). Pada suatu kesempatan dia didaulat untuk menyanyi dan entah karena apa, karena saya belum lama berkenalan dengan dia, kok dia minta saya mengiringinya di piano. Padahal saya tidak main dan tidak memberiahukan siapapun dalam rombongan bahwa saya bisa memainkannya. Setelah selesai dua lagu Indonesia Tanah Pusaka (?) dan Sakura, tepuk tangan hadirin sekitar empat ratus orang membahana.

Saya harapkan semoga saudara Adie M.S dan lain-lainnya para musisi tetap dapat berjaya sampai usia lanjut.