Selasa, 13 September 2005 Saya ingin mengutip lengkap berita Reuters yang dimuat di koran The Jakarta Post pada hari ini di halaman 11 bagian bawah, dengan judul : Don't kiss my hand, Saudi king tells citizens. Isi lengkap saya kutip seperti berikut ini.  Saudi Arabia's King Abdullah has ordered citizens not to kiss his hand, saying the traditional gesture of respect is degrading and violates Islam, Saudi newspapers reported on Sunday.Kissing hands is alien to our values and morals, and is not expected by free and noble souls, Abdullah told a delegation from Al-Baha, in southwest Saudi Arabia, who came to the royal palace to offer congratulations on his accession. It also leads to bowing, which is a violation of God’s law. The faithful bow to no one but God”. Abdullah became king on Aug. 1 after the death of King Fahd. Thousands of Saudis flocked to pledge allegiance to him in the days that followed , many kissing him on the shoulder or stooping to kiss his hand in a sign of respect and loyalty.

 

But the king who has a reputation for modesty in a family better known for opulence and power, said only a father and mother deserved such deference.

“I announce my complete rejection of this matter, and I ask everyone to restrain from kissing the hands of anyone but their parents,” the monarch said.

Saya terjemahkan secara “bebas” dengan upaya maximum agar dapat menerangkan maksud utamanya dengan jelas.

Judul: Jangan mencium tanganku,

kata Raja Saudi kepada  warganya.

Isi berita: Raja baru dari Saudi Arabia, Raja Abdullah telah memerintahkan kepada warganya agar tidak mencium tangannya, sambil mengatakan bahwa sikap tradisional yang menunjukkan rasa hormat seperti itu adalah merendahkan dan melanggar Islam, koran-koran Saudi melaporkan pada hari Minggu (tanggal 11 September 2005 – penulis).

“Mencium tangan adalah bertentangan dan melanggar nilai dan moral, dan tidak dapat diterima oleh jiwa yang merdeka dan mulia”. Raja Abdullah mengatakan kepada sebuah delegasi dari Al-Baha, yang terletak di barat daya Saudi Arabia, yang datang ke istana kerajaan untuk menyampaikan ucapan selamat atas kenaikan tahtanya. “Ini juga menyebabkan orang membongkokkan badannya dan menyembah, yang merupakan pelanggaran atas Perintah Tuhan. Sembah sujud yang menunjukkan kesetiaan tidak boleh dilakukan kepada siapapun selain kepada Tuhan.

Abdullah menjadi raja pada tanggal 1 Agustus setelah wafatnya raja Fahd. Beribu-ribu orang Saudi berdesak-desak untuk berikrar setia kepadanya pada hari-hari berikutnya, banyak diantaranya yang mencium bahunya atau membungkukkan badan untuk mencium tangannya sebagai ungkapan rasa hormat dan kesetiaan mereka.

Akan tetapi sang raja, yang terkenal karena kesederhanaannya dalam keluarga yang kaya raya dan besar kekuasaannya, berkata bahwasanya hanya ayah dan ibu kandung sajalah yang patut menerima penghargaan seperti itu.

“Saya umumkan penolakan saya yang menyeluruh mengenai hal ini, dan saya minta kepada setiap orang agar menghentikan mencium tangan siapapun kecuali orang tua kandungnya”, kata sang raja.

Saya selalu ingat sikap hormat sdr. Taufik Kiemas yang selalu mencium tangan Gus Dur dan sambil membongkokkan badannya, baik pada masa maupun sesudah masa Gus Dur menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia.

Pengamatan lebih teliti menunjukkan bahwa hal ini sudah biasa dilakukan oleh Wong Pelembang, dari mana sdr. Taufik Kiemas ini berasal. Wong Pelembang? Ah, bukan cuma mereka saja. Orang Sundapun malah juga sudah biasa. Demikian juga dari daerah-daerah lain di hampir seluruh Indonesia. Pada generasi anak-anak saya tidak ada yang mencium tangan saya, dan saya juga tidak membiarkan mereka menyembah sungkem saya dan istri saya pada waktu Lebaran. Akan tetapi pada generasi berikut, yakni cucu-cucu saya, saya tidak dapat menolaknya, karena mereka tidak saja melakukan hal ini secara sekelompok sendiri, tetapi sudah dilakukan juga oleh kawan-kawan disekolah dan dikampung mereka. Jadi apa mau dikata? Cucu-cucu saya mempunyai orang tua sendiri dan meskipun mereka adalah anak-anak saya, saya tidak ikut campur!! Istri saya telah bersetuju dengan saya untuk memberikan kesempatan kepada anak-anak kami untuk memperoleh rasa hormat, respect, dari anak-anak mereka yang nota bene adalah cucu-cucu kita sendiri. Saya tidak akan memaksa mereka untuk merubah kebiasaan yang telah mereka pupuk sendiri, mereka kembangkan sendiri. Saya bersikap begini karena memenuhi kesepakatan saya dengan istri tersebut. Kami berdua tidak akan menyuruh cucu kami untuk minum obat sakit perut merek tertentu, kalau orang tua mereka hanya membolehkan cucu-cucu kami untuk minum obat lain. Sekolah? Kami tidak ikut campur kalau mereka memasukkan cucu-cucu kami kesekolah Negeri atau sekolah agama atau sekolah global yang mata pelajarannya diberikan dalam bahasa Inggris. Benar-benar kami tidak ikut campur!! Semua ini demi menjaga kewibawaan orang tuanya. Sekarang para cucu ini kalau bertemu dengan kami selalu mengambil tangan kami dan *menciumnya*. Saya sebut menciumnya dalam tanda kutip karena mereka tidak mencium dengan bibir mereka akan tetapi dengan manaruh tangan kita dipipinya. Pokoknya saya tidak akan menyuruh mereka mengubahnya karena yang saya harapkan adalah agar mereka hanya akan membaca tulisan saya ini pada suatu saat nanti, dan mengambil keputusan sendiri mengenai hal ini.

Bagi saya apa yang dikatakan oleh Raja Abdullah (artinya pengabdi dalam bahasa Arab – penulis) adalah tidak terbantahkan. Entah bagi orang lain.

Lain agama dan lain pula adat. Siapa dapat membuktikan bahwa adat lebih tua dari agama? Lalu kalau memang terlebih dahulu ada didunia ini, apakah menjamin bahwa yang terlebih dahulu itu selalu yang benar? Dalam masalah ini saya tidak ingin membuat agama dan adat menjadi bertentangan. Akan tetapi adat dan agama sebaiknya dipisahkan karena kalau dicampur sering menjadi campuran yang tidak sedap. Apa kata agama? Badan dan nyawa kalau berpisah, yang berarti mati, yang dapat didoakan adalah hanya nyawanya atau ruhnya atau jiwanya, bukan badannya. Badan bisa hancur “dimakan” tanah, akan tetapi nyawa tidak!! Tetapi ada sekelompok manusia yang membalsem badan yang tidak bernyawa, seperti telah dilakukan oleh orang Mesir purba dan beberapa suku bangsa Indonesia yang “memuja”, “memuliakan”, “menganggap keramat” kuburan dan jasad atau badan wadag. Itu terserah masing-masing kelompok. Sebagai kesekuensi menjadi warga negara Republik Indonesia, saya harus tetap menghormati kebiasaan dan menghormati kelakuan kelompok yang tidak sama dengan cara dan norma saya. Bagaimana cara saya menghormati? Ya, itu: tidak ikut campur!! Tidak ikut campur urusan diluar rumah tangga saya dan tidak ikut campur rumah tangga anak kandung saya sendiripun. Cara ini saya tempuh karena saya sayang kepada mereka, bukan memusuhi mereka. Mereka adalah kesatuan yang terjadi karena mereka telah saling memilih satu dengan yang lainnya dengan kehati-hatian sebelumnya. Banyak teman sebaya saya yang tidak sependapat dengan apa yang saya lakukan. Akan tetapi ada juga yang berkata: seorang ibu disuruh menjadi baby sitter anak dari anaknya (maksudnya cucunya – penulis) ? No way!! Disuruh mengemong cucunya sementara anaknya pergi bekerja? Tidak usah, ya?!? Yang begini coooocok buat saya!! Seorang berusia lanjut juga perlu menjaga kondisi badannya sendiri sebaik-baiknya, tidak memikirkan orang lain terlebih dahulu. Mencintai diri sendiri bukanlah berarti berdosa. Itu hak seseorang!!

Bhineka Tunggal Ika, Unity in Diversity.

Saya juga mempercayai bahwa demokrasi harus dimulai dari dalam rumah tangga sendiri, itulah sebabnya mengapa saya biarkan, bahkan saya amat senang sekali, bila cucu-cucu saya memanggil saya hanya dengan: Anwari saja, meskipun tidak disetujui oleh orang lain, termasuk oleh anak saya sendiri.

Apa yang dilakukan oleh Raja Abdullah adalah sebuah terobosan besar, hampir seperti sebuah revolusi dan berani. Beliau adalah seorang raja di Saudi Arabia yang rendah hati dan sepatutnya beliau disimak dengan penuh perhatian apabila melontarkan sesuatu mengenai kaidah Islam. Janganlah sampai terjadi pada suatu saat nanti saya menjumpai seorang ustadz Indonesia yang maunya lain, sehingga lebih Arab dari orang Arab, bahkan lebih Arab dari rajanya orang Arab. Bukankah biasanya memang begitu?? Kalau sudah dihadapan Illahi kita ini hanyalah sebuah nyawa, sebuah ruh atau sekedar sebuah bagian dari ciptaan Sang Pencipta yang pernah disebut sebagai: manusia. Tidak ada nyawa wong Jowo, wong Pelembang, orang Batak, orang Manado atau apapun. Hanya sebuah ruh !!! Period