Yoh-Asakura@kaskus.us Selama ini, penderitaan rakyat sudah tak tertahankan lagi, seolah-olah kita berada di tengah banjir selama 2 tahun, atau berada pada suasana berkabung ansional. Mengapa ini bisa terjadi pada kita?

(foto oleh: Yoh-Asakura@kaskus.us )



beberapa alasan dapat kita beberkan, misalnya bencana
alam, bayangkan segala macam bencana sudah terjadi,
waktu kita bulan 28 Desember 2004, kita pikir itu
terjadi di Sri Lanka, ternyata di Aceh. Ujung
propinsi kita, lalu tiba-tiba terjadi gempa di pusat
kekuasaan Jawa, kita tersentak, bencana terjadi di
beranda kita, lalu terjadi lagi tsunami di
pangandaran, kita mulai gamang, benarkah ini kutukan?
terakhir bencana terjadi di rumah kita masing-masing
di Jakarta.

Kita sudah tidak bisa mengatakan apa-apa karena
komputer sudah absah, mesin cuci sudah mengapung,
kompor sudah hanyut, kita memasak tunggu bantuan dapur
umum.

Kita bisa saja terus menyalahkan alam, padahal alam
tidak pernah menyerang kita, namanya air, kalau ada
jalannya pasti lewat jalan itu, namun kalau tidak ada
jalannya, yah air kemana-mana. itu saja.

Satu hal yang menjadi refleksi kita, adalah kita
selama ini salah memperlakukan pemimpin kita.

Dengan adanya Reformasi, perubahan Undang Undang
Dasar, otonomi daerah, maka sesungguhnya kekuasaan
berada di tangan rakyat. Masalahnya mengapa kekuasaan
itu kita barter hanya dengan sebuah amplop serangan
fajar? atau hanya sebatas sepeda motor bagi RT/RW
saja?

Mengapa kita menukar banjir, yang kita terima,
hilangnya semua perabot rumah kita, hanya dengan
sebuah amplop pada saat Pilkada?

Sudah waktunya kita sadar, bahw akekuasaan rakyat itu
sungguh besar artinya, kalau tidak maka selamanya kita
akan percaya, bahwa semua itu diatur oleh pemegang
senjata.

Ada tiga macam kekuatan politik Indonesia,

a. kekuatan money politics
b. kekuatan senjata
c. kekuatan massa

Kita harus sadar, bahwa sesungguhnya, tanpa kekuatan
massa, tanpa kekuatan kita, maka politik tidak akan
berdaya. Oleh karena itu, kita harus bisa
memperlakukan dengan baik para pemimpin kita.

Jangan lagi mengewer-ewer mereka. Gus Dur itu adalah
kemurnian hati kita, teladan kita, jangan lagi
diolok-olok apalagi oleh anak cucu bangsa sendiri.
Megawati itu anaknya pendiri negara kita.

Mereka adalah mantan Presiden kita, mantan junjungan
kita, janganlah kita mengolok-olok mereka, karena
mereka juga pilihan kita, sama dengan SBY.

Kebiasaan mengolok-olok pemimpin kita, akan membuat
kita sendiri celaka, kita tidak berhati-hati dalam
membarter kekuasaan yang kita pegang, akhirnya
dihargai senilai amplop serangan fajar saja, atau
ditakut-takuti untuk ditembak,

Ujung-ujungnya kita juga mati, menunggu lowongan
kerja, mati menunggu PHK, mati menunggu kapan bisa
bebas dari kontakan rumah, mati kehilangan kesabaran.

Jangan mengolok-olok pemimpin kita, kalau kita secara
bersama-sama konsekwen berdiri atas kesadaran pilihan
kita, apa yang tidak bisa diperbuat oleh pilihan 60
juta pemilih Indonesia?

Bila tidak, maka kita ini hanya maju mundur saja,
hanya dengan memproduksi Kepres banyak-banyak tanpa
ada kelanjutannya.

salam,
GG