Tag

 Pagi ini Zus Els Tahsin, istri mendiang Suraedi Tahsin, menilpun kami: Bung Sobron pagi ini meninggal dunia, katanya dengan suara sedih. INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI RAJI 'UN –
SEMOGA ARWAHNYA DITERIMA DI SISI TUHAN Y.M.E.
Sobron meninggal sesudah menderita serangan jantung dan pembuluh darah
dua hari yang lalu. Ia meninggal di rumah sakit di Paris, salah satu
rumah sakit yang baik. Keluarganya, dua orang putri, Wita dan Nita
beserta cucu-cucu dan manantu syukur sempat menengok ayah, kakek,
mertua beberapa saat sebelum Sobron Aidit meninggalkan kita untuk
selama-lamanya.

Kesedihan besar yang menimpa keluarga Sobron Aidit juga dirasakan oleh
para handai taulan di Paris, Amsterdam, Stockholm, Berlin, dan di
tanah air tercinta Indonesia. Tak lain harapan kita semua keluarga
yang ditinggalkan Sobron tabah adanya menghadapi musibah ini.

Sobron Aidit, adalah sahabat karibku, seorang kawan yang kukenal
puluhan tahun lamanya. Oragnya peramah, gembira, optimis dan penuh
dengan energi (entah dari mana energi itu, mengingat umumnya yang
sudah di atas tujuh puluh). Boleh dikatakan, setiap hari Sobron
menulis. Apakah itu cerpen, apa yang berjudul 'cerita-cerita santai',
'kolom saya', dan lain-lain judul yang hidup dan jenaka. Menulis,
itulah 'hidup' nya Sobron Aidit. Tulisannya sering yang santai-santai,
yan biasa-biasa saja, ditulis dengan gaya yang hidup, lugu apa
adanya, menceriterakan kehidupan sehari-hari dari orang Paris, dari
orang Amsterdam, dari keluarganya, dari anaknya, Nita, Wita dan
cucu-cucu yang semuanya sangat dekat dihatinya. Tidak itu saja, Sobron
juga berceritera tentang keadaan rakyat kita yang masih hidup serba
kekurangan.

Sobron juga berceritera tentang penderitaan para korban Peristiwa 1965
yang hingga kini masih didiskrisminasi, dimearginalisasi dan di
'paria'kan oleh penguasa dan para pendukungnya. Sobron aktif
memperjuangkan agar para korban pelanggaran HAM tsb direhabilitasi
nama baik dan hak-hak mereka sebagai warganegara yang mencintai tanah
air dan Republik Indonesia. Sobron pandai melukiskan penderitaan para
korban Peristiwa 1965 Pelanggaran HAM Orba, karena ia sendiri adalah
salah seorang dari korban pelanggaran HAM rezim Orba, sebagaima halnya
keluarganya, teristimewa abangnya Ahmad.

Membaca tulisan-tulisan Sobron, orang bisa tahu bahwa meskipun
jasadnya tinggal di Paris, sebagai warganegara Perancis, tetapi
semangat dan jiwanya tetap Indonesia, yang teramat cinta pada tanah
air dan bangsa. Puluhan tahun berkelana di luarnegeri akibat persekusi
Orba, tidak sedikitpun melunturkan jiwa patriotik Sobron.

Sobron Aidit telah tiada. Tetapi kenang-kenangan indah akan tetap pada
kita semua: Sobron Aidit sebagai kawan, yang hangat, dengan siapa kita
bisa bersenda gurau, tetapi juga bisa dengan serius membicarakan nasib
bangsa dan tanah air, hari depan Indonesia.

Semangat dan energiknya Sobron Aidit menulis, —– sesuatu yang
pasti ada gunanya bagi generasi muda, merupakan suri teladan yang tak
akan terlupakan sepanjang masa.