Ada seorang ibu yang sedang sakit untuk waktu yang cukup lama. Umurnya telah mencapai 72 tahun. Penyakitnya sudah bermacam jenis, susah mengikuti sejarah penyakitnya. Keadaan finansialnya tidak terlalu baik, memang masih bisa kedokter atau dirawat beberapa hari di Rumah sakit, ada mobil dan rumah nyaman dan pembantu serta perawat dirumah. Uang tunai memang tidak berlebihan tetapi pun tidak kekurangan yang amat sangat. Karena sesuatu hal yang saya kurang mengetahui dengan tepat, saya dengar sang ibu ini pernah marah dan mengeluarkan kata-kata sebagai berikut kepada anak perempuannya yang kedua. Kata-katanya adalah seperti tersebut: “Aku bukan pegawaimu akan tetapi aku adalah ibumu”. Saya terperanjat mendengar kisah tersebut dan kaget karena menurut pengetahuan selama ini, sang ibu adalah seorang ibu yang amat pendiam, jarang berkata-kata. Apalagi pada waktu mengatakan kalimat tersebut diatas sang Ibu masih dalam keadaan sakit yang agak payah. Saya tidak akan menelaah sebab sang ibu sampai mengeluarkan kata-kata seperti itu. Semua yakin ada api maka ada asap. Kalau seorang ibu sampai mengingatkan seorang anak seperti itu, hampir pasti si anaklah yang agak keterlaluan.

Saya telah menceritakan hal ini kepada lebih dari tiga orang setelah saya mendengar kisah diatas. Dari pada saya mengulanginya untuk kesekian kalinya maka saya tuangkan segera dalam bentuk tertulis. Saya sering bertemu ibu tersebut dan demikian juga saya kenal dengan anaknya yang dimaksudkan.

Ada kisah lain yang menyangkut teman baik saya, waktu saya melayat pada hari kematian ibunya. Sang anak yang teman baik saya itu, adalah seorang yang sukses dalam karirnya sehingga pada hari tua ibunya tersebut segala keperluan hidup layak untuk ibunya hampir seluruhnya dapat dipenuhinya.

Rumah besar didaerah elite dan uang deposito di bank yang cukup besar jumlahnya, sehingga ibunya dapat menggaji dua orang perawat dirumah, seorang pengurus rumah tangga dan sopir serta mobil kelas satu. Pergi kemanapun dengan sebuah pasukan kecil dan bukan hanya pergi didalam kota saja, akan tetapi juga pergi keluar kota. Cucu-cucunya yang sekian banyak sudah menjadi orang semuanya malah ada yang telah menjadi dokter. Sang anak sendiri umurnya sebaya dengan saya akan tetapi dia masih belum merasa memberikan yang cukup kepada ibunya. Pada suasana duka itu dia menceritakan lagi cerita yang telah saya pernah dengar pada waktu saya dengan dia hanya berdua saja. Kali ini dia bercerita didepan teman-teman lainnya. Jadi ditelinga saya hal itu sungguh amat meyakinkan. Ceritanya: dia sering minta agar ibunya mau memceritakan apa yang masih kurang pada dirinya dimata ibunya. Untuk mengetahui kekurangannya itu dia bersedia menerima kalau memang salah dan berjanji akan memperbaikinya dengan secepatnya dan semampunya. Ibunya selalu menjawab tidak ada kekurangan sesuatupun lagi. Teman saya masih gelisah dan tetap menanyakan kepada ibunya lagi setelah itu. Jawaban sang ibu tetap saja: tidak ada lagi. Saya berpendapat bahwa ibunya sungguh bijaksana. Suatu saat ibunya sakit yang agak keras, sang anak bertanya kembali dan mendapat jawaban yang sama. Karena itu sang anak mengerjakan hal tersebut berikut ini. Dia sediakan air bersih dan dia basuh kaki ibunya dan setelah mengucapkan doa, air bekas cucian kaki ibunya itu pun dia minum dan teguk sepuasnya. Katanya dia merasa lega dan lapang dadanya. Saya juga mempunyai rasa sayang kepada ibu saya tetapi saya belum pernah mengerjakan seperti yang dikerjakan oleh teman saya tadi. Buat saya itu sesuatu yang luar biasa. Apalagi ini semua adalah sesuatu yang amat bertentangan dengan kisah yang mula-mula tadi.

Akan saya katakan kepada semua anak saya, berkaca kepada kedua hal tersebut diatas, jagalah rumah tanggamu agar tidak mengalami sesuatu sehingga kamu terpaksa mengeluarkan kata-kata seperti ibu yang pertama diatas kepada salah satu cucuku.

Kalau itu terjadi maka itu layak disebut sebagai suatu tragedi, bukan hanya terhadap rumah tangga anak saya saja, tetapi juga terhadap rumahku secara tidak langsung. Ini saya katakan bahwa saya hanya dapat memberi toleransi sampai tingkat kakek nenek – cucu saja batasnya. Kepada cucu pun saya membatasi kepada yang orang tua langsungnya, yang nota bene adalah anak dan menantu saya apabila mereka tidak kuasa menangani dan menghadapinya sendiri secara langsung.

Saya ingat pepatah Indonesia terkenal:

Kasih ibu sepanjang jalan

kasih anak sepenggalan tangan

Sekarang saya ingin mengajak teman-teman saya yang sebaya marilah kita menyiapkan diri menghadapi takdir. Takdir baik maupun jelek sekali harus dengan lapang dada kita terima dan kita sikapi dengan ikhlas. Kalau secara nyata tiba-tiba datang nasib jelek menimpa kita, maka secepatnya siapkanlah diri menerimanya. Melawan nasib jelek berarti tidak dapat mengimbangi takdir. Kalau anakmu tiba-tiba minta warisan karena memiliki sifat malas bekerja, padahal engkau masih hidup, terimalah hal tersebut dengan lapang dada. Kita boleh meniru orang Jawa kalau sedang kehilangan akal: Gusti Allah ora sare artinya Tuhan tidak tidur. Orang Jawa memang melankolis, selalu minta belas kasihan Yang maha Kuasa karena merasa sudah tidak berdaya. Gusti Allah ora sare, Orang Jawa teruskan bergumam berkali-kali. Memang garis hidup kita itu panjang, saya saja sudah enam puluh delapan tahun. Beberapa kali saya mengalami nasib jelek dan beberapa kali saya berputus asa dan memohon kasihan dari Yang Maha Kuasa. Tetapi itu semua cuma amplitudo waktu yang kecil saja. Sudah sering dan saya juga pada akhirnya akan mengatakan Gusti Allah ora sare.