Banjir yang sedang berlangsung di Jakarta dan sekitarnya telah melumpuhkan kegiatan masyarakat belakangan ini. Hampir 60% wilayah Jakarta digenangi air. Pro-kontra tentang penyebab kebanjiran terdengar seperti kaset rusak yang selalu di-ulang2 setiap kali ada bencana serupa.



Ada satu fenomena yang sering kulihat pasca bencana seperti banjir ini, yaitu
munculnya posko-posko bantuan dimana-mana sebagai reaksi solidaritas kepedulian
sosial. Posko2 bantuan yang umum, langsung membuat dapur umum, misalnya.
Membantu evakuasi korban, membagi bahan makanan dan lain-lain. Namun, fenomena
yang kumaksud adalah munculnya posko ‘sumbangan’ yang langsung turun ke jalan,
ke perempatan lampu merah yang strategis atau jalan yang macet, biasanya dengan
modal kardus indomie (yang lebih bonafid ada judul dikertas HVS yang diprint
rapi dan ditempel di kardus). Yang melakukan kegiatan pengumpulan sumbangan ini
biasanya (1) atas nama korban, (2) atas nama mahasiswa/i universitas tertentu
atau (3) atas nama kelompok / partai tertentu. Biasanya, pelaku lapangan
dilengkapi dengan jaket/seragam almamater atau kelompok/partai.

Sekilas terkesan betapa hebatnya kegiatan tersebut, karena langsung turun ke
lapangan, mengumpulkan sumbangan untuk para korban bencana. Kadang2 sampai
hujan-hujanan.

“Lihat dong, gw mahasiswa/i dari universitas Anu yang bergengsi sampai turun ke
jalan (down to earth) sebagai bentuk solidaritas sosial”

“Kami dari Partai Otong, ikut aktif mengumpulkan dana untuk korban bencana”

Celakanya, sering kegiatan ini berbarengan dengan para pengemis yang beroperasi
di jalan yang sama, bedanya pengemis ini menggunakan tangan kosong, kaleng atau
gelas plastik bekas air mineral.

Dalam beberapa hari ini, pemandangan ini muncul kembali. Di salah satu ruas tol
dalam kota Ancol menuju Grogol yang macet karena banjir, misalnya, terdapat
sekelompok pemuda yang mengatas namakan korban. Di wilayah Jakarta Selatan, aku
telah melihat 2 partai utama yang menggelar kegiatan serupa. Mahasiswa/i aku
belum ketemu, tetapin dari pengalaman beberapa kali bencana alam, kelompok
mahasiswa ini lebih banyak.

Setiap kali saya lihat fenomena ini, hati nurani saya terusik. Ada yang tidak
benar atau ga pas dengan kegiatan ini, karena secara kasat mata aku koq lihatnya
tidak enak dipandang.

Aku coba pilah-pilah point2 apa saja yang menurutku ga beres, dapat 3:
1. Bantuan untuk korban bencana tidak melulu harus berupa duit, bisa berupa
bentuk lain seperti menjadi tenaga sukarela, dll. Untuk kasus banjir saat ini,
yang nota bene masih banyak korban yang terjebak, evakuasi korban jauh lebih
penting.
2. Katakanlah, memang diperlukan pengumpulan sumbangan dana untuk para korban,
cara yang ditempuh dengan meminta sumbangan di tepi jalan, koq tidak tidak
sepadan dengan jaket /seragam partai yang dipakainya. Apakah tidak ada kegiatan
lain yang lebih baik dalam mengumpulkan dana, yang mungkin lebih sesuai dengan
jaket/seragam yang disandangnya, selain cara minta-minta seperti pengemis? Aku
ingat jaman mahasiswa dulu, hampir setiap kegiatan biasanya kami hanya mendapat
dana yang sedikit dari Pudek III, sisanya harus diusahakan sendiri oleh panitia
melalui berbagai cara, seperti membuat stand bazar, iklan di buku katalog, dan
lain2. Aku pernah melihat sebuah poster dari sebuah SMA yang melakukan acara
musik dan bazar, yang keuntungannya untuk charity.
3. Cara2 pengumpulan sumbangan dengan kardus indomie tidak jelas
pertanggung-jawaban publiknya. Bagaimana penggunaan dananya? Apakah ada laporan
pertanggung jawaban?

Aku pikir, ini merupakan miniatur dari suatu sistem yang lebih besar yang
berlaku. Dalam prakteknya, para penguasa republik ini mungkin sudah menerapkan
cara-cara seperti para pengumpul sumbangan dengan kardus indomie. Bedanya
mungkin di jaket dan kotak yang dipergunakan. Kita sudah sangat sulit membedakan
mana yang etis atau tidak? Mana yang pantas atau tidak? Mana yang boleh atau
tidak? Seperti yang digagas oleh Kang Babat, hal2 yang tidak etis, pada level
kelompok tertentu bisa menjadi suatu kebanggaan.

Salam,
Wiro