Tag

 My dear Upi, ternyata kamu masih rajin ngintipin Apa Kabar sambil ngumpet di balik pohon yang-lioe, ya? Setelah menjalani “peryakinan” bertahun-tahun di puncak Thiansan…eh, puncak Alpen, mestinya kamu sudah betul-betul bisa jadi liehiap kosen yang berani ber-pibu di tengah gegeran dunia sungai dan telaga ini! Ha-ha-ha!Nah, kali ini aku OOT, mudah-mudahan nggak dijitak yang punya thread. Ocehanku
kali ini bukan tentang “The Queen”, atau “Golden Flower”. Bukan tentang Di
Caprio, atau Pitt.

It’s definitely great to hear from a long lost friend! Bagaimana kabarmu?
Bagaimana musim dingin di Perancis? Indahkah? Membosankankah? Putihkah?
Kelabukah? Kamu tahu aku berada di mana kalau kukatakan saat ini aku dikelilingi
udara Siulo-Im-Satkang tingkat ke-9 yang berasa seperti minus 15 derajat
Farenheit! Padahal temperatur yang sebenarnya “hanyalah” sekitar nol derajat
Farenheit saja! Ya, putiiiih di mana-mana. Di pohon-pohon depan rumah banyak
bergelantungan stalaktit yang lucu-lucu, sisa-sisa lumeran es kemarin yang
sempat mencair terkena sinar matahari, tapi tidak bisa menetes ke bawah karena
terlanjur membeku lagi! Hari Minggu yang sepi banget, tidak ada tanda-tanda
kehidupan sama sekali di luar rumah. Jalanan sepi. Tupai-tupai yang biasanya
rajin lari-lari ke sana-sini aja nggak ada satu pun yang muncul!

Kalau saja aku nggak bisa ketawa-ketiwi ngakak baca berbagai imel yang lucu di
Apa Kabar (terutama guyonan tentang burung beo dan pak haji-nya Wiro Sableng),
hari Minggu ini bakal jadi hari yang membosankan banget! Rasanya aku bisa
depresi berat, terutama karena beberapa hari yang lalu aku masih bisa mengulapi
wajahku dengan kehangatan tropikal kota Bandung sambil makan enak di warungnya
Mak Uneh! Hiiiih…. saat itu aku betul-betul “terpaksa” membuka pantangan
membunuh! Yang terhidang di depanku betul-betul sakti: babat goreng, limpa
goreng, otak-otak goreng, udang bakar yang buesar-besar, cumi bakar, pepes ikan,
lidah goreng, berbagai lalapan segar, kangkung-masak-nggak-tahu-apa tapi
luezaaat banget, plus aneka sambel termasuk sambel mangga yang rasanya super
cihuiiii! Serasa menenggak air kata-kata, aku tak hentinya mengucurkan aneka
minuman es, termasuk es duren ke dalam perutku yang terkaget-kaget! Wah, hasil
penderitaanku bertahun-tahun lewat treadmill, yoga, pilate, sauna, strength
machines, sepeda, de-el-el, rasanya lenyap dalam sekejap! Habis makan puas,
rasanya pengin nangis sekaligus ketawa! Aku merasa jadi hewan bersel tunggal
yang enggak punya otak sama sekali! Cuma mengikuti nafsu yang membabi-buta. Tapi
toh, habis itu kakiku masih melenggang lagi ke siomay dan batagor Kingsley yang
letaknya dekat es bungsu yang terkenal di seantero Bandung itu! Besoknya setelah
menghabiskan sekotak batagor dan siomay yang uenaaak tenan, aku terpaksa
keliling-keliling kota nyari segala diapet, imodium, dan saudara-saudaranya
untuk menenangkan perutku yang bergolak! Ha-ha-ha! Dasar ngragas!

Tapi ternyata bukan cuma di Bandung aku jadi “monster”! Aku juga “bunuh diri” di
Malang – makan sop kambing super lezat, ditambah pecel, ditambah rambak petis,
digelontor sama dawet legi, trus menggeroti duren-duren di pinggir jalan di
daerah Batu. Di Semarang, aku mengibaskan pedangku di restoran tepi pantai,
Kampung Laut, dan restoran puncak bukit, Mutiara, di mana aku bisa memandang ke
seantero kota Semarang sampai ke laut! Makanannya, toooop! Masih “kegatelan”,
dalam perjalanan pulang aku sempat nyamber lumpia goreng, bandeng bungkus telor,
bandeng masak otak-otak, dan aneka wingko babat! Di Solo, aku ndelosor di
emperan jalan, makan nasi liwet Mbok Lemu dalam pincuk daun pisang, diangeti
dengan wedang ronde dan wedang kacang. Masih belum puas, di toko roti Orion aku
menumpuk kue lapis Mandarijn yang empuk-empuk lezuut itu! Di Bali, aku
gentayangan di pinggir pantai (yang indah tapi sepi) sambil menyantap aneka sea
food bakar. Di Jakarta, nggak bisa ngomong lagi, aku mengerahkan lwekang-ku ke
sana ke mari, menggoyang lidah tiada henti!!! Minjem istilahnya Bondan (dia
muncul setiap hari di TV dalam acara tamasya kulinernya), semuanya….mak
nyuuuuuuus!!!!

Sekarang kembali ke laptop….eh, ke thread.

Karena sibuk membuka pantangan membunuh dan menggendutkan diri, aku belum sempat
menyimaki berbagai film-film baru. Cuma sempat nonton The Departed dan Little
Miss Sunshine. Dua-duanya bagus ditonton. Tapi seperti yang kutulis sebelumnya,
The Departed agak bloody walaupun Di Caprio main bagus di situ. Mengikuti saran
Mas Elceem, kapan-kapan aku akan cari Internal Affairs yang dipakai sebagai
sumber idenya The Departed, karena tertarik mengamati aliran budaya Barat ke
Timur dan Timur ke Barat ini.

Bicara mengenai sentuhan dan aliran, berbagai aliran itu memang terjadi di
mana-mana, dalam segala dimensi. Sekarang kita tidak bisa melihat perkembangan
apa pun sebagai suatu kotak eksklusif yang berdiri sendiri. Tidak di bisnis,
tidak di budaya, tidak di agama, tidak di kebijakan negara, apalagi tidak di
perjalanan sejarah bangsa Indonesia ataupun sejarah dunia secara (meminjam
istilahnya Kang Babat) agregat!

Pengamatan perjalananku tentang “kotak” Indonesia ini adalah: painful, tapi
hopeful. Kelihatan jelek, tapi tidak sejelek yang kubayangkan semula. Bau busuk
masih menyebar, tapi lamat-lamat tetap ada perbaikan. Dan yang terpenting,
confidence mulai merebak di sana-sini. Ada hope. Pada akhirnya, fanatisme tidak
akan pernah memenangkan apa-apa di Indonesia. Kotak Indonesia tidak bisa berdiri
sendiri secara eksklusif dalam dunia yang serba berubah dan saling mengaliri
ini. Tentang ini aku punya daftar pengamatan di Indonesia yang bisa kuceritain
jadi satu surat tersendiri! Termasuk bagaimana aku keranjingan Tukul Arwana dan
apakah Extravaganza di Trans TV bisa mempertahankan ratingnya! Tapi nanti aja
ya, Upi! Ini kan masih thread-nya Golden Flowers dan The Queen! Aku udah OOT
banget nih!

– Laksmi