"Masih belum lengkap sebuah aktifitas kalau tak ada perempuan, dan tak segar dipandang….serasa gersang………” begitu sebuah dialog beberapa bapak-bapak yang akan melakukan sebuah seminar bergengsi di suatu kantor birokrasi…..“ Kita masukkan aja mbak A sebagai receptionist dan pembagi makalah karena dia sangat good looking sehingga tamu-tamu kita dari perusahaan lain tidak merasa kegersangan memasuki rapat kita” kata sebuah tutur seorang bussinesman yang berhasil di gedung bertingkat di kawasan perkantoran elite di sebuah kota…. “hei……perjalanan kita ke lapangan nich rasanya menyegarkan, karena kita tidak bersama-sama ibu-ibu….kalau sama-sama mereka….wah…..kita nggak bisa cuci mata nglihat ayam kampung nich…..khan kita udah jenuh melihat perempuan di kota , sehingga kita perlu melihat suasana yang berbeda, ayam kampung yang masih lugu” sebuah canda dari para surveyor yang akan terjun ke lapangan untuk beberapa pekan…..candaan tersebut rupanya di sahuti oleh rekannya “ iya nich……bini gue lagi ngambek tuch udah beberapa minggu….jadi kebetulan kalau kita ke lapangan nich”…..

Rupanya perempuanpun dijadikan sebuah alasan untuk menarik minat sebuah aktifitas seminar bergengsi atau rapat bussiness yang membutuhkan penyelenggaraan yang rapih. Dan penggunaan perempuanpun hanya sekedar sebagai pelengkap agar tak ada suasana gersang, karena dianggapnya perempuan adalah penyegar suatu rapat atau seminar yang nantinya akan di dominasi oleh suara kaum laki-laki.

Acarapun diselenggarakan, dan sang receptionist dengan senyuman yang begitu ramah menunjukkan buku tamu agar sang tamu tidak salah atau kelewatan menulis nama serta alamat, dan dengan senyum yang manis pula memberikan bahan rapat kepada para tamu yang sebagian besar hadir “silahkan pak mengisi buku tamu……dan ini bahan rapatnya”……Kadang-kadang terjadi dialog kecil diantara mereka…..

Pernah saya lakukan pertanyaan-pertanyaan yang ringan dan penuh canda kepada penerima tamu di suatu rapat yang bergengsi “gimana??? Senang ya kerja disini….?? dan tidak berat lagi”…..Dan jawaban santai pun keluar dari mereka…”iya mbak…..daripada ikut seminar di dalamnya juga sangat melelahkan ….dan lagian kita khan nggak ngerti tuch….paling-paling juga hasilnya cuman buat bapak-bapak Dirjen serta yang terlibat di dalamnya….kita santai aja disini….ngapain lagi susah-susah ikutan”.

Dari ini kita bisa melihat bahwa:

1. Pemberdayaan perempuan itu masih belum menyentuh ke seluruh lapisan dan terutama lapisan yang tampak di depan mata, misalnya yang duduk di Birokrasi, perusahaan, atau perkantoran lainnya. Dan untuk melakukan pemberdayaan tersebut rupanya system yang ada di kita belum menunjang, sehingga pemberian pekerjaan tidak tepat tempat dan tidak tepat manusia itu masih sering terjadi.

2. Pemberian tugas atau tanggung jawab kepada perempuan pun hanya sebatas karena dia “seorang perempuan” yang masih menarik. Bukan karena dia sebagai manusia yang bisa dibebani oleh pekerjaan yang bertanggungjawab. Kalaupun di berikan yang agak lebih berat maka alasan yang timbul adalah “ah…dia khan perempuan….tahu apa sich”, atau “Anda khan punya keluarga, jadi anda tak perlu pegang hal yang lebih berat” atau “ Perempuan itu tak perlu jadi Pimpro, khan sudah ada suami dan tak punya kewajiban menafjkahi keluarga. Kalau laki-laki lain….dia harus bertanggung jawab kepada anak dan keluarga, oleh karena itu dia harus mendapat uang tambahan”…..

3. Atau malah dari pihak perempuannya sendiri yang tidak mau memberdayakan diri sendiri, sehingga “imaje” di kalangan pekerja laki-laki (entah teman sekantor atau boss-nya) bahwa perempuan itu sukanya belanja walaupun di jam-jam kantor.

4. Masih terjadinya suatu konotasi yang “mesum” bagi kalangan tertentu bahwa perempuan bisa dijadikan pelarian kala laki-laki itu tidak mendapatkan kepuasan atau membutuhkan suasana yang berbeda dari kehidupannya sehari-hari.

Dari beberapa contoh kasus di atas hendaknya kita mulai berbenah diri (baik system maupun perilaku) dengan menempatkan kolega kita yang perempuan sesuai dengan kemampuannya. Kemampuan dia sebagai “manusia yang punya kemampuan” bukan karena hanya dia sebagai “perempuan”, apalagi penilaian atas “kemampuan karena keperempuanannya” itu hanya bersifat sementara sebatas kulit masih kencang.

Dan alangkah manisnya kalau kita juga saling memperingatkan rekan kita perempuan lainnya untuk lebih berpotensi diri sehingga penghargaan yang di dapat juga bukan hanya karena senyum yang manis, tapi karena kemampuan yang lebih bersifat abadi.

Di akhir tulisan ini saya juga sangat mendukung gerakan “Anti kekerasan Terhadap perempuan Yang masih berlangsung di Bumi Kita Tercinta ini”. Dan saya juga mengucapkan “Selamat Berjuang” bagi mbak-mbak yang saat ini melakukan demo damai serta advokasi di segala lini.

Peace,

Erna
manisnya kalau kita juga saling memperingatkan rekan kita perempuan lainnya untuk lebih berpotensi diri sehingga penghargaan yang di dapat juga bukan hanya karena senyum yang manis, tapi karena kemampuan yang lebih bersifat abadi. Di akhir tulisan ini saya juga sangat mendukung gerakan “Anti kekerasan Terhadap perempuan Yang masih berlangsung di Bumi Kita Tercinta ini”. Dan saya juga mengucapkan “Selamat Berjuang” bagi mbak-mbak yang saat ini melakukan demo damai serta advokasi di segala lini.

Peace, Erna