Seperti diberitakan beberapa media di Indonesia, pada puncak ibadah haji Jumat 29 Desember 2006 itu, sekitar 4 juta jemaah dari berbagai ras, bangsa, warna kulit, dan bahasa berkumpul untuk melaksanakan wukuf di Arafah Jumat, 29 Desember 2006 itu.
Termasuk hampir 190.000 jemaah haji Indonesia, yang di saat-saat yang
paling istemewa tersebut gementaran karena kedinginan dan rasa lapar,
bukan karena berpuasa di Arafah merupakan ibadah wajib atau Sunnah,
tetapi karena sekitar 30 jam-an tidak mendapat pasokan makanan dan
minuman yang layak, menyusul kegagalan Ana for Development (AFD) yang
mulai musim haji tahun ini ditunjuk Panitia Penyelenggara Haji Indonesia
(PPHI) sebagai pemasok katering seluruh jemaah haji Indonesia, yang
sebelumnya dilaksanakan oleh muasasah satu bulan sebelum Hari-H, dalam
melaksanakan kewajibannya.

Kebijakan yang pada dasarnya baik, tetapi dilaksanakan secara gegabah
dan salah kaprah.

Tidak sedikit di antara jemaah tersebut yang sudah uzur, sakit dan
sakit-sakitan atau kurang sehat dan letih.

Mereka ini sudah tidak mendapat sejak Jumat pagi itu, terus di malam
harinya ketika mereka mabit: tidur di alam terbuka di Muzdalifah menahan
lapar dan dingin diselimuti cuaca Arab Saudi bulan Desember yang
mencapai 10 derajat Celcius, dan angin bersiur kencang sepanjang hari,
dan berlanjut keesokannya pada pelemparan jamarat hari pertama di Mina.

Seperti dilaporkan Majalah TEMPO pekan lalu, makanan yang dibagikan para
dermawan Saudi dan jemaah negara lain pun jadi rebutan para jemaah.
Pahit, jengkel, sedih, marah, malu campur aduk di kalangan jemaah.
apalagi pada saat pasokan makanan macet, hampir tidak ada petugas PPHI
yang datang menenangkan atau memeriksa kondisi jemaah.

Bahwa kegagalan katering ini bukan salah urus pertama yang merugikan
atau menimbulkan penderitaan para jemaah haji Indonesia< sudah diketahui
bersama. Tetapi bahwa ini yang terakhir, banyak yang tidak percaya,
utamanya jika penyelenggaraan perjalanan haji masih dilaksanakan oleh
Departemen Agama.

“Alhamdulillah, hanya dua yang meninggal. Kenapa yang saya bilang
alhamdulillah, sebab saya pikir soal hatering ini akan memakan banyak
korban,” demikian Menag Maftuh Basyuni seperti dikutip TEMPO pekan lalu.

“Alhamdulillah? Hanya dua?

Di kolom saya di Superkoran Apakabar menjelang Ramadan dua tahun lalu,
saya mengutip Hadis Nabi yang mengisahkan nasib dua perempuan, yang
satu pelacur yang masuk surga karena mendahulukan memberi minum seekor
anjing yang kehausan di padang pasir meskipun ia sendiri juga kehausan;
yang lain ahli ibadah yang masuk neraka karena sibuknya beribadah
membiarkan seekor kucing yang terkurung di dalam rumahnya mati kelaparan.

Itu mengenai pengkhidmatan dan penafian terhadap kehidupan seekor hewan,
Pak Menteri Agama seperti tanpa dosa menyatakan tentang pupusnya
kehidupan manusia akibat kebijakannya dan Departemen yang dipimpinnya
dengan berpekik: “Hanya dua?”

“Tanya kenapa?” seru sebuah iklan rokok.

“Masyarakat Islam memiliki dua kelemahan yang mendasar,” ujar WS Rendra
belas tahun yang lalu, seperti dikutip Ahmad Tohari dalam kolomnya di
Republika 10 Januari 2005 yang lalu yang menyoroti kebingungan ummat dan
tokoh=tokoh Islam, termasuk Ketua MUI dan Ketua PB NU dalam menghadapi
bencana Tsunami di Aceh, (Menjenguk Allah di Aceh).

“Kelemahan pertama menyangkut sikap dan pandangan terhadap kemanusiaan.
Dan yang kedua menyangkut kegiatan di bidang pembukuan”.

Tidak sukar untuk memaklumi bahwa yang dimaksud Rendra dengan “kegiatan
di bidang pembukuan” adalah “manajemen”.

Tidak sukar pula untuk memaklumi bahwa kesengsaraan dan penderitaan para
jemaah haji Indonesia, termasuk peristiwa gagal katering pada musim haji
tahun 2006 yang lalu berhubungan dengan kedua hal tersebut.

Bahkan hal-hal lain yang dapat direntang lebih luas lagi.

Tanya kenapa?

“Ini berhubungan dengan teologi masyarakat Islam yang dianut hingga kini
adalah “Teologi Langit”, jelas Ahmad Tohari dalam kolomnya tersebut, di
mana Ahmad Tohari antara lain mengemukakan:

“Taruhan terpenting dalam masyarakat Islam adalah menyintai Allah dan
Rasul-Nya, yang semuanya memang bersemayam “di langit”. Tak akan
sempurna iman seorang muslim sebelum dia menyintai Allah dan Rasul-Nya
di atas segalanya.”

“Sampai di sini tidaklah ada sesuatu yang perlu dikritisi. Karena memang
begitulah ajaran yang dianut oleh masyarakat Islam, dan akan ditegakkan
sampai kapanpun. Namun ketika orang hendak melangkah ke wilayah
pengamalan, mereka harus melakukan penafsiran: bagaimanakah menyintai
Allah yang Maha Gaib dan tidak membutuhkan apapun dari makhluk-Nya di
luar ibadah murni?”

(Bahkan menurut saya pribadi dalam ibadah murni pun manusia yang
membutuhkan Allah dan bukan sebaliknya.)

“Ya Allah, kenapa Engkau masukkan aku ke dalam neraka?”

“Karena engkau tidak mau menjenguk Aku ketika Aku sakit.”

“Bagaimana mungkin Engkau sakit?”

“Tetanggamu yang sakit. Dan engkau tak mau menjenguknya.”

Itu kutipan bebas sebuah hadis qudsi yang panjang, yang disitir Ahmad
Tohari dalam kolomnya tersebut.

Dalam hadis ini sangat jelas Allah “mewakilkan” DiriNya kepada
orang-orang sakit untuk menerima cinta, saya kutip kembali, dengan
mengganti frasa “orang-orang sakit” dengan “jemaah haji Indonesia
gementaran karena kedinginan dan lapar saat-saat yang paling ditunggu
oleh para hamba yang datang dari tempat yang jauh, ikhlas karena Allah
semata, dan melafazkan talbiyah, tidak jarang sembari bercucuran air
mata: “Labbaykallah humma labbayk..”

Dari hadis tersebut sangat jelas bahwa kemampuan cerdas membumikan cinta
kepada Allah yang Maha Gaib kepada segenap makhluk dan benda-benda
ciptaanNya, merupakan kata kunci untuk memperoleh kemenangan di dunia
dan di akhirat nanti.

Wallahuaalam bissawab

Wassalam, Darwin