7 Nopember 2005
Dimulai pada sekitar awal tahun 1990-an ketika Bank Summa dengan sengaja dijatuhkan. Ini saya kutip dari sebuah buku yang diterbitkan yang isinya mengenai riwayat William Suryajaya. Pak William ini seorang entrepreneur yang memulai usahanya dengan menjual kertas koran bekas di daerah Jawa Barat Selatan.

Saya sekarang tidak memiliki bukunya dan tidak dapat mengutip
isinya dengan tepat, termasuk judulnya. Tetapi saya ingat beberapa bagian
dimana dengan gamblang disebutkan bahwa William benar-benar dijatuhkan oleh
group Liem Sioe Liong atas "perintah" Suharto.

Buku ini seingat saya, saya beli di Gramedia jadi bukanlah sebuah buku yang gelap penerbitnya. Saya
sayangkan saya tidak lagi memiliki copy atau asli bukunya. Secara kronologis
buku itu menyebutkan bagaimana cara dan penyebab William harus jatuh. Memang
yang menjadi Direktur Utama adalah Edward Suryajaya di PT Bank Summa, bukan
William, akan tetapi yang jelas William adalah ayah Edward. Suasana kekuatan
Politik pada waktu itu hanya ada satu arah, istilahnya one way traffic,
yakni from top to bottom. Vox Suharto vox Dei.

Jadi Liem tentu saja
menuruti, itu adalah keadaan yang dianggap normal pada sekitar waktu itu.
Saya melihat penghancuran William secara systematis dijalankan dan berjalan
dengan sedikit sekali mengalami hambatan dari manapun.

Membaca buku tersebut saya melihat pak William adalah seorang wiraswastawan
yang patut diacungi jempol. Berapa lapangan kerja yang telah diciptakannya
tidak terhitung. Yang saya ingat adalah dimanapun dia terlibat, misalnya
dalam upacara membuka sebuah perusahaan atau akan memberikan sepatah dua
patah kata, dia selalu tidak lupa untuk berdoa dalam kepercayaan agamanya.
Dalam buku tersebut disebutkan bahwa William bersama para Taipan (pimpinan
atau boss dalam istilah dunia swasta orang China) perusahaan-perusahaan
besar di Indonesia yang sebagian besar adalah keturunan China, termasuk Pak
William ini yang berasal dari etnis China, berkumpul di Tapos. Tapos adalah
usaha peternakan milik Suharto dan keluarganya yang terletak di daerah
sedikit kearah Selatan dan agak diatas kota Ciawi, Bogor. Pengusaha asal
etnis yang sama ini tentu saja datang dan mendengarkan maksud inti dari
pesan-pesan Suharto yang disampaikan pada hari itu. Diterangkan juga
bagaimana Suharto berpesan agar karyawan diberi saham kepemilikan dalam
perusahaan masing-masing yang hadir. Pada umumnya secara visual memang
Suharto memberikan pandangannya seolah-olah seorang Bapak kepada
anak-anaknya secara bijak dan baik sekali. Keterangan selanjutnya adalah
segera sepulangnya dari pertemuan itu pak William langsung kembali ke induk
perusahaannya dan menyampaikan inti maksud pesan Suharto.

Sekali lagi
sebagai lanjutan diterangkan bahwa apa yang dilakukan pak William itu
istilahnya terlalu cepat dilaksanakan dan kurang mengacu kepada petunjuk
Suharto yang memicu kemarahannya. Kemarahan saeorang penguasa tunggal tentu
saja akan bisa diterjemahkan dengan lain atau sedikit lain atau malah
terlalu lain oleh para pengikutnya dan para kroninya. Dan pak William ini
menerima getahnya. Bank Summa menjadi target!!! Seperti diketahui Ketua
Nahdatul Ulama pernah dijabat oleh Abdurrahman Wahid yang pernah membuat
sebuah usaha keuangan yang bekerja dengan Edward Suryajaya sebagai pimpinan
Bank Summa dan menamakan usaha tersebut dengan nama Nusumma.

Abdurrahman Wahid pada waktu itu amat tidak disukai Suharto, terbukti dari pemberitaan
di media memperlihatkan dalam suatu upacara sebuah acara Nahdatul Ulama di
Sumatera Utara, Suharto tidak bersalaman dengan Abdurrahman Wahid. Hal ini
menjadi pertanyaan umum dan menjadi bahan-bahan gossip. Seperti biasa saya
tidak terlalu mengacuhkan yang seperti ini.
Akan tetapi setelah Bank Summa mengalami hal-hal aneh dalam operasinya, maka
saya menjadi mafhum bahwa ini semua permainan politik yang mengendalikan
business besar.

Dalangnya bukan mungkin seorang biasa atau seorang taipan biasa, tetapi
pasti sebuah instrumen yang dikendalikan oleh ulah seorang besar. Saya
teringat isi buku yang dikarang oleh James Clavell berjudul "Taipan" yang
menceritakan bagaimana gerak meroket seorang wiraswastawan di Hong Kong pada
awal pendirian Hong Kong. Salah satu turunannya yang hidup dijaman lebih
maju dapat dijatuhkan usaha Banknya dalam kurun waktu beberapa hari saja.

Caranya? Sebuah sindikat orang-orang kaya sepakat untuk melakukan cash
withdrawal dari Bank bersangkutan pada waktu bersamaan dan dalam jumlah
besar. Sindikat ini membuat bank tersebut terengah-engah karena Rush dan
terkuras habis uang tunainya sehingga dapat dikatakan menjadi bangkrut
karenanya. Meskipun dengan susah payah mendatangkan uang tunai secara cepat
dengan kapal terbang dari kota London, toh tidak tertolong juga. Mengapa
dari London? Karena bank-bank lain di Hong Kong tidak satupun berani
menolong Bank yang menjadi target, karena takut kepada sindikat tersebut
yang mungkin sekali juga mendapat backing dari Triad (Mafia China) disana.

Nah operasi Bank Summa saya kirakan tidak jauh dari cara seperti itu.
Dari sinilah saya tambah mengagumi Pak William ini. Meskipun PT Bank Summa
adalah sebuah Perseroan terbatas, dia mau memberikan jaminan pribadi
(istilah yang digunakan waktu itu adalah : personal guarantee) nya. Orang
mulai memaki-maki pak William dan mulai menterror rumah pribadinya di jalan
Diponegoro (?) di Jakarta dengan mengiriminya sebuah peti mati yang digotong
oleh serombongan orang. Pak William mulai menghilang dan tidak dapat ditemui
akan tetapi sekali-sekali dapat juga didengar keterangan atau klarifikasi
pribadinya melalui seorang famili / kerabatnya bernama Kenneth Tjahjady
Sudarto, yang juga seorang wiraswasrawan yang tangguh. Sedikit ada
pengalaman saya mengamati Ken Sudarto ini.

Suatu saat pada sekirtar tahun 1990 dan 1991 saya bekerja di sebuah gedung
di lantai lima, yang dari meja saya dapat mengamati sebuah gedung
diseberang, yang terkenal dengan gedung Matari Advertising Inc. di daerah
jalan Rasuna Said didaerah Jakarta Pusat.

Mula-mula sekretaris saya mengatakan bahwa Ken Sudarto ini orangnya baik
sekali. Pembicaraan mengenai Ken Sudarto, yang adalah pendiri dari Matari
Inc., ini timbul karena ketika saya sedang mendengar sebuah lagu berjudul
"The Unreachable Star", ternyata saya baca disuatu hasil wawancaranya dengan
sebuah media adalah lagu kesukaan Ken Sudarto. Pada hari-hari kemudian
setelah sekretaris saya tersebut menyebut dia orang baik, sering sekali saya
melihat keluar jendela dan mengamati dia. Ternyata benar seperti dikatakan
oleh sekretaris saya bahwa dia itu selalu mengantar kalau tamunya pulang,
dia selalu mengantarnya sampai kemobil. Itu saja yang saya ketahui mengenai
dia dan saya tidak pernah bertemu Kenneth secara langsung. Jadi saya adalah
a secret admirernya, karena dia tidak tahu dan tidak mengenal saya pribadi.

Mengingat dan melihat di media perihal hubungannya dengan Pak William, yang
tersirat kepada saya sebagai dekat dengan pak William, maka dia mengetahui
mengenai saya, adalah ketika saya mengirim surat pengantar kepada Kenneth
yang isinya minta agar dia bersedia memberikan pertolongannya untuk
menyampaikan surat saya kepada pak William. Seperti saya sebut diatas pak
William menghilang dan saya tidak mengetahui keberadaaanya. Sejak saat itu
saya tidak pernah bertemu dengan Kenneth sampai saya baca iklan Berita Duka
Cita meninggalnya Kenneth pada tanggal 5 Nopember 2005 yang lalu.

Sekarang sampailah maksud dan tujuan saya menulis semuanya ini karena
merupakan bagian yang paling penting dari tulisan ini. Yang paling penting
tersebut adalah isi surat saya kepada pak William. Sebaiknya saya tulis juga
latar belakang mengapa saya menulis surat kepada pak William.
Saya beranggapan bahwa, meskipun sampai hari ini saya juga belum pernah
bertemu langsung dengan dia, pak William adalah orang yang patut dihormati
dan sepatutnya disegani.

Hanya karena "masalah bisnis" semata, dia mengalami sesuatu yang tidak
pernah diharapkan oleh siapapun. Melihat pak William dicaci maki dan
dihantam kiri kanan, didemo dan diperlakukan tidak patut, maka saya
memutuskan bahwa saya paling tidak harus "menghiburnya" selaku sesama pelaku
bisnis. Isi surat saya kepada pak William adalah seperti berikut ini:

•;Saya tidakmengenal pak William atau keluarga Suryajaya yang lain
• ;Saya hanyabertemu dengan Edward satu kali ketika dia menjadi pengelola mesin Xerox di
cabang kota Surabaya. Keperluan saya bertemu dia adalah karena saya menjual
sebuah meja billiard yang saya import dari Australia, untuk ditaruh dirumah
/ Mess milik PT Astra di Surabaya.
• ;Jadi benar-benar saya tidak mempunyai interest apapun terhadap keluarga Suryajaya
dan businessnya sampai hari ini.
• Saya berkirim surat hanya dengan maksud bahwa saya tidak berkurang rasa
hormat saya kepada pak William terhadap apa yang telah diperbuatnya
• Saya sebut bahwa pak William adalah orang baik, malah keliwat baik karena memberikan
personal guarantee-nya. Bukankah PT Bank Summa adalah sebuah PT, sebuah
Perseroan Terbatas yang tanggung jawab pemiliknya adalah sebatas saham yang
dipunyainya didalam Perseroan? Itu pengertian saya pada waktu itu dan sampai
sekarang.
;Dengan memberikan personal guaranteenya maka pak William menjadi terpaksa
melepaskan asset-asset miliknya diperusahaan lainnya seperti misalnya Astra
International untuk menutup lubang dimana PT Bank Summa sedang berada pada
waktu itu
•Saya mengharapkan bahwa pak William tetap dikaruniai kesehatan dan keselamatan
untuk selanjutnya.

Begitulah pokok-pokok isi surat saya kepada pak William yang saya kirimkan
melalui sdr. Kenneth Sudarto. Lama saya tidak mengetahui apa surat saya
sampai atau tidak kepada pak William sampai saya sudah agak melupakannya.
Suatu sore sekitar waktu Maghrib, barangkali hampir dua bulan terhitung
setelah saya mengirimkan surat kepada sdr. Ken Sudarto, telephone rumah saya
berdering dan saya kebetulan menerimanya langsung. Terdengar suara mau
bicara dengan saya dan saya tanya dari siapa ini. Jawabnya "Saya William".

Saya yang tidak menduga sama sekali bahwa ini pak William, malah saya tanya
William siapa dan dia menjawab bahwa dia menerima surat saya. Barulah saya
sadar bahwa ini adalah pak William Suryajaya yang saya kagumi. Kami sempat
berbicara dalam sebagian pembicaraan pak William berbicara dalam bahasa
Inggris. Dia bilang terimakasih atas isi surat saya. Katanya banyak
teman-temannya yang sekarang membelakangi pak William dan sedang memandang
dia seperti seorang penderita kusta (istilah yang digunakannya adalah
Leprosy). Jadi dia bilang bahwa saya, orang yang tidak dikenalnya, sebagai
satu-satunya yang menulis surat kepadanya. Ini menyebabkan dia merasa perlu
untuk menelepon saya.

Mungkin pembicaraan itu belangsung sekitar dua puluh
menit lamanya. Saya tidak menanyakan dan tidak tahu dari mana pak William
menelepon saya, dan sampai hari inipun saya tidak pernah bertemu atau
berhubungan dengan pak William. Telepon tersebut adalah amat berarti bagi
saya karena saya memang tidak pernah mengharapkan apa-apa. Yang penting
adalah apa yang saya sampaikan menurut orang Jawa istilahnya yang tepat
adalah ketrimo (accpted, dapat diterima)

Saya menulis ini semua tanpa pretext (atau pretence atau guise atau
maksud-maksud tersembunyi). Saya menulis apa saja karena saya memang menulis
tanpa batasan atau kategori tertentu, sejak saya dengan sengaja berhenti
berbisnis pada waktu saya mencapai umur 60 tahun pada tujuh tahun yang lalu.
Saya mulai menulis pada waktu sekitar tiga tahun yang lalu dan paling
produktip sejak sekitar dua tahun terakhir.
Pada tahun ini saya sudah menulis sekitar lebih dari seratus subject, yang
tiap subjectnya (tiap judulnya) sekitar paling banyak sepuluh halaman.
Karena subjectnya amat bervariatip maka enaklah saya menulis ini karena
hampir tidak mempunyai beban yang menghambat saya menulis mengenai sesuatu.
Setiap judul selalu saya beri tanggal saya menulisnya, agar relevansinya
terjaga.

Semua tulisan saya belum pernah saya berikan kepada media tetapi sudah saya
berikan kepada teman-teman dekat saya sesuai dengan subjectnya. Pada umumnya
mereka minta agar saya mau untuk membukukannya, akan tetapi selalu saya
jawab bahwa bukunya akan saya terbitkan nanti bila saya tepat berumur tujuh
puluh tahun. Moga-moga dapat terlaksana. Bagi saya menulis adalah sudah
seperti kegiatan routine dan saya memang agak mengabaikan bahasa Indonesia
yang baik dan benar. Saya berpendapat bahwa berpikir seperti ini adalah
membantu menjadikannya sebagai salah satu dari hambatan orang menulis. Nanti
kalau saya pikir sudah tiba waktunya akan saya minta penulis professional
dan ahli bahasa Indonesia, agar membantu memeriksa dan dengan ijin saya akan
dapat mengubah dimana dirasakan amat perlu untuk diedit dan diubah. Yang
paling penting adalah mengeluarkan uneg-uneg (atau outbursts) dari hati saya
sesegera mungkin.

Created by Anwari Arnowo

—ooo000ooo—

When life knocks you down, try to fall on your back,
because if you can look up, you can get up

Ketika kehidupan memukulmu jatuh, usahakanlah untuk jatuh terlentang karena
kalau kamu bisa melihat keatas, kamu bisa bangun

Anwari Doel Arnowo
Toronto, Ontario

 KOMENTAR Wal Suparmo:

Hallo kawan-kawan,
Jelek-jelek saya kurang lebih 2 tahun(setelah mengundurkan diri
dengan pensiun dari suatu BUMN),saya pernah menjadi Deputy General
Manager/Company Secretary dari Bank Summa(no.peg.02256/01190),
sampai Bank Summa ditutup atau tepatnya "dibunuh".Ceriteranya
panjang.Mengenai pak William tiada cacat dalam hidupnya dan rapat-
rapat selalu didahului dengan berdoa.Saya kira hanya Bank Summa yang
tidak pernah merugikan nasabahnya terutama yang kecil-kecil sebab
asset Pak William lebih besar dari kewajibannya.Hanya seorang satria
yang telah membuktikan dan melaksanakan tanggungjawabnya dan
janjinya.Saya kira sampai sekarang tidak ada orang yang mampu
berbuat sama dengan apa yang telah dilakukan oleh Beliau.Semoga Bpk
dan Ibu, panjang umurnya!
Hormat saya,
Wal Suparmo