"Bumi gonjang-ganjing langit kelap-kelap , oooo … ," ujar Ki Dalang mengawali adegan goro-goro. Dalam lakon wayang yang nurut pakem goro-goro selalu diikuti dengan dagelan yang membuat penonton ketawa, terhibur; tetapi buat para buto dan kurowo goro-goro ini malah bikin stress — lha wong habis itu terus perang dan hampir selalu mereka ini kalah. Tentu saja yang sebetulnya merasa stress itu ya rakyat kecil — dalam setiap perang siapapun yang menang mereka selalu kalah, ikut kena gebuk, kesamber panah nyasar, musti ngungsi, harta dijarah, dsb.

Karena resolusi tahun baru 2007 ini sudah kupastikan sebagai "The Year of Fun"
[and possibly some happiness, too] aku akan ambil posisi yang "fun" yaitu
sebagai penonton saja, terbahak-bahak … ketawa lepas. [Aku harap el Mod, for
the sake of his sanity and his longevity, juga ambil sikap yang sama: ambil sisi
humor dari episode ini, dan kepada yang suka merengek, ngomel norak dsb just
say: "No Borat … I'm not your Mommy!"]. Kalau ada yang merasa tersinggung
terus ngajak carokan atau nuntut di pengadilan … apa boleh buat, ketawaku akan
lebih keras lagi — membayangkan saja aku sampai jatuh dari kursi.

Sebetulnya yang bikin aku ketawa itu bukan cuma itu saja, tetapi kebetulan aku
sedang baca buku Frans de Waal yang terakhir (2005), "Our Inner Ape: The Best
and Worst of Human Nature" [hint, hint … Babat]. Frans de Waal ini wong Londo
yang nyasar sampai Amrik nguber riset perilaku primate dan kaitannya dengan
perilaku sepupunya, manusia [He is currently a professor of psychology at Emory
University and Research Professor at the Yerkes Regional Primate Research Center
in Atlanta].

Tigapuluh tahun silam gambaran yang populer tentang primate ini adalah hipotesa
"killer ape" dimana nenek-moyang manusia itu adalah predator yang prolifik [aku
masih belum bisa merajolelo dengan menulis buas-kejam-bengis-ganas-keji-biadab
dalam satu kalimat :-] … yang dalam migrasinya keluar dari Afrika membunuh dan
memusnahkan apa saja, termasuk Neanderthal [Konrad Lorenz, "African Genesis" dan
Robert Ardrey, "On Aggression"].

Argumen "the killer ape" ini didukung oleh pengamatan kehidupan sosial
chimpanzeee (Pan troglodytes), dimana para pejantan terus-menerus berkelahi
untuk mempertahankan atau memperebutkan kekuasaan (status alpha-male) dan kalau
perlu membunuh anggota species sendiri untuk melanggengkan dominasi power dan
monopoli sex [ini bener-bener dikendalikan oleh "the selfish gene"]. Adegan si
primate ketika menghancurkan kepala lawannya pakai "senjata" [tulang kaki zebra]
dalam film "2001-Space Odyssey" (Kubrick & Clarke) meninggalkan impresi yang
kuat dibenak para pemirsa dan pembaca.

Gambaran "killer ape" diatas mulai berubah setelah ditemukannya species
sepupunya, yaitu pygmy chimpanzee atau bonobo (Pan paniscus). Kehidupan sosial
bonobo ini jauh lebih "damai" ketimbang chimpanzee — hampir setiap pertengkaran
atau konflik dibikin adem dengan kontak sex [hetero, homo, or even orgy]. Dan
ternyata bertolak belakang dengan kelompok chimpanzee yang dikuasai alpha-male,
masyarakat bonobo ini lebih matriarkal (yang jadi "alpha" adalah betinanya).

Diantara semua mahkluk dimuka bumi, bonobo dan chimpanzee ini adalah species
yang paling dekat kaitannya dengan kita, Homo sapiens [we share 98% or our DNA
with them, or theirs with us]. Masuk akal kalau para ethologists [animal
behaviorists] mulai bertanya-tanya apakah perilaku manusia yang "suka bengkelai"
itu punya asal-usul yang sama dengan chimpanzee yang violent, dilain pihak ada
juga mereka-mereka yang adem-ayem altruistik seperti yang ditunjukkan oleh
bonobo. Disamping itu sex yang bukan hanya untuk alasan prokreasi saja, tetapi
dilakukan untuk kesenangan, sebagai bagian dari hubungan sosial (seperti jabatan
tangan) juga "common" pada bonobo dan manusia. Karena itu mulai ada proposal
untuk memasukkan chimp dan bonobo ke dalam genus Homo, atau manusia sebagai "the
third chimpanzee" (Jared Diamond) kedalam genus Pan. Frans de Waal malah
menyebut manusia ini sebagai "the most bipolar ape" — artinya kalau baikan ya
bisa seperti santo (Mother Teresa) tetapi ada juga yang kejem luar biasa juga
bisa bunuhin jutaan sesamanya (Hitler).

*****

Kembali ke goro-goro … yang bener-bener bikin aku ngakak ketawa [I don't mean
to disrespect but I reserve the right to laugh, at anything funny] lha wong
sudah pada gaek kok ngajak adu jotos — aku bayangkan belum selesai setengah
jurus napasnya sudah pada kembang-kempis. Biarpun begitu aku sepenuhnya mengerti
psyche "jurus amok" seperti itu, Jangan main-main, ini soal harga diri …
tetapi sebetulnya berapakah sih harga diri itu [seandainya bisa dihargai pakai
rupiah begitu]? Apakah betul "kehormatan lebih berat daripada gunung, kematian
lebih ringan daripada kapas"?

Pengalaman nyata menunjukkan bahwa yang namanya "harga diri" itu overrated.
Jaman muda dulu aku juga seperti itu, kalau harga diri disinggung mudah sekali
main amok-amokan — mungkin pengaruh gaul sama anak-anak di kampung Cak Saelan
yang punya prinsip: "tembang poté mata, angor maté katela tolang" [daripada
kelihatan putih mata (malu), lebih baik mati kelihatan tulang]. Tersinggung
dikit saja ngajak carok: kesenggol carok, keterak angin carok. Ini terjadi
minggu pertama sekolah di Bandung … keluar dari kuliah kalkulus aku dikerubuti
segerombol mahasiswa angkatan lama, dituduh menghina seorang mahasiswi kakak
kelasku.

Merasa tidak bersalah [ini fitnah …boro-boro menghina, kenal aja kagak] aku
tidak bisa terima tuduhan tersebut dan langsung pasang kuda-kuda siap menghadapi
keroyokan. Seorang teman seangkatan (anak Surabaya) menarik tanganku dan
menggelandang aku keluar dari kerumunan orang. Sampai di sebuah warung di Taman
Ganesha dia pesan es cendol untukku — 'kali untuk menurunkan darah yang sudah
hampir muncrat di ubun-ubun.

"Aku bisa merobohkan tiga orang …yang paling depan duluan," aku ngomong pada
diri sendiri.

"I know … justru itu yang aku kuatirkan. Sekali gebrak pakai jurus-jurus maut,
mencederai lawan secepat mungkin sebelum mereka menyadari dan melakukan serangan
balik," dia seakan bisa membaca pikiranku. "You may feel better … but the real
question is does that make you a better person?"

Wow, aku serasa mendengar It-teng Thaysu waktu membantu muridnya untuk mendapat
pencerahan [baca Sin-Tiauw-Hiap-Lu]. Selanjutnya teman ini mencoba mengerti
sikap "hostile" dari kakak kelas: bukan tidak mungkin mereka merasa "threatened"
… bukankah keberadaan mereka dikelas yang sama ini menyiratkan tahun lalu
mereka gagal dalam mata kuliah ini, dan pendatang baru macam kita-kita ini
mengesankan persaingan yang "menakutkan" … fear breeds hatred.

Esoknya aku bertekad untuk menguasai materi kuliah tersebut dan membantu
teman-teman yang kesulitan memahaminya, termasuk para pengerubutku itu. Dan
sejak saat itu, setiap kali aku mendapat "tantangan" untuk adu jotos (baik fisik
maupun via kata-kata), aku ingat kata-kata "It-teng Thaysu" asal Surabaya ini.
Dan selama ini aku selalu berhasil menyalurkan energi amokku kearah lain yang
"make me a better person" — to think better, to write better.

The moral of the story is … kalau lagi angot mau amok cepet-cepet minum
cendol. Seriously, harga diri itu amat sangat overrated, inflated, marked up …
kalau drupiahkan tidak lebih dari harga segelas es cendol. Memang ada satu-dua
hal yang "worth dying for" [I myself will take a bullet for a certain smile :-]
tetapi hampir semua urusan di dunia ini nggak cukup berharga buat dibelain
sampai mati, bahkan kasus klasik "membela agama" sekalipun. Life is so precious,
if you're not capable to appreciate it then you don't deserve it.

tabik,
KM/