Para bailar la bamba
Se necesita una poca de gracia

Malam tahun baru biasanya aku dirumah saja, nonton keramaian di Time Square via TV, tetapi kali ini aku memenuhi undangan “vinyl party” — semacam karaoketetapi tiap orang bawa sendiri piringan hitam (vinyl record) favoritnya. Aku sempatkan mampir ke toko antik karena tema yang ingin aku hidupkan adalah rock-and-roll jaman tahun 50-an, terutama seputar karier Ritchie Valens yang mempopulerkan “La Bamba”– lagu tradisional yang dinyayikan orang di Veracruz, Mexico lebih dari 3 abad yang lalu.


Aslinya lagu ini sangat kental dengan pengaruh flamenco Spanyol dan and irama Afro-Mexican, tetapi Ritchie Valens
memasukkan irama rock-and-roll yang menjadikannya hit di Amerika [walaukebanyakan tidak mengerti bahasa maupun makna lagunya]. “Single” aslinya [Del-Fi, grey label 1958] tidak kutemukan karena itu aku ambil saja piringan
hitam dari Los Lobos, band dari Mexico, yang menyanyikan ini untuk Columbia sebagai soundtrack film “La Bamba.”

Ada alasan lain aku pilih “La Bamba” — yaitu karena tahun baru ini aku akan
mulai “mengajar” bahasa Spanyol dan calon “students” ku ini hampir semuanya
hadir di pesta tersebut, jadi ini sekalian “pengguntingan pita” secara resmi.
Proyek yang aku persiapkan siang-malam selama 6 minggu terakhir ini pakai
code-name “Project La Bamba” dan lagu ini otomatis jadi theme song kita. ¿Yo
quiero hablar en español? … Para hablar español / Se necesita una poca de
gracia / …

Yang menarik dalam proyek ini adalah, bahwa sang “professor” yang mau mengajar,
that’s me, yours truly, sama sekali tidak bicara atau ngerti bahasa Spanyol. Lho
kok? Aku sedang mempraktekkan satu konsep ajar-mengajar dimana guru dan murid
sama-sama belajar, dimana pertukaran pengetahuan (dalam hal ini “pieces of
information”) itu dua arah, atau bahkan multi arah. Dan ini bisa dilakukan dalam
bidang ilmu apa saja, meskipun sementara ini aku batasi dalam bidang bahasa
saja. Objective project ini adalah setiap peserta (guru dan murid) akan bisa
bicara dan mengerti bahasa Spanyol dalam tempo 3 bulan — dan ini hanya dengan
meluangkan waktu didepan komputer satu jam setiap harinya. Bagaimana ini bisa
dilakukan, pelan-pelan akan aku tulis detail sesederhana mungkin [there is just
too much information here — afterall, this is the accumulation of knowledge
from a 15-year long quest, as a student in Chomsky’s camp].

Kalau ini bisa dilakukan dengan bahasa Spanyol [pilihan praktis di lokalitas
sini], berarti bisa juga untuk bahasa Inggris atau bahasa apa saja. Bayangkan
implikasinya … kalau ini bisa dilakukan [and I’m very confident that I can
pull it off ] ini akan “revolutionize” metode pengajaran bahasa asing yang kita
pakai selama ini. “Hear ye, hear ye … speak English in three months, no
previous schooling necessary … hear ye, hear ye!” Bandingkan ini dengan waktu
yang selama ini dipakai untuk belajar bahasa Inggris oleh tipikal lulusan
perguruan tinggi kita yang rata-rata 7 tahun itu (3th di SMP + 3th di SMP + 1th
di PT), tokh hasilnya rata-rata masih sangat “belepotan” ketika dipraktekkan ke
dunia nyata [sekolah di LN, bekerja di perusahaan asing, atau bahkan membaca dan
memahami textbook dan artikel di Internet untuk riset atau keperluan sehari-hari
saja berkomunikasi dengan orang asing.

Kebetulan minggu lalu sekolah tempat kerjaku ini kedatangan seorang Indonesia,
dosen muda dari satu PT kita. Dia datang kesini untuk belajar bahasa Inggris,
dan aku rasa ultimate goalnya nanti adalah bisa sekolah di salah satu PT di
Amerika. Yang bikin aku kaget adalah pengetahuan bahasa Inggris dia ini
bener-bener “nul-puthul” (kata orang jawa timur). Ini aku tahu nggak lebih dari
lima menit waktu aku “test run” dia pakai Project La Bamba [versi English].
Sorenya aku tanya staff yang memberi placement test (Michigan Test, test tulis
multiple choice sekitar 90 menit), dia sungkan jawab — barangkali takut
menyinggung aku yang juga berasal dari negeri yang sama. It’s okay, aku bilang
dengan pasang muka penuh pengertian, you can say it frankly. Ternyata dia
ditaruh di level paling bawah [the worst we’ve ever got so far]. Dari 8 level
dia masuk level pertama, tetapi karena dalam sejarah tidak pernah ada yang di
level tersebut, kelasnya tidak pernah exist. Jadi dia masuk level 2. Entahlah
apakah dalam setahun ke depan ini dia bakal bisa menanjak sampai level 7
[required for university acceptance], kelihatannya perlu satu-dua miracle.

Yo no soy marinero, soy capitán
Soy capitán, soy capitán

Aku jelaskan pada audience pesta vinyl tersebut bahwa lagu La Bamba ini
sebetulnya adalah “wedding vow” — janji atau sumpah kesetiaan, yang hampir
selalu dinyanyikan dan ditarikan pada acara perkawinan tradisional. Dua baris
terakhir diatas secara literal bisa diterjemahkan sebagai “aku bukan seorang
pelaut, aku ini seorang kapten.” Kapten adalah seorang yang punya kedudukan
terhormat, sikap dan perilakunya seperti priyayi, sedangkan seorang pelaut
(marinero) di Veracruz jaman itu adalah stereotype orang yang kurang terpuji
apalagi dalam urusan wanita [punya simpenan di setiap pelabuhan singgah]. Kalau
di negeri awak “marinero” ini mungkin dilambangkan dengan “sopir truk” di
sepanjang pantai utara, stereotype mereka yang tidak setia: punya bini
dimana-mana, siri sana siri sini, mutah-mutahan, fuligamih … etc.

Bamba, bamba
Bamba, bamba

Sambil menari, hanya dengan kakinya, gerakan kaki (zapateado) yang harmonis
kedua mempelai dalam lagu La Bamba ini membuat simpul dari sehelai pita merah
(listón) yang panjang tanpa kesrimpet — melambangkan keharmonisan hidup yang
ingin dituju.

bersambung …

KM/