Dengan kejadian kecelakaan Mandala dan Adam Air dua tahun terakhi  ini yg memakan korban ratusan jiwa, membuat saya berpikir apakah memang ada perbedaan mendasar antara business model Budget Airline dan Cheap Airline?

Secara umum keduanya tidak dibedakan dan dikategorikan dalam satu
golongan : Low Cost Carrier (LCC) atau yg juga dikenal dengan
istilah Budget Airline.

Yang saya tahu dan secara logika memang bisa berhasil, business
model LCC didasarkan pada beberapa asumsi dan praktek antara lain:

a. Penghapusan service ekstra : makanan/ minuman untuk penumpang,
dan digantikan dengan penjualan makanan kecil atau minuman atau
gift, yg harus dibayar oleh penumpang yg menghendaki. Hasil
penjualan ini digolongkan sebagai penghasilan tambahan oleh operator
penerbangan.

b. Pemisahan biaya ekstra seperti airport tax, PPN dsbnya dari biaya
pokok, sehingga biaya penerbangan itu sendiri terlihat sangat murah.

c. Tidak ada reservasi tempat duduk penumpang, sehingga
penumpang 'dipaksa' untuk melakukan boarding dini dan cepat. Ini
suatu bentuk penghematan waktu.

d. Skema reservasi dini, dimana harga tiket akan naik saat tempat
duduk pesawat makin terbatas atau makin penuh. Hal ini akan memaksa
penumpang untuk melakukan reservasi dini dimana makin dini kita
memesan maka harga tiket akan makin murah. Biasanya pembatalan
reservasi akan mengakibatkan hilangnya sebagian besar (hampir 100%)
harga tiket yg sudah dibayarkan. Ini skema yg brilian sesungguhnya.

e. Skema 'single class' untuk semua penumpang. Memudahkan dan
menyederhanakan sistem boarding.

f. Pengunaan satu jenis pesawat. Memudahkan , menyederhanakan serta
memangkas biaya perawatan dan suku cadang, tanpa mngkorbankan
kualitas perawatan.

g. Memakai terminal sekunder dan meminimalisir penggunaan fasilitas
tambahan seperti garbarata (belalai penumpang) yang akan memangkas
biaya 'airport service' tentunya. Penumpang harus berjalan kaki
kepesawat.

h. Route airline biasanya difokuskan pada penerbangan yg pendek dan
turn around yg juga pendek agar dapat mengoptimalkan pengunaan
pesawat.

i. Penjualan tiket secara langsung (umumnya dipermudah lewat
internet / online), sehingga dapat memangkas biaya kantor cabang dan
komisi kepada agen perjalanan.

j. Awak pesawat dipekerjakan secara berganda, misalnya pramugari
atau pramugara juga bertindak sebagai pekerja pembersih atau
sebagai 'gate officer', sehingga memangkas biaya operasional dan
jumlah personil secara keseluruhan.

h. Fuel hedging program biasanya dilakukan secara terencana dan
merupakan salah satu perencanaan terpenting, karena biaya bahan
bakar termasuk salah satu biaya terbesar dalam industri penerbangan.

* * *

Salah satu LCC yg pernah saya coba adalah AirAsia yg dalam
pengamatan saya setidak nya penerapkan seluruh business model
diatas.

Di Indonesia saya pernah naik Adam Air ataupun Lion Air yg sering
digembar-gemborkan sebagai LCC yg sukses di Indonesia, tapi keduanya
saya lihat tidak menerapkan seluruh konsep business model LCC
diatas. Keduanya saya lihat masih mengoperasikan lebih dari satu
jenis atau model pesawat. Masih ada `gimmick' makanan kecil atau
minuman yg dibagikan kepada penumpang walaupun kualitasnya ya
makanan warung kaki lima. Hampir semua LCC Indonesia masih memakai
terminal primer, dan beberapa masih mengoperasikan dual class
(business dan economy class). Serta masih menerapkan sistem
reservasi lewat agen perjalanan dan belum mengoptimalkan pemesanan
online.

Mungkin memang bukan salah operator penerbangan LCC Indonesia untuk
dapat menerapkan seluruh konsep business model LCC, lantaran
infrastruktur dan kondisinya tidak memungkinkan (misalnya tidak
adanya dukungan serius dari pihak Angkasa Pura untuk membangun
terminal sekunder dikota-kota besar Indonesia, ataupun masih
rendahnya partisipasi calon penumpang untuk bisa melakukan reservasi
online..), tapi hal ini membangkitkan kembali pertanyaan-
pertanyaan :

– Seberapa layak kita memakai LCC local?
– Bagaimana persisnya business model mereka?,
– Apakah penghematan biaya mereka salahsatunya dicapai lewat
pengurangan biaya perawatan sebagaimana dicurigai oleh masyarakat?
Jika ya, apakah harga LCC local yg relatif murah sebanding dengan
keselamatan penumpang – termasuk kita ?

Salam,
ZHAO YUN

 

Komentar Babat:

Tulisan ZY ini bagus!
Kejadian triple konyol menhub ttg 'penemuan' pesawat AdamAir yl membuatku
tergelitik menulis hal spt ini, dan ZY malah merangkumnya secara bagus. Dan
kurasa pertanyaan yg ditinggal pada akhir tulisannya - adalah 'pancingan' buat
komentator2 lain ... :P Good job!

Nah, tulisan sebelum ini dari seorang milisi baru (kurasa) ttg data2 umur pesawat2 ngindo — kita mendapat gambaran apa jawaban terhadap pertanyaan ZY itu.

Dalam dunia komersial, berlaku hukum2 besi, artinya hukum2 yg tidak peduli syaton (atawa dewa ..) harus berlaku.  Yaitu hukum ttg profitability dan cash flow (CF) untuk semua companies.   Secara short term companies bisa berjalan dengan merugi secara accounting (dan negative CF – yg kedua ini lebih berbahaya).  Secara long term tidak.  Long dan short harus  dinilai secara relatif, aku selalu ternganga mendengar pernyataan2 Microsoft bahwa mereka 'bersedia merugi 10 tahun' untuk xbox dan zune itu — dasar kantong tebal! (OOT, Tempo terakhir ttg komentar Faisal ttg skandal microsoft-sby yang 'selingkuh bukan KKN' itu bagus loh di wawas! 😛 )

Apalagi jika profit yg dikejar juga termasuk non-monetary profits. Hal yg jamak terjadi di negara2 berkembang yg KKN nya subur.  Memiliki ijin airline, dan menjalankannya – walau ngos2an — bisa punya political benefits yg outweigh the accounting benefits.  Dan eksternaliti (= profit yg berbasis hal diluar akunting) semacam ini mengacaukan semua kalkulasi.
Eksternaliti yg sangat jelas di ngindo adalah, asal kau kuat bertahan short term 4-5 tahun – building political contacts, masuk ke sistem kekuasaan, jika berhasil semua 'companies' akan selamat lewat koneksi kekuasaan.

Ini mendorong 'keanehan2' dalam berbagai perusahaan ngindos.

Keanehan yg dibabar oleh data2 umur pesawat itu yg kurasa sangat penting (paling aneh: kenafa bouraq dan mandala punya pesawat2 dengan umur paling tua? afa masih afdol? he he).   Tentu saja tidak salah memiara pesawat2 tua — tetapi sama spt mobil tua, maka pesawat tua membutuhkan maintenance yg lebih tinggi (dengar dari salesman mobil, logika ttg 'full-cost ownership' walau sering ngawur, ada benernya juga lho! ..).

Nah, digandeng dengan manajemen amburadul, penguasa / kontroller yg 'sogokable' (nyogok selalu dipastikan jauh lebih murah katimbang benar2 melakukan apa yg wajib), plus watak industri LCC yg inherently highly competitive.   Jika ini ditambah dengan politically connected owners — jelas highly combustible!

Dan maintenance cost yg mirip spt long term investment itu adalah area paling gampang – dan juga paling sizeable — untuk di gorok oleh manajemen yg tidak bertanggung jawab untuk bisa bermain di LCC tanpa benar2 ahli!  Terutama jika ada pikiran bahwa main tokh hanya untuk short term – harap2 bakal ada 'bantuan eksternal' segera, inshalah!.

Indikasi kuat ttg skandal maintenance — dan big question mark ttg peran pengawasan pemerintah ttg hal2 ini — membuat skandal Adam Air ini masalah yg urgent untuk mendapat tanggapan pemerintah. 

Masuk dalam daftar bencana urgent setelah KM karam – yg jangan sampai meng'karam' kan skandal Lusi yg menghangat lagi setelah bakrie memutuskan hanya mengganti rugi tanah yg bersertifikat (ada saja cara licin untuk lolos!).

Hal2 ini mendorong kita semua untuk segera menyadari pentingnya sifat agregat dalam menekan public policies pemerintah.  Hal2 spt keamanan terbang (dan kapal laut!) itu adalah kebijakan2  defensif.  Penting juga untuk menyadari kebijakan2 yg sifatnya ofensif — bagaimana meningkatkan kekuatan ekonomi negara di kondisi global — hal2 yg sekarang sangat hot di pikirkan oleh negara2 bergerak maju, baik IC maupun BRIC.

Defensif, ofensif — siapa peduli! 
Ini slogan pemerintah SBY saat ini, semua ngrampok dhewe2 — tokh setiap pemilu semua orang for himself …

Perlu ada peringatan2 terus menerus spt artikel2 ini.

b@b
_________________________________________________________
dikirim lewat  http://forums.superkoran.info – tanpa moderasi