&Undang-undang Kewarganegaraan Republik Indonesia 2006 yang telah disahkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat pada tanggal 11 Juli 2006, tidak atau belum menyenangkan hati saya. Sudah pernah saya tulis pendapat saya mengenai masalah ini pada sekitar lebih dari satu tahun yang lalu dan sampai dengan saat ini saya masih tetap mempunyai pendirian yang sama, yaitu agar pemerintah dan DPR mempertimbangkan lagi, sehingga status kewarganegaraan ganda dibolehkan dan melindunginya dengan undang-undang yang komprehensif dan menyeluruh.

 

Mengapa saya ulangi tulisan yang menyangkut hal ini?? Karena selama beberapa hari ini telah terjadi masalah yang relevant mengenai hal ini di Lebanon. Diberitakan bahwa sebanyak 50.000 orang warganegara Kanada sedang berada di Lebanon, dimana sedang terjadi pertempuran dan perang diantara warga Hezbollah dengan Negara Israel. Kita tidak akan membicarakan masalah politik dan perbedaan pandangan antara Dunia orang Arab dengan Dunia orang Yahudi, yang telah menghabiskan nyawa, harta dan waktu yang tidak ternilai selama berpuluh-puluh tahun lamanya. Apa gerangan yang lebih penting dari hidup damai dan berdampingan? Bagaimana mungkin pada saat yang bersamaan ada sebanyak itu warga Negara Kanada berada disana??

Menurut investigasi media dan Pemerintah Kanada, mereka memang warga Negara Kanada yang berasal dari etnis orang Lebanon. Mereka, demikian juga halnya dengan yang berasal dari bangsa dan etnis lain, selaku warga Negara Kanada memang telah diprediksi dan diantisipasi : • Mereka tidak dapat dan tidak mungkin diputus hubungan lahir bathinnya dengan negeri asal, dengan kebudayaan dan dengan hubungan keluarga, sejarah dan identitas mereka.

 • Hal ini disimpulkan oleh para legislator dan pemerintah Kanada sejak dini. Ini menunjukkan kecerdasan berpikir para wakil rakyat dan para cendekiawannya. • Pemerintah berpikir secara mendasar bahwa seorang ibu akan tetap melindungi dan akan tetap mengawal anak-anaknya yang manapun, dengan tidak memperdulikan anak yang mana atau anak yang bagaimana.

• Biarpun ada “protes” dari sebagian warga lain mengenai hal ini, Pemerintah Kanada tetap berbuat yang terbaik bagi mereka, biarpun sebagian besar dari etnis Negara Lebanon itu kulitnya, rambutnya dan matanya adalah etnis yang sama sekali bukan bangsa kaukasian. “Protes” mereka karena kalau mereka berkewarganegaraan Kanada, mengapa tinggal selama satu atau lebih tahun di negeri asalnya? Bahkan sebagian para protester atau para objector ini berkeberatan dengan “tingkah polah” (behaviour) mereka karena seperti menunjukkan sikap tidak setia kepada kewarganegaraannya. Apalagi mereka dianggap hanya memanfaatkan kemudahan fasilitas yang ada sebagai warganegara Kanada.

• Ternyata Pemerintah Kanada menunjukkan sikap tetap setia dengan keputusannya yang telah diambilnya pada waktu membuat undang-undang mengenai kewarganegaraan yang membolehkannya untuk dimiliki oleh warganegara lain dan merangkapnya.

 • Bahkan menurut undang-undang yang diundangkan pada tahun 1977 itu, merangkap lebih dari dua warganegarapun diperkenankan dan boleh-boleh saja. Pada tahun itu Kanada adalah salah satu yang pertama dari negara-negara yang membolehkan kewarganegaraan ganda. Pada hari ini, tahun ini, negara-negara yang menganut paham dan pendirian seperti ini sudah meliputi separuh dari jumlah Negara-negara yang ada didunia.

 • Mengenai kesetiaan terhadap kewarganegaraan, mereka juga diperkenankan oleh undang-undang itu untuk memberikan sumpah setia kepada Negara dimana kewarganegaraannya yang lain itu. Hal ini dianggap tidak mengganggu karena hampir dianggap seperti hak azasi manusia yang hakiki.

• Pada saat ini ada sekitar enamratus ribu warganegara Kanada yang memiliki status kewarganegaraan ganda. Memang disadari dan diketahui bahwa diantara mereka ada yang terkadang memanfaatkan passportnya untuk menikmati kemudahan berkelana, sebagai “polis asuransi” dalam keadaan terdesak dan atau pada waktu mereka ingin bekerja diluar Kanada. Tetapi bagaimanapun diyakini bahwa sebagian besar mereka ini adalah warga yang tekun bekerja mencari nafkah, membantu orang tuanya yang sedang sakit atau bekerja mencari nafkah sambil menikmati masa pensiunnya, meskipun mempunyai pertalian dengan Negara pilihan mereka, Kanada dan dengan Negara asalnya. Orang Kanada adalah orang Kanada. Titik.

 Kanada adalah Negara yang amat membutuhkan datangnya lebih banyak immigrant yang berpendidikan dan intelek serta trampil bekerja. Mereka akan membuat ekonomi Kanada bergerak lebih cepat karena keterikatan mereka dengan negara-negara asalnya atau dengan negara-negara dengan mana mereka memiliki koneksi mereka masing-masing. Hal-hal seperti ini akan membuat kekuatan hubungan dagang Kanada dengan dunia internasional menjadi bertambah. Kalau hal-hal seperti ini tidak dilaksanakan maka upaya menarik immigrant menjadi terhambat. Apalagi kalau mereka dibatasi dengan hanya menawarkan kewarganegaraan kelas dua, yang membatasi pemberian bantuan pada saat sekarang seperti yang dialami oleh warganegara Kanada asal Lebanon yang sedang terjepit dalam keadaan perang disana.

 Patut juga ingat bahwa Governor General Michaëlle Jean yang sampai tahun lalu masih memegang Passport Prancis boleh disebut sebagai tidak setia kepada negaranya, Kanada?? Bagaimana halnya dengan Ratu Elizabeth II yang menjadi Kepala Negara dari 17 negara yang berlain-lainan? Bukankah dengan begitu berarti bahwa sang Ratu adalah seorang yang memiliki kewarganegaraan rangkap sebanyak tidak kurang dari tujuh belas buah ?? Apakah dia tidak boleh setia kepada seluruh Negara itu??? Meskipun kejadian-kejadian seperti berikut telah terjadi, seperti: • Pemerintah Kanada berusaha mencarter empat buah kapal untuk mengangkut beberapa ribu orang pengungsi warga Negara Kanada di Lebanon, hanya datang satu buah kapal.

• Mereka yang tidak mendapat kesemptan naik kapal, memaki-maki pemerintah Kanada. Hal ini tampak dalam siaran berita di televisi.

 • Ada pengungsi yang turun dari kapal terbang yang selamat dari kekurangan makanan dan kehausan sebelum terbang, masih juga memaki dengan segala sumpah serapah. Mestinya ini adalah kejadian yang bisa dianggap bahwa pengungsi itu adalah orang yang tidak tahu diuntung. Saya tidak dapat membayangkan kalau pengungsi seperti ini adalah orang Indonesia, akan mengalami nasib seperti apakah dia??

• Ada yang berkeluh kesah, panjang pendek, bahwa fasilitas kapal penyelamat mereka tidak memadai, jelek dan segala macam yang tidak baik, seperti kakus yang kotor muntahan orang-orang lain. Bagi saya yang melihat penderitaan rakyat Indonesia sehari-hari, hal yang dikeluhkan diatas adalah sama sekali bukan penderitaan. Itu menurut kategori saya adalah cerèwèt dan cèngèng keterlaluan!!!

 Para protester yang menentang upaya penyelamatan yang nota bene memakan biaya besar hanya membebani Negara Kanada yang dibayar dari uang pajak yang mereka bayarkan. Itu wajar. Akan tetapi mungkin para pengungsi yang berkelakuan mengecewakan itu jumlahnya tidak terlalu banyak.

Saya mengetahui praktek seseorang warga Kanada yang telah membeli rumah di Bermuda dan tinggal disana dengan minimum 182 hari dalam satu tahun. Apa tujuan dia berbuat seperti itu? Dia hanya ingin bebas pajak dari Pemerintah Kanada yang besarnya bisa mencapai sebesar 57% , katanya. Padahal saya tahu benar bahwa dia orang kaya raya .

 Hal-hal tersebut diatas adalah hal yang menjengkelkan, akan tetapi pemerintah pusat Kanada di Ottawa tetap membelanjakan uangnya dalam jumlah yang fantastis untuk penyelamatan warganegaranya didaerah krisis. Kalau saya menyebut “kebaikan-kebaikan” Kanada dan menyebut “kekurangan-kekurangan” Indonesia, jangan diartikan bahwa saya menjelèk-jelèkkan Negara sendiri.

 Saya adalah warga Negara Republik Indonesia yang mempunyai status Permanent Resident Kanada. Status saya ini tidak jauh bedanya dengan seorang Tenaga Kerja Indonesia di Saudi Arabia, Irak, Kuwait, Malaysia, Korea dan Jepang serta lain-lain Negara. Saya hanya berganti tempat tinggal, apalagi soal kesetiaan saya kepada Republik Indonesia saat ini masih amat jauh lebih baik dari pada seseorang yang diangkat menjadi penyelenggara Negara tetapi malah melakukan perbuatan-perbuatan yang melanggar undang-undang Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Perbuatan membunuh dan mengadu domba bangsa sendiri, mencuri hak rakyat, mencuri uang rakyat itu malah lebih buruk dari pencuri seekor ayam, hanya karena dia kelaparan. Tenaga Kerja Indonesia ini kalau oleh pemerintah Philipina dikategorikan sebagai pahlawan devisa, mendapat sambutan musik di lapangan terbang kalau mereka mendarat di lapangan terbang Manila. Kalau di Terminal Tiga Cengkareng mereka langsung mendapat perlakuan semena-mena dari para pejabat, Polisi, para preman dan lain-lain. Beberapa bulan akhir-akhir ini katanya sudah ada tulisan diatas banner bahwa mereka adalah pahlawan devisa. Akan tetapi saya masih mendengar bahwa mereka belum bebas dari hambatan-hambatan. Kalau mereka ini penghasil devisa julukan apa bagi para aparat pemerintah yang melayani mereka? Untuk para Tenaga Kerja Indonesia yang bekerja di luar negeri, saya pernah menuliskan usul bagi mereka ini diusahakan agar bisa menjadi pemegang kewarganegaraan ganda dimana mereka bekerja.

Keuntungannya jelas sekali. Mereka akan mendapat perlindungan Polisi setempat apabila ada perlakuan semena-mena dari para majikannya. Bukankah sudah berpuluh-puluh bahkan mungkin ratusan kasus mereka yang seperti itu tidak dapat dibantu oleh perwakilan kita di Negara dimaksud. Mereka diperkosa, dilecehkan, tidak dibayar gajinya dan ditipu oleh banyak perusahaan yang mengirim mereka. Saya tahu persis karena beberapa orang kakak-kakak pembantu rumah tangga saya, semuanya menjadi Tenaga Kerja Wanita kenegara-negara Arab tersebut diatas. Pengalaman mereka pernah saya catat/ kumpulkan/ simpan, karena saya meninterview mereka secara langsung.

 Mengawali undang undang mengenai kewarganegaraan ganda dimasak atau diproses, saya anjurkan dibentuk team khusus yang sifatnya independent, jadi tidak hanya bergantung pada komisi-komisi di Dewan Perwakilan Rakyat, karena selama system kepartaian kita seerti ini, saya akan tetap meragukan kualitas anggota “Dewan yang terhormat” ini.

Beberapa bulan lalu saya bertemu dengan seseorang yang ternyata adalah warga Negara Kanada di sebuah supermarket di daerah Bumi Serpong Damai. Menurut ceritanya dia menjadi duda yang ditinggal mati istrinya yang pertama dan kemudian datang seorang wanita berjilbab/orang Indonesia yang dikenalkan kepada saya sebagai istrinya yang kedua. Dia berkata kepada saya bahwa bulan depannya dia akan pergi menengok anaknya di Tokyo yang sudah menikah dengan orang Jepang, yang baru melahirkan seorang bayi laki-laki. Sang anak ini adalah anaknya dari istri pertamanya yang berasal dari ibu dan bapak yang berlainan kewarganegaraannya. Dia bilang bahwa sang cucu yang baru lahir ini telah diurus surat-suratnya berupa surat kelahiran dan ternyata dia telah berhak serta telah memiliki lima paspor dari Negara-negara yang berlainan. Ini dikerjakan karena pada suatu saat nanti dia akan harus memilih paspor-paspornya untuk tidak menggunakan, tinggal memilih yang mana. Seorang bayi dengan multi paspor!!!