&Kenangan saya mengenai Soekarno tidak ada habis-habisnya. Benar memang, pada suatu saat ada seseorang yang mengatakan kepada saya , bahwa pada abad ke Sembilan belas tidak ada lagi manusia Indonesia yang lahir   sekaliber dan seperingkat dia.

Sejak satu minggu yang lalu banyak orang memberi copy kepada saya kalau saling mengirim email diantara teman-teman mereka, di Eropa, apalagi di Belanda, di Amerika dan di Indonesia sendiri. Diantara mereka yang tidak pernah berpikir baik tentang Indonesia adalah orang orang Indonesia yang sudah lama atau baru bermukim di Belanda. Mereka ini banyak yang keblinger, mencaci negerinya sendiri dan memuji pemerintahan Belanda yang dipikirnya paling baik didunia.

Mungkin benar Belanda kaya, tetapi itu diperoleh dari merampok dan menindas rakyat kita yang dulu bodoh. Tetapi rakyat, orang dari suku Dayak, yang tinggal diperbatasan Kalimantan dengan Malaysia saja, sekarang ini masih lebih pintar dari mereka. Mereka menerima kesengsaraan yang mereka alami, tetapi tidak ikut memuji perampok Negara Indonesia pada zaman nenek moyang dahulu. Itu sama dengan kalau ikut mendapat dan menikmati nafkah dari seorang pencuri uang rakyat yang sekarang tinggal di perumahan DPR atau di kompleks Menteri atau Polri. Huuaahh. Rasanya mau muntah saya. Yang dibicarakan didalam email-email itu adalah topik  mengenai tujuh belas Agustus dan segala sesuatu yang berkaitan dengan dengan kemerdekaan Republik Indonesia, yang tidak lepas tentu saja mengenai Soekarno..

Saya sendiri   juga menulis tentang dan saya beri judul “17 Agustus 2005” ” yang saya alami di Bintaro, bagian dari Kabupaten Tangerang. Disitu saya pernah tinggal dari bulan April 2005 sampai awal bulan Juli 2006, lalu pindah lagi ke tempat tinggal sekarang, Toronto. Heran kita mengapa nama Soekarno yang mendominasi topic pembicaraan. Bukankah ada satu lagi anggota Dwi Tunggal, yang sebenarnya tidak kalah dan tidak kurang populernya, yaitu Bung Hatta ? Bung Hatta seorang yang pandai, banyak membaca tetapi mungkin tidak menjadi orang yang tepat kalau berhadapan dengan massa. Beliau itu seorang ekonom (ahli ekonomi) karena pedidikannya akan tetapi berubah menjadi politikus yang adem ayem. Malah ada yang menjuluki Bung Hatta sebagai ekonom salon.

Soekarno selalu bergejolak dan bergelora serta berambisi dan berjuang membela orang lain, orang sesama bangsanya sendiri dan juga bangsa lainnya, secara terus menerus, tidak berkeputusan, sepanjang hidupnya. Itu kata saya. Tetapi apa kata orang-orang yang tidak suka kepadanya? Dia dikatakan seorang yang flamboyant, womanizer, seorang komunis, seorang megalomania, seorang yang bodoh mengenai pengaturan< ekonomi dan hal-hal yang jelek lainnya. Biasanya fitnah yang ada itu adalah hasil khayalan dan karangan para intelligent picisan yang dimiliki FBI dan CIA atau anak buahnya Allan Dulles dan Dwight Eisenhower atau intel kita yang juga picisan sekelas dengan kelasnya Koramil dan Kodim. Pokoknya tidak berkelas; meskipun mungkin pendidikannya tinggi tetapi daya pikirnya seperti orang awam dari jalanan. Sekali lagi tidak berkelas.

Kalau kita lihat yang dahulu pernah dimaki-maki oleh pemerintah Indonesia pimpinan Suharto, sebagi komunis, tidak berTuhan dan menyebabkan rakyatnya melarat, yang pernah dikenal sebagai Republik Rayat Tiongkok dan sekarang lebih terkenal dengan hanya kata-kata: China, telah membuktikan dirinya bukan seperti itu. Yang dimusuhi Amerika Serikat juga, yakni yang benama Republik India karena bisa membuat bom nuklir, sekarang sudah membuktikan dirinya menjelma menjadi Negara yang maju. Bukan karena industri filmnya Bollywoodnya akan tetapi juga karena separuh dari Silicon Valley “dikuasai” oleh orang-orang asal India, jumlah mereka ini ada sekitar dua juta orang.

Amerika? Sekarang Amerika tidak berkoar lagi soal nuklir India. Sebaliknya meskipun Amerika Serikat gentar terhadap China dan India, tidak ada berhentinya mendiskreditkan dengan berita-berita negative yang meggambarkan bahwa China telah menunjukkan perlakuan kasar Pemerintahannya terhadap rakyat yang melarat yang diharuskan meninggalkan tempat tinggalnya dengan jalan   membongkarnya sendiri. Kejadian seperti ini kan pernah terjadi di Amerika Serikat sejak mereka mendepak orang Indian seperti sekarang ini? Pegang tengkuk sendiri dulu baru menengok urusan orang lain. Mengapa mereka menghendaki Irak menjadi Negara democrazy seperti sekarang. Orang Irak terpaksa berhadapan dengan orang Irak sendiri dan pemuda-pemuda yang menjadi tentara Amerika terpaksa harus mati lebih dari seribu orang di Irak. Uang siapa yang menyebabkan mereka mati? Itu adalah uang pajak yang dibayar oleh rakyat Amerika Serikat. Mengapa Irak harus democrazy gaya Amerika? Sebagian besar Negara di Jazirah Arab tidak demokrasi, dan memang menyatakan secara nyata, bahwa mereka bukan negara-negara demokrasi. Mereka adalah Kerajaan dan Kesultanan. Amerika tidak berbuat apa-apa terhadap kerajaan-kerajaan dimaksud. Mungkin minyak buminya terasa manis?! Mengapa saya tonjolkan China dan India? Mereka bangsa terbesar jumlah penduduknya, nomor satu dan nomor dua didunia. Pada jaman Soekarno mereka digugah dan diajak bersama-sama untuk melawan establishment yang ada didunia. Orang Eropa dan Amerika amat comfortable apabila menyebut India dengan Near East dan China dengan Far East. Bagaimana kalau Amerika itu kita panggil dengan Far West dan Eropa dengan Near West? Mereka selalu memandang segala sesuatu dengan pola dan tata cara mereka sendiri. Hal-hal itulah yang membuat Soekarno berhasil menggaet Jawaharlal Nehru dan Chou En Lai dan aktif menjadi Negara sponsor Kenperensi Asia Afrika (KAA) pada tahun 1955. Setelah KAA selesai, berapa Negara menjadi merdeka? Tak terhitung banyaknya. Karena itulah para pejajah, para “protector”at, dan para kapitalis yang hampir semuanya orang Barat, menjadi tidak suka dan tidak mau berhubungan dan selalu berusaha menjatuhkan Soekarno dari waktu ke waktu. Berapa granat (ingat peristiwa Cikini) dan berapa peluru (waktu Soekarno sedang solat Iedul Adha, dari jarak sekitar lima meter) dilepaskan oleh para pembenci Soekarno, yang ternyata dilakukan oleh mereka yang sudah terbius oleh Amerika Serikat, baik oleh uang maupun oleh ajaran agama  dan oleh ideology yang sesat. Tidak kurang keblingernya militer Indoneia sendiri yang merasa mendapat kesempatan menggunakan alasan komunis sebagai kambing hitam, menjatuhkan Soekarno dengan bantuan Amerika Serikat. Amerika Serikat itu belum merasakan perang dinegerinya sendiri, karena selalu perang dimana saja diluar Amerika Serikat. Sewaktu kelas enam Sekolah Rakyat saja, Amerika sudah biasa saya ingat sebagai Negara yang menyerbu ke Philipina dan Jepang dan Korea. Kemudian berikutnya ada Beirut, Viet Nam, Cuba, Somalia, Panama, Iran dan sebagainya, dan tarakhir: Irak. Saat ini mau ke Iran lagi, dan ini terjadi saya sudah berumur enam puluh delapan tahun. Amerika boleh dibilang sebagai war monger.

Pada setiap perangnya Amerika selalu mengorbankan uang pajak rakyatnya dan nyawa serdadunya sendiri, dan tidak terhitung lagi nyawa orang dari bangsa lain yang terikut mati. Berapa orang yang mati yang berasal dari Kanada baik sipil maupun militer yang ada dalam peristiwa di Afghanistan? Berapa orang Korea mati? Mengapa ada Korea Utara dan Korea Selatan. Mengapa ada Pangkalan Tentara Amerika Serikat di Okinawa? Ada penjara di Guantanamo? Mengapa Kuba di embargo selama lebih dari tiga puluh tahun lamanya? Karena ini semua, maka pada akhirnya Amerika Serikat memperoleh keuntungan materi. Keuntungan materi selalu datang pada waktu perang ini. Buktinya? Industri di Amerika Serikat dan perdagangannya selalu meningkat pada waktu perang begini. Pabrik senjata berproduksi dan lancar dijual.

Ketika sedang berperang dengan Iran pada waktu lalu, Amerika Serikat juga menjual senjata ke Iran. Kontraktor seperti Bechtel dan Halliburton sudah ditunjuk terlebih dahulu sebelum serbuan ke Irak dilaksanakan, dan ternyata memang benar karena mereka mendapatkan kontrak-kontrak pekerjaan borongan memperbaiki bangunan-bangunan di Irak yang dihasilkan dari peluru yang dilepaskan Amerika Serikat. Beberapa menteri dalam Kabinet Bush senior yaitu ayahnya dan dalam Kabinet Bush yang sekarang pernah menjadi Direktur-Direktur di perusahaan-perusahaan tersebut diatas. CNN saja mendapat pemberitaan yang cukup seru dan mendapat penghasilan ekstra besar karenanya. Tetapi apa yang terjadi pada kejadian tanggal 9 September yang menghancurkan World Trade Centre? Maafkan kalau saya katakan, bahwa korban yang jatuh sebanyak 5000 (atau lebih?) orang adalah kecil sekali bila dibanding dengan jumlah korban yang terjadi di Viet Nam. Disana korban tentara Amerika Serikat  sendiri saja lebih dari seratus ribu orang. Berapa dari orang Viet Nam sendiri, baik Viet Nam Utara maupun Viet Nam Selatan. Kalau saya sekarang takut kepada Pemerintah Amerika Serikat, janganlah  menyalahkan saya. Ketakutan saya bertambah: takut kepada immigrasinya padahal saya tidak pernah melanggar apapun tentang immigrasi Amerika. Saya takut kepada para petugas keamanan di pintu masuk ke Amerika Serikat, padahal saya tidak pernah dan  belum pernah melanggar apapun dipintu masuk Negara manapun diseluruh dunia, termasuk di New York, di San Francisco, dan Anchorage di Alaska serta Los Angeles. Karena kelakuan Amerika Serikat, maka Pemerintah Amerika Serikat justru dikatakan oleh orang banyak sebagai terror itself. Sekarang karena ulah Pemerintah Amerika Serikatlah, timbul aturan-aturan baru dipintu masuk Negara manapun dan yang dikatakan menteror atau melakukan terror adalah kaum Muslim didunia. Saya amat banyak mensitir dan menengarai bahwa Pemerintah Amerika Serikat telah menjadi momok yang menakutkan.

Kalau saya mendengarkan pidato Bung Karno yang berbunyi: Inggris kita linggis dan Amerika kita seterika sejak tahun 1940 an, saya renungkan ada banyak benarnya.

Dulu Amerika menjajah Negara dan bangsa lain secara physic, sekarang menjajah secara mental dan ekonomi. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang dapat menjadi besar, akan tetapi terhalang oleh kelemahan ekonomi. Kelemahan ekonomi ini yang menyebabkan penurunan tingkat moral mendekati terendah atau memang sudah rendah. Contoh yang paling mudah dan masih segar didalam ingatan kita semuanya adalah bahwa Menteri Agama dihukum karena telah melakukan tindakan yang tidak saja melanggar hukum tetapi memang dilarang oleh agama apapun juga.

Sehubungan dengan Soekarno, saya mempunyai catatan yang menceritakan suatu bagian dari hidupnya yang memberi kesan besar dan mengesankan bagi saya Pada awal kejatuhan Soekarno, ayah saya seperti seorang yang amat kehilangan sesuatu yang amat dihormatinya. Beliau sering saya lihat berbincang dengan seseorang melalui telephone dirumah beliau di jalan Dempo no. 13 di kota Malang. Pembicaraan telephone itu dengan sambungan lokal maupun jarak jauh, tetapi saya sering melihat beliau menangis dan tersedu sedan. Saya juga amat prihatin melihat beliau seperti itu. Saya tidak merasa mampu dapat menghibur beliau karena hambatan perbedaan umur yang lebih dari tiga puluhan tahun. Memang nyata sekali tidak dapat mencarikan obatnya. Baru pertama kali seorang yang dijunjung tinggi dijatuhkan, kedudukan dan segala macam miliknya direbut paksa. Bukan milik berupa materi saja. Harga diri dan kehormatan sebagai manusia biasapun diambil paksa. Diasingkan dengan keluarganya sendiri, tidak dapat berbicara dengan orang luar.

Bukan hanya Soekarno yang mengalami pembunuhan karater tetapi juga ayah saya pribadi. Ayah saya yang Rektor pertama dan Rektor kedua serta pendiri Universitas Negeri Brawijaya, yang diangkat oleh Presiden Republik Indonesia, dipaksa turun dan dipecat oleh seorang Kolonel komandan korem di Malang. Hukum telah diinjak oleh penguasa. Ayah saya dituduh sebagai anggota PNI Ali Sastroamidjojo-Surachman yang diucapkan PNI Asu. Fitnah disebar kemana-mana, terror dilakukan dengan telepon dan lain-lain cara oleh anak-anak HMI kepada ibu saya. Dikabarkan bahwa ayah saya mengalami kecelakaan berat dan berada di sebuah rumah sakit. Dengan rasa khawatir yang sangat ibu saya mengirim orang-orang dan menelepon kesana kemari mencari kebenarannya, ternyata kemudian ayah saya pulang dan mengemudikan mobil sendiri dari Surabaya, hal seperti ini bukan hanya sekali dilakukan para mahasiswa yang memihak penguasa, dalam rangka mencari keuntungan materi. Banyak kejadian-kejadian yang amat menyakitkan hati ayah saya sekeluarga. Paling mungkin yang dapat saya katakan kepada mereka adalah bahwa Bung Karno menderita lebih hebat dari keluarga ayah saya.

Dalam keadaan seperti ini ayah saya akhirnya dapat mendudukkan diri dengan baik dan menghadapi masa depannya dan keluarganya. Hiburan satu-satunya yang disukainya adalah mengetik diatas mesin tik kuno yang dimilikinya sejak saya masih belum lahir. Dengan pita hitamnya yang kuno, ayah saya menganggap mesin itu adalah sahabat sejatinya. Mesin portable itu, mereknya Remington, dibawa ayah saya kedalam sel penjaranya, karena dihukum Belanda berkali-kali. Sudah ada mesin ketik yang lebih modernpun, tetap saja yang satu ini yang digunakan sehari-hari.

Dengan segala cara termasuk menggunakan jasa pos, meskipun berkeyakinan besar tidak akan sampai, ayah saya terus menulis surat kepada Bung Karno yang dijunjungnya dan disayanginya. Surat-surat ayah tidak pernah berbalas, karena kemungkinan memang tidak sampai. Pada tahun 1966 saya tinggal di jalan Airlangga III no.4, Kebayoran Baru   dan ayah saya tetap di Malang. Pada suatu saat melalui telepon ayah saya memberitahu bahwa beliau akan datang dan menginap ditempat tinggal saya. Beliau bilang kepada saya akan bertemu Bung Karno di Bogor. Saya bertanya apa bisa, karena beliau kan ditahan? Beliau bilang sudah diatur sampai bisa. Nah yang berikut ini saya dengar dari beliau setelah beliau sampai dirumah saya, bertemu Bung karno di Bogor. Beberapa hari sebelum beliau memberitahu saya akan ke Jakarta, beliau diminta oleh Komandan korem untuk bertemu. Saya tidak tahu apakah ayah saya diambil, atau ayah saya datang kekantor Komandan Korem.

Singkat kata mereka bertemu dan Komandan itu berkata: “ Kami mengetahui bahwa Bapak sering berkirim surat kepada Bung  Karno” . Ayah saya mengiyakan dan bertanya apa ada larangan. Sang komandan tidak menjawab langsung, akan tetapi berkata: “Itu tidak baik !” Ayah saya menanyakan apanya yang tidak baik? Tambah beliau: “Dia itu kawan saya sejak muda. Dia sekarang sedang dalam kesusahan. Sebagai seorang kawan saya merasa berkewajiban menghubungi dia, justru karena dia sedang dalam kesusahan. Kalau dia sedang senang hati, dapat dimaklumi amat banyak yang ingin dekat dengan dia.” Sang komandan kembali tidak menjawab, tetapi mengatakan dengan kata-kata yang intinya jangan sampai sang komandan terpaksa mengambil tindakan. Mendengar yang seperti itu, sebagai orang yang sudah cukup umur tentu mengerti. Sambil kembali pulang justru semakin direnungkan oleh beliau, malah semakin menguatkan niatnya untuk terus berhubungan dengan risiko akan diambil tindakan yang paling kecil, yakni  akan berupa penangkapan. Benar, beliau datang dirumah saya di Kebyoran Baru, pada hari yang sudah menjelang sore; pertemuannya sendiri sudah dijadwalkan pada ke esokan harinya dan tetap di paviljoen Istana Bogor, bersama pak Roeslan Abdoelgani. Dengan berkendaraan mobil VW (Volks Wagen) 1300 model kodok warna biru muda, ayah saya berangkat ke Bogor seperti waktu yang telah ditentukan. Sebelum berangkat beliau sempat berbincang-bincang dengan saya selama beberapa jam dan memberikan pesan-pesannya. Situasinya terasa bagi saya amat mencekam. Yang amat mengganggu perasaan saya adalah beliau mengatakan bahwa kemungkinan besar ayah saya akan ditangkap sebelum bertemu dengan temannya, sekaligus sebagai orang yang dijunjungnya itu Saya mengantarkan keberangkatan ayah saya hanya dengan pandangan mata sedih sekali. Saya tidak diperkenankan mengantar sampai Bogor, sampai sedekat mungkin di paviljoen Istana Bogor, dimana Bung Karno bertempat tinggal. Saya melihat tubuh ayah saya yang sudah enampuluh dua tahun, kelihatan kurang gagah dan suram serta tegang raut mukanya Yah, apa boleh buat saya hanya bisa menunggu di Kebayoran Malam hari beliau smpai kembali kerumah dimana saya tinggal dan kelihatan bergembira Waktu itu diketahui secara Umum bahwa KKo (Korps Komando) Angkatan Laut, PGT (Pasukan Gerak Tjepat) dari Angkatan Udara  dan MoBrig (Mobil Brigade) dari Polisi dan beberapa bagian dari Batalion yang ada didalam Kodam Brawidjaya, kebanyakan anggotanya siap menunggu perintah Presiden Soekarno. Perintah apapun tidak kunjung datang. Ayah saya bercerita langsung kepada saya bahwa percakapan menginjak ke kondisi Indonesia secara keseluruhan. Kelihatan, kata ayah saya bahwa Bung Karno banyak menahan diri dalam berkata-kata. Menurut yang saya tangkap dari cerita ayah saya pada waktu itu, ayah saya menunjukkan sikap yang tidak dapat menerima bahwa Bung yang diandalkannya tidak dapat tegas.

Karena tidak sabar mengharapkan ketegasan, dengan semangat tinggi ayah saya berkata kepada Bung Karno: “ Bung ayo melok aku nyang Jawa Timur, arek-arek siap, kok !!” – “Bung, ayo ikut sama saya ke Jawa Timur, anak-anak siap sedia, kok !!” Beliau menyatakan terimakasih banyak dan kelihatan amat terharu sekali dengan ajakan itu dan hampir membuat Bung Karno kita ini emosinya tinggi. Tetapi apa yang dikatakan beliau sebelum waktu yang disediakan usai?? Beliau berkata: “Nedonrimo, koên cuma mikir regional thok, aku kudu mikir nasional” – “Terimaksih, kamu hanya memikirkan secara regional saja, saya harus berfikir secara nasional! “ Pada waktu saya mendengar cerita ayah sampai disini hati saya juga berkata dengan sedikit bergelora karena kecewa, mengapa beliau tidak memberikan perintah yang tegas??

Mana ada saya berpengalaman mendengarkan orang bijak berbicara?? Lanjut cerita ayah adalah, dengan perasaan berat tidak berkata lebih banyak lagi, dan saling mendoakan satu sama lain. Sebelum ayah beranjak pulang bersama pak Roeslan, mereka bertiga sempat berfoto bersama dan saya kira saya akan coba menyuruh membongkar tumpukan file lama, di Jakarta, dimana saya tinggalkan dua bulan yang lalu.  Suatu saat nanti kalau saya kembali ke Jakarta foto bersejarah ini akan saya cari karena amat berharga saat ini. Ayah saya juga sempat minta sesuatu yang tertulis dari Bung Karno berisi pesan buat rakyat Jawa Timur. Beliau mengambil voelpen dan menulis diatas kertas Kepresidenan yang berhuruf warna hijau dan logo Presiden RI, berbunyi:

Hé, arèk-arèkku, leksanakan ajaran-ajaranku

Catatan: Kata Leksanakan, sesuai aslinya memang ditulis dengan kata yang dieja seperti itu: Leksanakan. Text aslinya masih disimpan dengan rapi, di laminate dengan plastic.

Bertahun-tahu kemudian, yakni sewaktu saya sedang berada di tengah hutan Kalimantan Tengah di Kabupaten Kotawaringin Barat, di desa Pasir Putih, saya berbicara dengan penduduk asli yang telah saya kenal lebih dari setahun. Dalam bercakap-cakap itu tiba-tiba saya memikirkan Bung Karno. Saya besyukur beliau tidak secara emosional menuruti ajakan ayah saya untuk pergi ke Jawa Timur melakukan perlawanan. Saya baru tahu bahwa beliau mengorbankan dirinya sendiri demi persatuan Republik Indonesia, seperti selalu didambakannya selama seluruh hidupnya.  Kalau beliau mengambil keputusan yang sebaliknya maka saya tidak dapat berkomunikasi dengan orang Dayak asli bernama Inan tersebut, yang berlangsung didalam bahasa Indonesia. Dan kemungkinan ada Indonesia Timur dan Indonesia Barat seperti Jerman Timur dan Jerman Barat.

Terimakasih Bung Karno.