sebagai latar belakang, karena orang mungkin sudah lupa,  Denmark adalah negara dimana masalah cartoon Nabi Mohammad mencuat jadi issue international, membuat marah dunia orang-orang Islam, termasuk Indonesia. Tetapi saya tidak marah…" (Jakarta Juni 2006)

Beberapa waktu yang lalu saya belanja disalah satu toko alat-alat  tulis dan saya memilih beberapa clear holders (document keeper)  yang sesuai dengan selera saya. Setelah memeriksa jumlahnya dan  harganya masing-masing jenis saya berikan kepada petugas  penjualnya, dia mengamati barang-barang pilihan saya dan  berbisik perlahan kepada saya.

Kaget juga saya mendengar dia  mengatakan:

“Pak, itu kan Bantex”

Saya tanya: ”Kenapa?”. 

“Itu kan buatan Denmark?!” serunya dengan suara pelan.  

Saya bisa saja memberi cap pada petugas penjual tersebut dengan  sebutan not a good salesman, karena berpolitik.  

Saya menahan diri dan menjawab santai saja: “Saya bukan  termasuk yang marah kok!”

Beruntunglah saya bisa menahan diri, dan jangan lupa hal itu bisa  saya lakukan karena saya sudah berumur 68 tahun. Kalau dahulu  kala, itu kalau lho, saya bisa beri dia a piece of my mind dengan  mengatakan dia telah tidak bersikap professional ….. etc. … dsb. ….

Ambillah hal positive nya. Dia berbuat demikian karena mungkin  takut saya marahi setelah barang saya beli dan mengetahui barang  tersebut buatan Denmark. Jadi urusan kan bagi dia? Beruntunglah  dia karena saya dulu pernah sekolah di Dempo sehingga saya  menjadi seorang yang selalu memandang hampir segala soal dari  beberapa sudut, terutama mengenai agama. Saya ingat Romo Sarko  kalau mengajar agama Katholik dan KeTuhanan, beberapa kali membawa Al  Qur’an dan mengatakan bahwa ayah beliau seorang haji dan  saudaranya yang dua orang lagi adalah juga Romo.

Romo Hoogenkamp, yang badannya yang tinggi (mungkin 190  centimeter) besar dibalik jubah coklatnya, sering menyandarkan  sepedanya diteras rumah saya dan berdiskusi dengan ayah saya   mengenai saya, Mungkin agar saya harus belajar lebih sering dan baik  atau soal lainnya. Kalau saya tanya ayah saya yang telah  menunaikan ibadah hajinya pada penerbangan perdana pesawat   Garuda Indonesian Airways yang pertama ke Mekkah, Pater  Hoogenkamp ternyata membicarakan agama juga, bukan hanya  membicarakan diri saya. Karena pembicaraan mereka dilakukan sebagian besar dalam bahasa Belanda, ayah saya juga kadang-kadang membuka Al Quran nya yang ditulis dalam bahasa  Belanda. Apa yang saya lihat itu amat saya rindukan saat ini  karena ternyata bangsa Indonesia sudah tidak seperti suasana  waktu itu yang suasana kehidupan antar agama tidak membedakan  diri terlalu tajam.  

Waktu itu saya, sampai hari ini, menyempatkan diri untuk   memberi selamat kepada ummat agama lain kalau merayakan  sesuatu dalam agama yang dianutnya. Mereka ini bisa beragama  Katholik, Kristen dan Buddha serta Hindu. Tetapi banyak dan itu  banyak sekali, orang Indonesia sekarang ini yang menghindari  mengerjakan seperti apa yang saya buat, karena banyak dan  banyak sekali yang mengharamkan perbuatan seperti apa yang  saya lakukan. Biarpun saya pada saat ini tinggal di Bintaro, yang  nota bene berada didalam daerah Tangerang, Banten, yang telah   terkenal banyak mengeluarkan larangan yang kontroversial, saya  kerjakan apa yang saya yakini benar selama ini. Meskipun saya  mendengar yang sebaliknya, maafkan saya kalau saya tidak  perduli. Tidak perduli !! I always be what I am,  be myself.  Orang lain itu bukan saya. Saya tidak pernah dan tidak akan pernah  menyesalinya. And that is final. Ada ungkapan yang barangkali  sesuai dengan topik diatas, yaitu: “You will never plough a field if you only turn it over in your mind.”

Terjemahan kasar saja: “Bertindaklah, jangan cuma berangan-angan .”

Kemaksiatan telah ada sebelum nabi-nabi lahir dan masih berlangsung hingga kini

Saya sudah teramat kesal karena persatuan bangsa Indonesia telah  sering dipecah belah dengan issue-isue negative, tidak productive dan menghabiskan waktu saja

Saya memang kecewa tetapi saya masih merasa cukup sehat fisik maupun mental kalau hanya untuk ikut-ikutan menjerumuskan diri  kedalam issue-issue negative seperti tadi. Dalam tulisan-tulisan  saya yang lalu saya menganjurkan banyak hal, misalnya

reformasi PBB (UNO) dengan mulai memindahkan markas  besar PBB keluar dari wilayah Amerika Serikat

menghapus hak veto beberapa anggota PBB

menghapuskan imigrasi di semua negara secara bertahap

memperbaiki diri sendiri didalam keluarga, baru RT dan RW

betterment begins with oneself

jangan hirau terhadap politikus karena sekarang mereka  bermental dan memberi contoh tidak baik. Berita politik dinegara lain sedikit sekali dihiraukan orang (rakyat)

tidak ikut serta dalam Pemilihan Umum bukan kejahatan di  Indonesia, belum ada undang-undangnya yang mengatakan  sebaliknya

didalam agama manapun selalu diajarkan budi pekerti yang  baik, kesopanan dan lain-lain hal yang berguna

orang tua saya melakukan kegiatan agamanya tanpa  mempengaruhi orang lain, jangan begini dan begitu, nanti  dosa dan masuk neraka tidak diucapkan oleh beliau-beliau

bahwa pegawai negeri dan Polisi serta tentara itu jumlahnya  paling tinggi cuma 7 juta dari rakyat Indonesia yang 210  juta. Persentase:  3 koma 3333333 % saja!! Mengapa yang  kecil merepotkan yang besar???

Ayat didalam Al Qur’an jumlahnya ada 6236 dan yang  isinya mengharuskan dan melarang-larang hanya sekitar 200  an saja. Persentase: 3 koma 118 persen saja!! Agama Islam  adalah agama yang memudahkan kehidupan bukan  sebaliknya. Terlambat solat boleh digabung dengan solat  berikutnya. Sebaiknya kita pisahkan saja Arab dengan Islam.

Hal-hal seperti itulah yang saya tulis dan menghabiskan  sebagian besar dari waktu saya akhir-akhir ini.

Saya menganggap bahwa bertetangga harus diusahakan agar  ada hubungan harmonis, tidak perlu mesra akan tetapi cukup  secara correct hidup berdampingan. Tidak ada pemaksaan harus  mengikuti Partai tertentu atau ritual aliran agama tertentu pula.  Harus ada toleransi yang jelas, karena saya tidak keberatan  apabila tetangga saya suka makan makanan daging babi.  

Menurut pengalaman, saya sudah menjumpai orang Yahudi dan  orang China yang tidak memakan daging babi. Saya juga pernah disuguhi makan oleh sebuah keluarga asal Bali di Surabaya, dan didalam kuali gulai yang dihidangkannya kelihatan sebuah tangan (cakar) yang kemudian saya tahu adalah tangan kera. Orang Manado teman baik saya menyuguhi saya masakan satu meja besar penuh masakan Manado. Saya makan dan salah satunya berwarna hijau dan pedas sekali. Selesai makan dia bilang: “ Sorry ya Anwari, yang ditengah itu belum saya beritahukan adalah RW (èrwé)!!”. RW adalah masakan Manado dengan daging anjing. Saya jawab: “Wah  sudah ada didalam perut saya!” Sebenarnya saya tidak tahu sampai sekarang apakah agama melarang makan daging anjing.  Kalau iya maka saya sudah kerepotan membetulkannya, karena saya sudah makan daging sapi, kuda, kerbau (di Coto makasar), macan, kijang, ular, trenggiling, lobster dan kodok serta lain-2 termasuk kera dan kalong, daging penyu yang nyaman dan semua masakan ikan mentah a la Jepang dan escargot (bekicot) masakan Prancis. Kalau menulis dengan pensil bisa saja kalau saya melakukan koreksi dengan menggunakan karet penghapus,  tetapi semua sudah saya konsumsi dan bagaimana cara saya mengoreksinya? Maka semangat saya menghadapi hal ini adalah:

W h a t e v e r    m a y    h a p p e n ……………….

      Look ahead and do not regret when you look back

Menulis essay sungguh amat berguna bagi diri saya. Keluaran (outbursts) yang saya tumpahkan dalam tulisan sungguh telah menyebabkan rem saya menjadi pakem karena selama ini agak kurang pakem, lebih sabar dan amat mengurangi dendam yang dahulu amat menggerogoti mental saya.

Nasionalisme saya masih Indonesia tulen akan tetapi kalau ada  sebuah pergolakan daerah yang ingin merdeka saya tidak  menentangnya. Saya tahu benar bahwa merdeka itu tidak mudah, sulit dan memerlukan kecanggihan tinggi pada saat ini. Tidak bisa hanya bermodalkan syarat-syarat asli pembentukan negara (wilayah, bangsa dan pemerintahan) saja agar dapat disebut dengan sah sebagai sebuah negara. Kebutuhan Sumber Daya Manusianya harus berkualitas dan cerdik pandai dan sebagainya. Kalau sebagian besar masih melarat dan miskin dalam akal dan budinya, saya berkeyakinan kemerdekaan yang didapatnya akan mudah “ditelan” oleh negara besar lain. Kita telah belajar dari Timor Timur. Gegap gempita merdekanya negara kecil ini telah diberi sambutan dan tepuk tangan meriah didunia. Sekarang bagaimana keadaannya? Sekitar sepertiga  dari jumlah tentaranya yang masih bereuphoria selaku gerilyawan, malah dipecat atau awol (absent without leave). Ekonominya? Masyaallah ruwetnya juga, meskipun cadangan minyaknya mungkin akan menolong. Jadi jangan terlalu gegabah untuk merdeka !!

Melihat itu semua saya pernah menulis bahwa kalau saya   meninggal nanti, badan saya secara fisik akan tertinggal   didunia dan  akan hidup berupa nyawa saja. Kalau nanti nyawa  saya menghadap Illahi, maka saya tidak akan berdaya  mendengar perintah bahwa saya harus menuju kekiri atau  kekanan, kekiri berarti neraka dan kekanan berarti sorga atau sebaliknya, saya tidak tahu. Saya hidup sekarang memikirkan dunia dan saya berusaha hidup sebaik mungkin sesuai ukuran saya. Dengan kekuatan penuh saya berusaha selalu baik akan tetapi bisa saja masih ada unsur-unsur dimana saya tidak mampu mengubahnya karena diluar kemampuan saya.

Itu semua menurut saya adalah alami, karena manusia mempunyai kemampuan terbatas. Superman saja tidak dapat menghadapi Kryptonite, apalah artinya saya ini. Jadi marilah kita jalani hidup ini dengan èntèng tanpa prétènsi segala macam tètèk bengèk yang akan merèpotkan hidup dengan bahagia.  Hidup secara ini, kita akan tidak menanggung beban yang disebabkan antara lain oleh dendam.

Dalam kamus bahasa Indonesia disebutkan bahwa kata pendendam adalah orang yang tidak mau memaafkan kesalahan orang lain. Menurut pengamatan pribadi saya,  pendendam sulit untuk meninggal dunia, sulit hidup dan pada umumnya dia amat menyulitkan dirinya sendiri saja.

Sebagai manusia biasa saya juga mempunyai dendam, tetapi  saya kurangi setiap waktu yang memungkinkan sampai batas  minimum. Saat ini saya hampir bisa mengatakan bahwasanya saya sudah mendekati tingkat sebagai bukan pendendam. Saya biarkan saja orang memaki-maki orang lain karena dikatakan menghina agama tertentu dan orang marah sekali karena melihat orang lain tidak melakukan sesuatu yang sama seperti yang dilakukan olehnya.

 

Saya rindu pada tahun 1950 an rakyat Ambon yang separuh Muslim dan separuh Nasrani bisa berdampingan hidup dengan damai. Saya rindu melihat ayah saya dapat berdiskusi dengan Romo Hoogenkamp. Saya gembira Sukarno dan Hatta biarpun tidak satu suku tetapi telah menjadi Dwitunggal.