Nabi Muhammad SAW sendiri pernah melarangnya, ketika Ali (menantunya) menyatakan akan kawin lagi dengan seorang wanita.

Kenapa?

Karena Ali haruslah berlaku adil terhadap isterinya.

Bagaimana berlaku adil terhadap isterinya itu?

Mintalah izin kepada isterinya!

Dan ternyata isterinya yang puteri Nabi Muhammad itu menyatakan
tidak setuju Ali kawin lagi, karena itu akan menyakiti hatinya. Hal
ini dinyatakan isteri Ali di hadapan Nabi.

Nah, karena itulah NABI MUHAMMAD SAW MELARANG ALI MELAKUKAN POLIGAMI!

Jadi kata kuncinya adalah "adil" yang merupakan lawan kata "zalim,"
bukan? Ini tercantum di dalam Al Qur'an. Bagaimana mempraktikkannya?
Nabi Muhammad SAW telah memberikan contoh dalam kasus rencana Ali
hendak melakukan poligami. Dan masalah ini dijadikan tema bahasan
dalam salah satu khutbah Jum'at Nabi Muhammad SAW, yang menekankan
kepada setuju dan tidak setujunya sang isteri adalah sebagai syarat
mutlak apakah poligami itu bisa dilakukan atau tidak.

Jadi, ada syaratnya. Yaitu suami haruslah berlaku "adil" seperti
yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad dalam dalam peristiwa di atas,
agar tidak menjadikan fihak isteri sebagai korban tindakan "zalim"
sang suami. Islam adalah agama yang menekankan kepada perbuatan
yang "adil" dan menentang semua tindakan yang tergolong "zalim."

Tapi banyak yang salah menafsirkan ayat di dalam Al Qur'an itu, dan
saya menduga ini disebabkan para penafsir semacam itu adalah para
pria yang memang berbudaya "macho" alias berbudaya merendahkan jenis
wanita. Akibatnya tafsirnya adalah memelintir kata "adil" sebagai
syarat melakukan poligami yang ada di dalam ayat itu. Mereka
menafsirkan itu adalah perlakukan sang suami NANTI SETELAH poligami
berlangsung, antara lain melakukan pembagian yang adil dalam
melaksanakan berbagi ranjang, atau berbagi kesenangan dunia dan
hatawi, dan semacamnya. Padahal kalau dihayati secara rasa
kemanusiaan, dan juga dikaitkan dengan contoh yang diberikan Nabi
berupa pelarangan kepada menantunya itu, maka jelaslah yang
dimaksudkan "berlaku adil terhadap isteri" itu hendaknya dilakukan
SEBELUM melakukan poligami, artinya haruslah SEIZIN ISTERI.

Kalau pe4rsyaratan itu tidak dipenuhi, maka itu berarti sang suami
telah berbuat tidak "adil" dan sudah bisa dinilai melakukan
perbuatan "zalim" terhadap isterinya, maka poligami harus dinyatakan
terlarang!


Ik.-


Jadi, pengertian "adil" dalam kontek poligami yang ada di dalam Al
Qur'an itu adalah telah banyak disalah artikan menjadi: suami harus
berlaku adil setelah melakukan poligami, misalnya adil dalam membagi
kapan tidur dengan yang pertama dan kapan dengan yang kedua, juga
dalam soal-soal lainnya. Dalih adik setelah berlangsungnya poligami
inilah kesalahan fatal tafsir umum yang dipakai sekarang ini!

Dan, mereka yang bernafsu menzalimi isterinya dengan main poligami
semau nafsu-syahwatnya, tidak pernah perduli, atau memang tidak
tahu, peristiwa Nabi melarang Ali melakukan poligami itu.


Ikra.-
======