Saya dapat mengerti dan memahami kalau ada rekan-rekan Apakabarians yang risih melihat topik selangkangan masih menjadi topik hangat di forum ini dan juga di media nasional, seolah-olah, tidak ada lagi hal penting di negara ini selain mengurusi "kepuasan seksual pria Indonesia". Tapi kalau kita berhenti sejenak, ada  beberapa hal penting yang harus disadari kita semua.

Pertama, entah disadari oleh sang Kyai atau tidak, keputusan yang diambilnya telah membuka pintu perdebatan yang kalau dimanfaatkan secara positif akan membawa perkembangan baik bagi masyarakat Indonesia. Beberapa pihak akan mulai "terguncang" secara intelektual, dan mudah-mudahan mulai memiliki ide untuk "bersikap kritis terhadap setiap tokoh publik yang mereka puja di masa depan." Mungkin bagi banyak pihak, hal ini sepele, tapi buat saya, ini penting sekali. Sudah saatnya manusia Indonesia melepaskan diri dari budaya "kultus individu" yang begitu mencengkram kuat sebagian dari kita. Tokoh panutan boleh saja berwajah tampan, karismatik dan berkata-kata indah, namun bukan berarti pantas untuk dikultuskan bagaikan dewa dan seolah olah tidak akan berbuat kesalahan. Setiap ucapan dan perbuatan tokoh manapun tidak boleh ditelan bulat-bulat oleh sang pengikut. Tanggapi mereka secara kritis !!!

Kedua, presiden kita dalam isu ini membuat sejarah baru. Beliau begitu cepat dan tanggap menanggapi isu ini. Hal ini ternyata diakibatkan oleh kiriman sms yang luar biasa dari masyarakat. Adakah ide untuk melakukan yang sama di isu lainnya? misalnya reformasi birokrasi, gaya kepemimpinan, lingkungan hidup, kasus lumpur lapindo, kinerja pertamina, dan lain sebagainya? Kalau kita mengingatkan sang presiden yang gila image ini bahwa setiap isu penting artinya buat popularitas beliau, mungkin akan banyak masalah yang akan cepat ditanggapi.

Ketiga, kasus ini membuka perdebatan positif kepada status poligami. Ini menjadi bahan pemikiran bagi kita semua dimana pihak yang mendukung dan menentang poligami saling berdebat dan mengeluarkan argumen mereka. Pertanyaan utama adalah, setelah mendengar seluruh argumen, dapatkah manusia Indonesia memutuskan apakah poligami memang akan menjadi bagian dari gaya hidup Indonesia di masa depan ataukah sepakat untuk menempatkan poligami sebagai bagian dari masa lalu yang hanya memuaskan sifat chauvinisme kaum pria? atau malah muncul ide baru, kalau memang poligami bersifat positif, kenapa harus berhenti pada satu gender? kalau memang bermanfaat, berikan hak yang sama bagi kaum wanita. Saya yakin, teori saya bahwa praktek ini hanya berupa pemuasan sifat chauvinisme pria akan terbukti. Pria chauvinis tidak akan rela memberikan hak yang sama bagi kaum wanita.

Keempat, tanggapan beberapa tokoh bahwa pemerintah seharusnya tidak ikut campur merupakan sebuah hal yang menggelikan. Bagi para tokoh ini, pemerintah boleh ikut campur terhadap urusan individu asalkan sesuai dengan pikiran sempit mereka, namun sebaliknya harus dilakukan bila bertentangan dengan kepentingan mereka. Hal ini menjadi bukti baru bagaimana integritas para tokoh tersebut. Ketika majalah playboy terbit, mereka berkoar menentang dan menuntut pemerintah melarang (jadi pemerintah harus ikut campur mengatur bahan bacaan masyarakat). Ketika film buruan cium gue beredar, mereka berkoar menentang dan menuntut pemerintah melarang (jadi pemerintah harus ikut campur mengatur bahan tontonan masyarakat), dengan seluruh aturan tersebut, mereka lantas berkoar bahwa pemerintah tidak pantas mengatur bagaimana masyarakat menikah?

Saya sebenarnya setuju bahwa memang harus ada pemisahan yang jelas area mana yang perlu diatur negara dan area mana yang sebaiknya menjadi kebebasan individu. Namun, hal ini tidak pantas didukung oleh mereka yang menjadi bunglon dan melandaskan dukungan mereka kepada kepentingan pribadi dan golongan.

Apakah saya satu-satunya yang menganggap penyelesaian jangka panjang dari isu ini adalah kualitas pendidikan dan kekuatan ekonomi masyarakat Indonesia? Masyarakat yang berpendidikan baik CENDERUNG memiliki pola pikir yang lebih terbuka dan toleran. Kaum wanita yang berpendidikan tidak akan mudah memuaskan sifat chauvinisme kaum pria dan kaum pria yang berpendidikan juga CENDERUNG tidak akan mudah berpikir dengan alat kelamin mereka. Hal yang sama juga akan terjadi bila standard hidup masyarakat Indonesia meningkat (kekuatan ekonomi). Perhatikan saya menulis cenderung dengan huruf kapital sebagai penekanan karena saya mengakui hal tersebut tidak mutlak terjadi. Hanya sebuah kecenderungan namun tetap pantas untuk dikejar.

Satu hal lagi sisi positif dari pendidikan dan peningkatan ekonomi, tokoh masyarakat yang bunglon tidak akan lagi laku dan bangsa ini akan menghasilkan tokoh-tokoh masyarakat baru yang lebih berkualitas. Anggota DPR yang lebih berkualitas, gubernur, walikota dan bupati yang lebih berkualitas, Presiden dan (terutama) wakil presiden yang lebih berkualitas. Banyak hal lebih berkualitas yang akan dihasilkan oleh bangsa ini.