Tanggal hari esok adalah istimewa, kita bisa tulis: 06 – 06 – 06. Kalau bangun pagi, maka pada pukul enam lewat enam menit dan enam detik maka akan menjadi tanggal 06 – 06 – 06 pukul 06:06:06. Mengapa menulis seperti ini? Bagi saya memang pada hari ini kita amat perlu menenangkan diri agar mempunyai pandangan yang jernih terhadap keadaan disekeliling kita saat ini.
Tepat 105 tahun yang lalu pada waktu fajar, lahirlah didunia ini seorang bayi di kota Surabaya didaerah Pasar Besar, yang kemudian dinamakan Koesno. Ibunya seorang yang berasal dari pulau Bali dan ayahnya yang berasal dari suku Jawa adalah seorang guru sekolah. Pada waktu Koesno masih seorang anak kecil, orang tuanya dipindahkan kekota Blitar. Beberapa tahun berada di kota Blitar, Koesno diganti nama menjadi Soekarno. Dalam perjalanan hidupnya Soekarno menjadi pemuda dan tinggal kembali di kota Soerabaia, malah tinggal mondok dirumah HOS Tjokroaminoto, seorang tokoh orator pergerakan Islam, di jalan Plampitan (sekarang jalan Achmad Djais).

Waktu dia tinggal di Plampitan inilah ayah saya, Doel Arnowo (nama aslinya Abdoel Adhiem) berteman dekat dan sering bermain bersama. Ayahnya (kakek saya) adalah seorang mandor gula bernama Arnowo -1879 s/d 1922, menjadi tokoh dikampungnya yang sampai sekarang disebut Gang Genteng Arnowo. Yang saya ingat ayah saya sering menceritakan bersama Soekarno, nongkrong bersama di jembatan Genteng – Pathuk dan jembatan Penéléh – Plampitan.  Apa sih yang mereka kerjakan di atas jembatan-jembatan itu?

Ayah saya, amat dikenal dengan sebutan Cak Doel, bercerita bahwa apa yang mereka kerjakan selain ngobrol adalah asyik mengamati perempuan yang lalu lalang diantaranya banyak noniek-noniek (istilah untuk nona-nona Belanda asli maupun  keturunannya). Salah satu noniek Belanda ini ada yang mendapat perhatian istimewa dari Soekarno. Dalam salah satu riwayat hidupnya Soekarno pernah menceritakan bertemu dengan noniek satu ini setelah bertahun-tahun kemudian di daerah Pasar Baru  Batavia (Betawi / Jakarta). Sang noniek telah menjelma menjadi seorang perempuan yang gemuk agak luar biasa. Apa kata Soekarno dalam bathinnya: Selameeet!! (artinya beruntunglah, dia bersyukur sebab perempuan itu sudah demikian gemuknya, sama sekali tidak menarik hati untuk dipandang mata). Ya setelah menjadi Presiden Republik Indonesia dalam suatu kesempatan hanya berdua saja, Cak Doel pernah diajak berbicara masalah ini di Istana Merdeka dan mereka berdua tertawa terkèkèh-kèkèh sampai keluar air mata.

Anèhnya Cak Doel pernah lebih dari sekali menyatakan Soekarno bukan pemuda yang “nakal” terhadap perempuan dan malah diberi julukan anteng (yang artinya tenang). Hal ini timbul pada waktu Cak Doel menyesali perkawinan Soekarno dengan Hartini. Cak Doel beranggapan bahwa teman baiknya bernama Soekarno ini adalah dalam keadaan sedang direkayasa untuk dijerumuskan ke masalah yang menyangkut politik dan harta oleh orang-orang sekelilingnya. Yang disebut-sebut oleh Cak Doel sebagai orang-orang yang termasuk inner circle Presiden RI adalah antara lain  Kepala Rumah Tangga Istana yang dengan rekayasa telah ‘menjodohkan” Presiden dengan “nyonya  terkenal” dari Solotigo,  berstatus istri seorang lain bernama Soewondo. Banyak issue dan gossips yang beredar dan saya tidak ingin mengulanginya pada saat ini karena rasa hormat saya kepada Soekarno yang amat tinggi. Saya menganggap Soekarno adalah seorang istimewa yang lahir pada abad 20 yang lalu. Sepanjang abad itu di Indonesia tidak ada seorangpun yang terlahir dengan kecerdasan dan kemauan kuat mempersatukan bangsanya menjadi sebuah bangsa yang besar.

Pengganti-penggantinya: Suharto, Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Sukaroputri dan Susilo Bambang Yudhoyono tidak ada yang sekaliber dan seperingkat dengan Soekarno. Biarpun ini sangat subjective, saya merasa ini yang paling mendekati kebenaran. Sebabnya karena saya adalah seorang yang tidak pernah terilibat politik, baik sebagai anggota partai atau simpatisannya, tidak pernah mau memilih pada waktu pemilihan umum, tidak pernah mempunyai usaha yang berKKN dengan pejabat penyelenggara Negara. Karenanya, saya merasa tidak pernah mengagungkan nama besar Soekarno hanya karena “berkeinginan untuk mau ikut naik” bersama seseorang yang bernama Soekarno. Saya tidak pernah dekat dengan beliau sejak dewasa dan dengan sengaja menjauhi beliau, karena saya tidak merasa comfortable setelah mengamati dan melihat secara teliti  banyak orang-orang di sekelilingnya, baik ajudan, pengusaha dan politikus yang berada disana.

Saya ceritakan ulang apa yang saya lihat dan saya alami kejadian-kejadian mengapa saya mempunyai pendapat-pendapat seperti diatas. Soekarno sering sekali mengundang Cak Doel dan istri  datang ke Istana Merdeka, hanya untuk melihat bioscoop (movie) yang ditonton oleh orang-orang terdekat Soekarno, yakni: Nyonya Fatmawati, anak-anaknya, pembantu rumah tangga dan para pegawai Istana Merdeka. Film yang ditayangkan kebanyakan bukan sesuatu yang istimewa karena di Jakarta pada waktu itu belum banyak movies yang dipertunjukkan di cinema. Jumlah cinemanya pun mungkin sekali masih dibawah limabelasan. Pada peristiwa seperti itu Soekarno selalu mengenakan pakaian lengkap bersepatu tertutup karena amat menghormati tamunya. Nyonya Fatmawati biasanya duduk dikursi santai (biasa disebut dengan kursi malas) terbuat dari rotan. Ayah saya, Cak Doel, pernah juga mengajak salah satu adik saya untuk menemani bersama ibu kami. Selesai pertunjukan biasanya, dan ini sering sekali, Soekarno ikut turun tangga Istana dan ikut menemani keluarga ayah saya ke mobil.

Soekarno membukakan pintu mobil untuk ibu saya dan menutupnya kembali layaknya seorang gentleman sejati. Nyonya Fatmawati tidak turun dari kursi malasnya.

Biarpun demikian halnya, ayah saya amat geram ketika mengetahui Soekarno akan menikah dan kemudian menikahi  Hartini yang in fact adalah istri orang lain. Apalagi nyonya Fatmawati datang menghubungi ayah saya dirumah kami di jalan Surabaya no. 13, Menteng, Jakarta. Ayah saya menghormati first lady Republik ini, biarpun umurnya lebih muda, dan menyebutnya zoes Fatma. Zoes Fatma ini datang mengadu mengenai hal ini dan apa kata ayah saya? “Janganlah sekali-kali zoes Fatma meninggalkan rumah, apalagi keluar dari Istana, karena akan membuat hal ini menjadi sulit. Perempuan sebaiknya tetap tinggal dirumah.” Zoes Fatma merèngèk mau ikut hidup dirumah kami yang kecil di jalan Surabaya itu. Ayah saya dengan lembut mengatakan bahwa itu bukan pilihan yang baik dan secara tegas menolak permintaannya. Pada waktu itu saya sudah belajar di Sekolah menengah Pertama, dan umur saya telah membuat saya dapat menangkap percakapan ayah dengan ibu, dan juga dengan orang lain mengenai masalah  yang satu ini.

Kadang ayah saya berpendapat karena semasa mudanya Soekarno ini seorang yang “anteng” maka sekarang sedang mengalami pubertas lagi. Cak Doel mengenal Oetari dan ibu Inggit serta zoes Fatma. Datangnya Hartini telah menggelisahkan teman Soekarno yang lain dan orang-orang lain yang menyayangi dia. Tidak usah kita bicrakan mengapanya yang bersangkutan dengan Hartini, akan tetapi dapat kita bicarakan karena kedudukannya sebagai Presiden Republik Indonesia. Hartini, menurut Cak Doel adalah sebagai akibat, karena inner circlenya yang ikut mendorong terjadinya perselingkuhan ini. Mereka tergesa menikahkan Soekarno dan terbukti kemudian pernikahan ini tidak sah, karena belum bercerai dari Soewondo. Pernikahanpun diulang lagi setelah Soewondo resmi bercerai dan menjadi salah satu pegawai di perusahaan minyak di Sumatra Selatan(?). Begitulah tanpa dapat dicegah, Hartini menjadi istri Soekarno yang kesekian.

Setelah pernikahan ini ayah saya berseteru hebat dengan Soekarno karena masalah ini. Perseteruan dimulai dengan pertemuan hanya sebentar antara mereka berdua.

Cak Doel berkeberatan mengenai akan menikahnya Soekarno dengan Hartini dengan alasan-alasannya yang tentu saja tidak dapat diterima oleh Soekarno. Dalam bahasa Suroboyoan (dialect Jawa Surabaya) mereka sampai dengan kata-kata: “Kamu jangan ikut campur dengan urusanku karena aku hanya bertanggung jawab kepada Allah subhanawata ala” dan dijawab oleh Cak Doel dengan “ …… ya saya mengerti, akan tetapi yang akan kawin itu kan Presidenku ……..” Saat inipun saya tetap beranggapan pembicaraan seperti ini terlalu amat keras karena pendirian kukuh mereka masing-masing. Apa yang terjadi sesudahnya adalah: Cak Doel dan istri tidak datang lagi ke Istana lagi selama setahun lamanya. Bukan karena tidak adanya undangan, tetapi juga karena memang Cak Doel tidak “mau” bertemu dengan  kawan baiknya ini. Sekali lagi inner circle Soekarno menjadi penyebab utamanya.

Kebekuan hubungan ini berakhir karena sebuah kejadian sebagai berikut. Dalam “masa” Hartini ini, telah terjadi conflict antara para politisi, saya kurang ingat bagaimana karena saya masih belajar di Sekolah Menengah Pertama, masih bau kencur untuk masalah seperti ini, kata orang Jawa. Para Politisi sudah saling tidak bertegur sapa antara lain Mr. Ali Sastroamidjojo, Mohammad Natsir, Mr. Wongsonegoro, saya kurang yakin nama-nama beliau. Pada suatu hari dalam bulan Ramadhan, ayah saya mengundang mereka untuk berbuka puasa bersama di rumah Cak Doel di jalan Surabaya no. 13. Dalam suasana Ramadhan tentu saja mempunyai rasa magical moments yang menyebabkan orang menahan marah dan emosi lain. Peristiwa ini diberitakan oleh media dengan judul Cak Doel menjadi penghulu. Seakan-akan ayah saya telah mengawinkan beberapa kubu politik yang sedang kurang berhubungan baik. Berita ini amat menarik perhatian masyarakat, dan setelah sekitar satu tahun lamanya, ayah saya diminta datang menemui Presiden di Istana. Ternyata tempatnya adalah Istana Bogor, dimana di paviljoennya tinggal Hartini.

Ayah saya diminta datang setelah salat maghrib, pukul 18.30. Seperti kebiasaan ayah saya datang tepat waktu, pukul 18.30 dan siapa yang menemui Cak Doel?

Dia adalah Hartini, yang meminta Cak Doel menunggu karena Soekarno sedang meneruskan berdoa dan belum selesai. Hartini menemani Cak Doel beberapa waktu, hampir setengah jam. Bukanlah kebiasaan mereka berdua untuk terlambat memenuhi janjinya, Cak Doel maupun Soekarno selalu tepat waktu, selalu op tijd dan selalu on time. Tidak terlambat satu detikpun. Kali ini ada alasan untuk berdoa atau apapun. Cak Doel tentu saja “berkenalan” dan berbasa basi sebisanya. Setelah Soekarno muncul, pertama-tama dia ucapkan mengenai kepenghuluannya adalah: “Hébat bener koên, Cak. Aku aé nggak iso!!” – Hebat banget kamu, Cak. Aku saja nggak bisa!! Tetapi Soekarno tidak lupa memuji istrinya yang kesekian ini dengan: “Ayu yo, koyok Ava Gardner!!” – Cantik ya, seperti Ava Gardner!! Itulah yang dapat saya gambarkan segi manusiawinya Soekarno.

Dia manusia biasa tetapi cerdas dan kharismatik, amat gandrung dengan persatuan bangsanya yang terdiri dari ratusan etnis dan bahasanya yang amat beragam, mendiami ribuan pulau bernama Nusantara, sebuah archipelago. Paling beragam diseluruh dunia. Beragam dapat dipersatukan dan menurut pendapat saya pribadi sampai kapanpun tidak akan berhasil diseragamkan. Inilah hal terpenting dalam mengenang Soekarno, seorang yang ingin saya kenang selalu sebagai orang yang baik terhadap orang lain, bukan penjahat seperti digambarkan oleh para kroni penggantinya. Saya tidak akan memintakan ampun kepada Allah SAW bagi pengganti Soekarno dan kroni-kroninya. Lebih baik saya meminta ampun kepada Allah SAW atas pendirian saya ini dan memintakan ampun atas kesalahan-kesalahan Soekarno, idola saya.