Pahlawan, siapakah dia? Apakah 70,000 orang yang gugur dalam pertempuran Surabaya antara tanggal 10 – 20 November 1945 ? Apakah mereka yang terbaring di Taman Makam Pahlawan ? Apakah mereka yang diresmikan menjadi pahlawan oleh pemerintah berdasarkan SK ?



Memang ada kesan bahwa menjadi pahlawan itu harus
resmi, karena kentalnya fungsi pemerintah dalam benak
kita. Karena itu tak terhindarkan bahwa sebagian
besar pahlawan resmi adalah anggota TNI. Padahal
dalam pertempuran Surabaya yang ikut terlibat bukan
saja BKR (Badan Keamanan Rakyat) tetapi juga pelajar
SMP/SMA, guru, kyai dan santri mereka, pangreh praja,
tukang becak, pokoknya hampir seluruh penduduk
Surabaya dari seluruh etnis plus orang asing --
rupanya mereka terbakar oleh semangat kemerdekaan yang
diproklamasikan 3 bulan sebelumnya.

Pahlawan sejati tidak mempedulikan pengakuan apalagi
imbalan uang. Syukurlah, setelah proklamasi banyak
bermunculan pahlawan sejati, baik pahlawan resmi
maupun tidak. Pahlawan besar atau pahlawan kecil.
Banyak dari mereka berjuang dibidangnya dengan atau
tanpa bantuan pemerintah. Pahlawan jenis ini besar
jumlahnya. Mereka adalah pedagang kecil yang tanpa
mereka ekonomi Indonesia koleps betulan ketika krisis
moneter 1997 datang melanda. Mereka adalah dokter
muda yang rela ditempatkan ditempat terpencil di luar
Jawa. Mereka adalah TKI/TKW yang memecahkan masalah
pengangguran dalam negeri yang terpaksa hidup irit di
Virginia seperti si Minah agar dapat mengirim uang
kepada keluarganya di Sragen. Mereka adalah pemuka
agama yang berani menjalankan tugas menyebar kebaikan
tanpa ikut arus menebar hasutan. Mereka adalah
kecil/menengah yang tetap tangguh tidak berhenti
berusaha dan menciptakan lebih banyak pengangguran
sekalipun dihadang berbagai peraturan yang tidak masuk
akal, tanpa mereka tidak mungkin negara ini mencapai
pertumbuhan 5.8%.

Negara harus malu karena tidak mampu melindungi
pahlawan biasa itu. Pedagang dan sopir truk dihadang
oleh pamong praja, polisi dan jaksa dengan berbagai
bentuk pungutan liar. Depnekertrans hendaknya
mencontoh Filipina memperlakukan TKI/TKW sebagai
"pahlawan deviza" dan tidak meperlakukan mereka
sebagai sasaran pemerasan.

Sungguh ironis, bahwa ditingkat elit semangat pahlawan
sejati nyaris hilang. Wapres YK mempersoalkan Unit
Kerja yang dipimpin Marsilam Simanjuntak (mungkin
karena namanya maka beberapa tokoh Islam ikut mengecam
unit kerja ini). Sungguh ironis bahwa daerah
pertempuran Surabaya kebanjiran lumpur Lapindo Bakrie.
Sungguh ironis bahwa DPR masih disibukkan studi
pariwisata.

Salam,
RM