Mengapa hukum agama, seperti TAURAT yahudi, DOGMA kristen abad pertengahan & SYARIAT Islam sama-sama punya prestasi TIDAK BERHASIL MEMBUAT MANUSIA MAJU??


Mengapa kalau agama didasari pada Hukum Agama (yang negatif, jangan
ini jangan itu, kalau melanggar dikutuk dan dihukum) pasti akan
membuat peradaban manusia jadi goblog dan mundur ??

Jawabannya mudah saja.

Sebab itu melanggar hukum alam psikologi manusia.

Kajian bapak psikologi modern Sigmund Freud dalam makalahnya "On
Negation" di tahun 1925, dikutip dalam bukunya Richard Restak, Smart
and Smarter, Gramedia 2001-5 halaman 148, mengutip singkatnya
sebagai berikut : "Otak tidak menangani negativitas dengan baik.
Jika kita memusatkan pikiran untuk MENGHINDARI HASIL BURUK, bukan
pada cara untuk mendatangkan hasil yang baik, maka otak akan
memusatkan diri pada YANG NEGATIF."

Kalau atlet mau sukses, jangan mikirnya bagaimana supaya TIDAK salah
memukul, melainkan bagaimana caranya BERHASIL memukul bola.

Kalau kita mau sukses belajar menyetir, jangan mikirnya bagaimana
menghindari tabrakan (apalagi di Jakarta yg brengsek ini, pasti
ketakutan duluan )--> tapi bagaimana cara berhasil menyetir yg baik
dan manfaat yg diperoleh dari menyetir.

Tips dan tricks, bukan larangan dan ketakutan.

Kalau mau punya anak sukses, jangan dari kecil diajari jangan ini
jangan itu, ini haram ini bahaya spt layaknya ulama syariat itu,
tapi harus diajari caranya pakai korek api dengan baik, cara
menggunakan pisau dengan baik, cara bersikap yg baik, dll dll

Hukum-agama syariat itu negatif. Melarang duluan sebelum terbukti.
Surga-nerakanya saja dimana seperti apa belum bisa dibuktikan, kok
sudah melarang dan menghukum manusia. Beda dengan hukum-positif yg
kita pakai, ada bukti kriminalitas, ada saksi, baru bisa dijatuhi
hukuman.

kalau kita memusatkan diri pada hukum agama yang negatif itu, maka
otak kita dengan sendirinya akan berpikir selalu negatif. Kalau
kepercayaan agama kita isinya hanya tatacara dan larangan puasa yang
segudang-gudang itu, maka isi otak kita di bulan Romadhon akan
selalu negatif. Angkara murka di ubun-ubun siap meledak. Lihat orang
senang sedikit di nightclub tidak terima. Negatif pada orang lain
(orang lain selalu kafir), ketakutan masuk neraka dan kutukan, dll
dll akhirnya kita tidak berbuat apa-apa selain tidur dan mikirin
makan enak dan uang untuk ber Lebaran.

SEBUAH BANGSA dapat dipastikan akan terpuruk, kalau isinya SYARIAT
AGAMA: jangan ini jangan itu, perempuan nyetir mobil sendiri
dilarang, cewek harus pakai jilbab tanpa kecuali, apalagi dibatasi
sekolah, tidak boleh kerja, boleh dimadu, dll dll

Tidak ada kreativitas. Yang ada adalah NEGATIVITAS.

Arab itu contoh komplit bangsa yg selalu ketinggalan di belakang
dalam kemajuan peradaban. Apalagi kalau minyaknya habis nanti, 15
tahun lagi, tidak lama..

Sebab itulah agama sebagai petunjuk normatif tidak boleh menekankan
sisi negatif hukum agama, melainkan harus ke sisi positif - lakukan
ini, lakukan itu. Ini baik dilakukan. Tolong orang, berkata manis
dan baik, menulis baik dan sopan. Beramallah nanti dapat pahala
surga (meskipun yg omong gitu juga belum pernah lihat surga dan
belum tentu kesana kalaupun ada). Jangan kuatir kekurangan atau
problema hidup. dst dst..

Ini semacam Racun kepercayaan, kata Muskitawati. Tapi menurutku ini
semacam masterpiece dusta dari alien yang SENGAJA ditanamkan dalam
otak bangsa manusia demi tujuan supaya manusia tidak pernah maju.


pemdun