Ketika Ketua Umum PP Muhammadiyah Dien Syamsudin dan kemudian, Ketua Tanfidziah PB NU Hasyim Muzadi, ikut-ikutan memberikan komentar “miring” tentang Unit Kerja Presiden untuk Pengelolaan Program Reformasi (UKP3R) yang menjadi ‘silang sengketa antara Presiden dan Wapres, pertanyaanpun muncul, apakah beliau-beliau tersebut juga akan ikutan juga ngomong mengenai masalah yang tidak ada sangkut pautnya dengan organisasi yang mereka pimpin tersebut, jika Ketua Ketua dan salah seorang anggota UKP3R tersebut bukan Marsilam Simanjuntak dan Erwin Gerungan


Oleh karena itu, pernyataan Buya Syafei Maarif mengenai keraguannya
terhadap “apakah Islam yang selama ini ada dalam otak orang Muhammadiyah
dan NU sudah cukup memadai untuk membawa bangsa dan negara ini ke arah
keadilan, kesejahteraan, dan kemakmuran bagi semua, tanpa diskriminasi”
yang dikemukakan dalam kolomnya di Republika, Selasa, 07 Nopember 2006
menjadi sangat relevan, sekalipun tulisan Buya ini tentunya tidak secara
spesifik menanggapi sikap Dien Syamsudin dan Hasyim Muzadi tersebut.

Ya tentu saja tidak, karena seperti halnya tulisan-tulisannya sebelum
ini, tulisan Buya Syafei Maarif yang saya kopikan di bawah ini,
merupakan otokritik---otokritik yang keras---terhadap paradigma
keberagamaan mayoritas umat Islam dewasa ini, tidak saja di Indonesia,
tetapi hampir di seantero dunia. Salah satu di antaranya, seperti
ditulisnya pada sebuah kolomnya di Republika yang pernah saya forwardkan
ke Apakabar, Buya Syafei Maarif dengan tegas mengatakan bahwa konsep
Khalifah Islamiyah seperti yang diusung Hizbut Tahrir sebagai ‘ahistoris’.

“Bagi seorang beriman, yang final adalah kebenaran wahyu, tetapi
tafsiran terhadap wahyu itu selamanya nisbi. Di sinilah berlakunya
ketegangan antara unsur kemutlakan dan unsur kenisbian yang memaksa kita
untuk senantiasa membuka ruang untuk berdialog dalam upaya mencari
ajaran yang paling mendekati kebenaran,” demikian antara lain tu;is Buya
Syafei Maarif dalam kolom terbarunya ini.

“Tanpa kesediaan untuk berubah ke arah sikap yang lebih cerdas dan
terbuka, saya khawatir Islam di Indonesia hanyalah sebuah gumpalan asap
(ungkapan Iqbal) yang gampang terseret oleh berbagai kepentingan duniawi
yang bermutu rendah,” tulis Buya Syafei Maarif di penghujung kolomnya.

Seperti biasa tulisan Buya Syafei Maarif ini akan membuat sejumlah pihak
kebakaran jengggot, termasuk MUI yang belakang ini getol sekali main
mutlak-mutlakkan seperti pengharaman terhadap ‘sekularisme, pluralisme
dan liberalisme’, yang oleh para pendukung fatwa ini sering diplesetkan
sebagai ‘SIPILIS’ atau memvonis gerakan Ahmadiah sebagai ‘aliran sesat’.

Di masa Buya Syafei Maarif menjabat Ketua Umumm Muhammadiyah, Majelis
Tarjih PP Muhammadiyah pernah mengeluarkan fatwa tematik yang tidak
membatasi ‘Ahlul Kitab” (ummat yang Allah SWT turunkan kitab suci) hanya
para penganut agama semitik (Yahudi, Kristen dan Islam) saja, tetapi
juga agama-agama Timur seperti Hindu, Budha dan Konghucu). Dalam
perspektif fatwa ini, Mas MA Suryawan yang dalam salah satu postingnya
menambahkan a.s. (alaihis salam) di belakang nama Sidharta Gautama
merupakan sesuatu yang akseptabel.

Hampir dipastikan, untuk sementara, fatwa-fatwa semacam itu tidak akan
muncul dari PP Muhammadiyah yang sekarang ini, karena figur-figur yang
berdiri di belakang fatwa tersebut, utamanya Prof Dr Amien Abdullah dan
Prof Dr Abdul Munir Mulkhan tidak masuk di dalam kepengurusan PP
Muhammadiyah di bawah pimpinan Prof Dr Dien Syamsudin


Wassalam, Darwin


====================================================================

Otokritik

Oleh : Ahmad Syafii Maarif

Republika, Selasa, 07 Nopember 2006

http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=270869&kat_id=19&kat_id1=&kat_id2
=



Ada satu ungkapan yang disepakati oleh seluruh umat Islam sebagai
mengandung kebenaran: “Al-Islam shalih li kulli zaman wa makan” (Islam
itu sesuai/baik bagi setiap masa dan tempat). Sebagai sesuatu yang
ideal, saya sendiri setuju dengan ungkapan ini, sebab jika tidak
demikian Islam akan kehilangan relevansinya untuk mengawal perubahan
zaman. Pertanyaan kuncinya bila dikaitkan dengan situasi Indonesia
adalah: Apakah Islam yang ada di kantong Muhammadiyah dan NU sudah mampu
secara moral mengawal perubahan zaman ke arah kebaikan di negeri ini?

Bahwa Muhammadiyah dan NU sering diperhitungkan orang untuk kepentingan
politik sesaat, tentu semua kita mengakuinya mengingat pengaruh kedua
sayap umat itu sudah meresap jauh sampai ke akar rumput. Tetapi, apakah
kerja keduanya sudah cukup efektif dalam upaya memperbaiki moral bangsa,
data empiris menunjukkan bahwa jawabannya masih negatif. Mengapa? Saya
melihat ada tiga alasan utama mengapa antara idealisme dan realitas
masih ada sekat-sekat berupa dinding tebal yang membatasinya.

Pertama, saya mulai ragu apakah Islam yang selama ini ada dalam otak
orang Muhammadiyah dan NU sudah cukup memadai untuk membawa bangsa dan
negara ini ke arah keadilan, kesejahteraan, dan kemakmuran bagi semua,
tanpa diskriminasi. Jika keraguan saya ini mengandung kebenaran, maka
pilihan yang terbuka adalah keberanian untuk meninjau kembali seluruh
paham keagamaan kita dengan Alquran sebagai al-furqan (kriterium
pembeda). Peninjauan ini akan meliputi ranah teologi, filsafat, moral,
politik, sosial, dan ekonomi.

Kedua, apakah doktrin mazhab, nonmazhab, salafiyah, dan yang sejenis itu
tidak perlu kita masukkan saja ke dalam museum sejarah, sebuah gerakan
dekonstruksi sekaligus rekonstruksi perlu dilakukan terhadap semua paham
keagamaan kita yang ternyata sudah tidak shahih lagi untuk memecahkan
masalah-masalah kemanusiaan yang semakin ruwet dari hari ke hari.
Otokritik ini sangat diperlukan, sebab jika tidak abad-abad yang akan
datang boleh jadi masih akan dikuasai oleh kekuatan
sekularisme-ateistik, di mana gagasan besar tentang Tuhan akan tetap
saja tertindas oleh gelombang modernitas yang antikeadilan.

Jika umat Islam tetap saja berkutat dalam paham keagamaannya seperti
selama ini, apakah kita yakin bahwa masa depan akan berpihak kepada
Islam? Gagasan semacam ini telah mulai saya komunikasikan dengan
beberapa pemikir muda Muhammadiyah dan NU untuk dipertimbangkan.

Ketiga, Muhammadiyah dan NU tidak lain dari hasil sejarah yang
kelahirannya dipengaruhi oleh lingkungan zaman tertentu yang kemudian
menampakkan diri dalam sikap-sikap teologis-filosofis dan fiqhiyah yang
dianut para pengikutnya. Semua hasil pemikiran, atau katakan kerja
ijtihad, adalah time-bound (terikat oleh waktu). Dalam perspektif ini,
tidak satu pun hasil pemikiran manusia yang bersifat final, termasuk
pemikiran keagamaannya.

Bagi seorang beriman, yang final adalah kebenaran wahyu, tetapi tafsiran
terhadap wahyu itu selamanya nisbi. Di sinilah berlakunya ketegangan
antara unsur kemutlakan dan unsur kenisbian yang memaksa kita untuk
senantiasa membuka ruang untuk berdialog dalam upaya mencari ajaran yang
paling mendekati kebenaran.

Muhammadiyah dan NU harus bersikap rendah hati untuk tidak memutlakkan
paham keagamaan yang telah mereka pegang selama ini. Perkara khilafiyah
yang kadang-kadang masih marak di akar rumput, perlu disikapi dengan
kearifan tingkat tinggi. Energi umat jangan sampai terkuras oleh
masalah-masalah kecil itu, sehingga mata kita buta untuk melihat
persoalan-persoalan besar yang menjadi misi utama Islam: Rahmat bagi
alam semesta.

Jika saya membaca peta Muhammadiyah dan NU, semata-mata karena itu yang
terdekat dengan kita, dan keduanya dikenal sebagai dua sayap yang
menampilkan ummatan wasathan (komunitas tengah) yang tidak mau terjebak
oleh segala bentuk ekstremitas. Bila dikaitkan dengan wajah dunia Islam
secara keseluruhan yang masih kusut-masai, kepeloporan Muhammadiyah-NU
sebagai kekuatan yang antiekstremitas, maka tidak tertutup kemungkinan
bahwa umat Islam di bagian-bagian lain dunia akan mendapat ilham dari
apa yang telah dan akan ditunjukkan oleh keduanya.

Saya berharap tenaga-tenaga pemikir yang serius dari kedua sayap ini
agar membaca sebanyak-banyaknya dengan daya kritikal yang prima
karya-karya pemikiran Islam kontemporer untuk dijadikan bahan
pertimbangan untuk kepentingan kita di Indonesia. Tanpa kesediaan untuk
berubah ke arah sikap yang lebih cerdas dan terbuka, saya khawatir Islam
di Indonesia hanyalah sebuah gumpalan asap (ungkapan Iqbal) yang gampang
terseret oleh berbagai kepentingan duniawi yang bermutu rendah.