Ada orang bilang, bahwa orang yang sudah tua suka menoleh kebelakang mengenang kebaikan masa lalu dan orang muda hanya menatap kedepan. Yang sebaiknya adalah sikap para apakabarian yang gemar menatap kedepan, kemasa kini dan ke masa lalu sekaligus – agar melangkah dengan benar dan tidak tersesat.



Sebagai bangsa, kurang lebih kita sedah tersesat.
Agama yang semestinya membawa kebaikan, telah menjadi
penyekat yang memisahkan antara sesama bangsa
Indonesia bahkan telah mengobarkan permusuhan dan
menambah derita saja. Kesatuan Indonesia telah
dirongrong oleh mengentalnya semangat kedaerahan.
Hanya di Indonesia bahwa untuk jadi kepala daerah
syaratnya adalah berasal dari putra daerah. Yang
merasa punya negara ini dengan seenaknya menebang
hutan untuk mengisi kantong sendiri dan golongan, dan
melakukan land clearing dengan membakar pohon sehingga
bangsa ini dikenal sebagai pengeksport asap dan kita
tidak malu. Ada yang merasa bisa mengeksploitasi
kekayaan alam kita dan melakukannya tanpa mengindahkan
aturan baku sehingga menimbulkan bencana Lapindo
Bakrie.

Sayang Sumpah Pemuda tidak diceritakan menjadi kisah
populer yang menarik. Bukan sekedar hapalan satu nusa
-- satu bangsa -- satu bahasa yang masuk telinga kiri
keluar telinga kanan.

Satu konteks sejarah patut kita camkan. Mengapa yong
Java, yong Sumatra, Yong Celebes, yong Islamiten bond
dan yong Ambon bisa kumpul tanggal akhir bulan Oktober
1928 itu? Mungkinkah itu terjadi kalau pemerintah
Hindia Belanda sikapnya seperti bangsa dewe dimasa
orde baru? Tentu saja ada semacam tekanan itu so
pasti, tetapi peristiwa bersejarah itu kan terjadi.
 
http://www.media-indonesia.com/


Salam,
RM