Betapa indahnya kalau hari Fitri yang kita dambakan itu selalu jatuh pada hari yang sama. Rasanya dari lubuk hati semua umat akan timbul rasa janggal bila sholat wajib selalu berjamaah, namun pada hari fitri terkadang tak bisa bersama, malah beda waktu sampai 24 jam. Padahal ilmu pengetahuan sudah bisa menghitung akurat pergerakan planet angkasa sampai bilangan detik.



Kalau benar para pemantau hilal itu peduli pada gerak edar bulan, mungkin saja
keesokan paginya fraksi bulan sabit bisa terlihat. Bayangkan semarak 1 Syawal
bila berkumandang serentak di masjid mushola di pagi hari. Umat membatalkan
puasa sekaligus pertanda bahwa awal bulan dipantau terus tanpa harus menunggu 24
jam kemudian. Semua jadi sadar bahwa ilmu astronomi erat terkait dengan
keseharian beribadah. Hikmahnya deviasi hisab rukyat akan semakin kecil.

Metode hisab dan rukyat (yang sering berbeda) sebagai suatu rahmat, lebih
terkesan sekedar upaya kompromi win-win yang mengingatkan kita pada lakon juara
bersama sepakbola Pancasila masa lalu. Malah membiarkan masalah tetap koma
mengambang, memelihara perbedaan serta menjauhkan pendekatan konvergensi menuju
kesatuan masa depan. Sementara kita mengakui peristiwa gerhana yang kompleks
bisa diprediksi dengan tepat beberapa tahun sebelumnya. Begitu pula konversi
kalender berbasis tahun qamariah dan syamsiah sudah bisa dibuat softwarenya
sampai skala detik. (http://aa.usno.navy.mil/data/docs/RS_OneDay.html)

Apakah mutlak melihat hilal harus dengan mata telanjang? Sementara cuaca bisa
mendung berkabut dan terpolusi asap kebakaran hutan. Ironinya orang juga
menggunakan lensa/kaca mata untuk mengoreksi kekuatan daya pandang hanya untuk
melihat benda di depan mata. Dengan tenang mantap percaya, menompang pesawat
terbang yang dipandu peralatan teknologi yang lebih tajam “melihat” dari mata
biasa. Namun untuk melihat hilal demi kepentingan umat tetap memilih cara
tradisional.

Tambahan lagi menurut riwayatnya Nabi SAW telah mengerjakan sembilan kali
puasa Ramadhan, delapan kali 29 hari, satu kali cukup 30 hari. Coba bandingkan
berapa banyak keputusan resmi pemerintah yang menggenapkan Ramadhan 30 hari.
Apakah negara cukup hanya mengakomodasi para wakil pemuka akhli agama tanpa
pembinaan/sentuhan iptek yang terus maju berkembang?

Bila berandai-andai bahwa agama bisa juga jadi komoditas bisnis hiburan iklan
di media dan lebih jauh lagi untuk kepentingan politik, maka beda versi
hisab-rukyat dapat pula dikembangkan untuk tujuan lain. Pengamat politik bisa
mengukur/memetakan potensi Muhammadyah/PAN(?) dengan melihat penganut pro hisab
dan pro rukyat. Bisa pula diukur tingkat kepatuhan rakyat banyak pada
“pengarahan” negara. Ada lagi yang melihat besarnya potensi mengambang yang bisa
digarap kelak.

Bagi yang gemar mencela agama keyakinan orang lain, kontroversi hisab-rukyat
bisa menjadi ruang buat sinis menghina. Ada yang lega bahwa fenomena yang
dipelihara itu akan memperlemah kelompok yang tak disukainya. Tapi bisa cemas
juga bahwa masih banyak umat yang mudah “diarahkan” sesuai pesanan pihak
tertentu.

Hal lain yang menarik ketika sidang para akhli pemantau hilal. Mayoritas
pemantau yang disumpah menyatakan tidak melihat hilal. Andaikata hasil
penglihatan subyektif berbeda dengan fakta perederan bulan dengan bukti ilmiah,
maka suara mayoritas tidak selalu berarti kebenaran atau demokratis.

DJP