Meskipun Hindu adalah agama mayoritas di India, ada 3 orang Muslim yang diangkat menjadi presiden, yaitu Dr. Zakir Hussain, Dr. Fakhrudin Ali Ahmed dan president sekarang Dr. APJ Abdul Kalam. Yang disebut terakhir ini adalah seorang saintis dan insinyur kondang.


Dr. Kalam ini tamatan Madras Institute of Technology
tahun 1958. Setelah lulus dia bekerja di DRDO
(Defense Research and Development Organization)
mula-mula menangani proyek membuat hovercraft. Pada
tahun 1962 dia pindah ke ISRO (Indian Space Research
Organization) dimana dia terlibat dalam tim yang
berhasil meluncurkan beberapa satelit. Disini dia
berperan sebagai Project Director yang mengembangkan
roket nasional yang pertama yaitu Satellite Launch
Vehicle (SLV-III) yang berhasil menempatkan satelit
Rohini ke orbit pada bulan Juli 1980. Dua tahun
kemudian Dr. Kalam ditarik kembali ke DRDO sebagai
Director yang diserahi tanggung jawab untuk
mengembangkan peluru kendali bikinan sendiri. Disini
dia mampu memimpin pengembangan dan operasionalisasi
roket AGNI dan PRITHVI. Dengan prestasinya dia
dijuluki 'Bapak roket India'. Pada tahun 1992 dia
diangkat menjadi Principal Scientific Advisor bagi
pemerintah India setingkat menteri kabinet. Pada
tahun 2002 dia diangkat menjadi presiden.

Sebelum menjadi presiden, Abdul Kalam yang menjunjung
tinggi sistem sekularisme India sudah dicintai rakyat
termasuk anak-anak dengan siapa dia suka berdialog.
Dia selalu membesarkan hati anak-anak yang selalu
disemangati untuk berani bercita-cita. Dalam bukunya
The Ignited, Abdul Kalam menulis bahwa dari hasil
dialognya dengan anak-anak di berbagai tempat di India
tak ada anak-anak yang bercita-cita kalau besar ingin
jadi birokrat atau politikus.

Sebagai orang sekuler yang konsekwem, APJ Abdul Kalam
tidak mau pilih kasih pada salah satu agama. Kalau
sedang berkunjung ke satu kota, protokol kepresidenan
sudah hapal untuk tidak mengacarakan kunjungan ke
masjid kecuali ada kunjungan ke temple Hindu atau ke
gereja. Sejak sebelum jadi presiden, APJ Abdul Kalam
selalu menyisihkan gajinya yang tidak seberapa untuk
menyumbang yayasan Caritas karena dia yakin bahwa
Mother Teresa berbuat kebajikan bagi orang miskin dan
sengsara di India.
 Silakan baca:
http://in.rediff.com/news/2006/oct/14spec.htm

Salam,
RM