Indonesia kita ini gudangnya aneh tapi nyata. Semangat beragama iman takwa lebih banyak diucapkan ketimbang diamalkan. Semangat bela agama tinggi sekali, banyak bertindak anarkis brutal sambil obral takbiran. Dai kondang bejibun enak didengar atau ditonton bak sinetron sementara mantan Menagnya hidup di bui karena korupsi.

Para pemimpin pemuka agamanya tampak soleh fasih santun berbahasa
dan bersikap. Ketika beribadah ketanah suci tertib wukuf di Arafah
tepat tanggal 9 Zulhijah. Tak seorang pun yang pernah ragu atau
protes bahwa hari wukuf itu salah, menurut hisab kami mestinya besok
atau kemarin….

Tatkala tiba di tanah air para pemipin pemuka itu mengabarkan
persatuan kongres umat Islam sedunia di Arafah; tak lupa memuji
jamaah Indonesia paling tertib santun disana. Sepanjang Muharam
sampai Rajab kenangan persatuan di padang Arafah masih membekas.
Namun menjelang akhir Sya'ban mereka mulai bersengketa rebutan gelar
akhli hisab akhli tafsir dan kambuh penyakit saling ingkar plus-
minus satu hari.

Maka mereka mencederai persatuan Arafah ketika menyambut 1 Ramadhan
dan 1 Syawal. Umat pengikut sering bingung dan prihatin, betapa
tidak; tatkala Iptek semakin canggih ternyata masih ada orang yang
memanjat pohon kelapa melihat bulan. Untuk memulai saat beribadah
kepada Tuhan yang sama selalu tidak bulat sepakat, bagaimana bisa
mengamalkan yang lebih besar? Bagaimana bisa menyatukan bangsa yang
plural?

Kalau yang di dalam saja sudah bingung prihatin, apa lagi yang di
luar…
DJP