Ayah mulai membangun rumah tangga dengan ibu tahun 1942. (baca bagian pertama dari memoir ini di arsip Superkoran bulan September)

 

Dua-duanya berprofesi sebagai guru, ayah guru di Sekolah Menengah Khusus (bukan MULO dan bukan perguruan umum) dan ibu guru SD. Beliau berdua menyewa rumah dijalan Pasar no 65 di Pati, sekarang diganti Jalan P. Diponegoro. Kota Pati didesign oleh Belanda dengan rapi dan apik, ada jalan Daendels, yang membelah kota Pati, sekarang diganti jalan Sudirman. Ada rel kereta api disepanjang jalan Daendels yang dilewati kereta api uap. Jalan Pasar sejajar dengan jalan Raya Daendels.

  

Ayah mempunyai buku besar yang disebut 'Buku Keluarga' yang isinya kejadian penting yang dialami oleh keluarga. Dihalaman pertama tertulis suasana perkawinan ayah dan ibu. Dihalaman lain ada catatan tentang zaman Penjajahan Hindia Belanda dan ada catatan di zaman Pendudukan Jepang. Mengagumkan bahwa dizaman itu ayah sudah mempunyai buku penting, yang memudahkan kami putra putrinya tahu dengan pasti kapan dilahirkan, sampai detik2nya dan siapa yang menolong. Abang saya lahir akhir Desember 1943, saya sendiri lahir Nopember 1945, terpaut 2 tahun.Dari buku itu, saya membaca bahwa Negeri Belanda diduduki Jerman pada Mei 1940. Hanya terpaut beberapa bulan setelah ayah meninggalkan Belanda. Akibatnya komunikasi Negeri Belanda dengan negeri2 jajahannya terputus.

 
Tanpa ultimatum, tiba2 Jepang menyerang Pearl Harbour, pangkalan Angkatan Laut Amerika di Hawaii pada awal Desember 1941, yang menjadi awal pertempuran Pasifik. Sandi yang terkenal adalah 'Tora! Tora!' yang artinya (Harimau ! Harimau !)
 
Seperti difilm "Tora ! Tora ! Tora ! " para penyerang dari Jepang kembali ke pangkalan dengan meninggalkan kepingan-kepingan baja dan kepingan-kepingan manusia dan meninggalkan pula ….. dendam Amerika.
 
Ibu berceritera bahwa, tahun 1940-1942 yaitu sebelum zaman Pendudukan Jepang, di kota Pati ada 6 orang Jepang yang memiliki toko kelontong. Mereka menjual barang2 'Made in Japan' yang lebih murah dari barang2 Eropa. Yang paling laris adalah kain2 karena sangat murah. Selain itu juga ada panci2, teko, piring, gelas, buku tulis dan alat2 kantor lainnya, semua made in Japan. 
 
Orang Jepang di Pati itu lebih disenangi dari pada orang Belanda, karena orang Jepang tahu aturan, sangat hormat dan mukanya selalu tersenyum. Hampir semua orang Pati bersimpati kepada orang Jepang. Simpati ini diperoleh dengan menaklukkan perasaan orang Pati dengan cara menghormati adat istiadat dan bersikap yang baik. Orang Pati itu menganggap orang Jepang lemah lembut dan sopan santun, lain dengan orang kulit putih yang umumnya kasar.
 
Tiba2 secara mendadak ke 6 orang Jepang itu menghilang tanpa pamit dan tak seorangpun tahu, termasuk pelayan toko. Tetapi toko tetap buka, dikelola oleh pembantu yang senior. Banyak barang yang tadinya ada, menjadi tidak ada. Penduduk Pati jadi bertanya-tanya, kemana mereka pergi ? Untuk berapa lama ? Belakangan baru diketahui bahwa mereka itu mata2 Jepang yang ditempatkan di karesidenan Pati.
 
Anggapan bahwa orang Jepang itu baik, sopan dan lemah lembut itu sirna setelah bala tentara Jepang menduduki kota Pati. Badan orang Jepang memang kecil2 dibanding tentara Belanda, tetapi galak2 dan suka menyiksa siapa saja yang berani melawan. Siksaan2 dilakukan oleh Kenpeitei atau Polisi Rahasia.
 
Mengapa Jepang berani memulai perang di Asia Pasifik ? Karena orang Jepang benci dan dendam kepada kekuatan raksasa kelompok negara Barat seperti Amerika, Inggris, Belanda dan Australia yang tidak memberi kesempatan kepada Jepang untuk mengembangkan industrinya. Jepang sangat memerlukan sumber daya alam dari luar.
 
Untuk mendapat dukungan dari bangsa Asia yang sedang dijajah bangsa Barat, Jepang merebut Asia dengan cara berperang dan membebaskan Asia dari penjajahan Barat. Tujuan Jepang menggalang Kemakmuran Bersama dibawah Pimpinan Dai Nippon. Jepang berusaha memperoleh dukungan dari negara2 yang baru dibebaskan dari penjajahan Barat dengan janji2 kemerdekaan. Salah satu strategi Jepang yang diterapkan adalah meningkatkan pendidikan di negara2 Asia yang sudah direbut oleh Jepang.
 
SMP Karesidenan Pati Rondole dibuka tahun 1943 oleh Pemerintah Militer Jepang dan pada waktu itu merupakan satu-satunya lembaga pendidikan umum tertinggi diwilayah Karesidenan Pati, yang menyerap lulusan sekolah rakyat dari daerah2 kabupaten Pati, Kudus, Jepara, Rembang dan Blora.

(berlanjut ..)
Gufron Sumariyono
Sekolah SMP Rondole Pati, yang berdiri tahun 1943 ini dikenal dengan nama : Pati Syuu Dai Ichi Shoto Chu Gakko. Kepala Sekolah yang pertama adalah Bapak Oentoeng. Baru beberapa bulan pak Oentoeng jadi Kepala Sekolah tiba2 beliau sudah minta pensiun. Alasannya beliau sudah sepuh, sebenarnya beliau tidak tahan dengan tekanan dari Pemerintah Militer Jepang. Lalu ayah saya yang baru berusia 28 tahun ditunjuk untuk mengganti sebagai Kepala Sekolah.
 
Gedung SMP Rondole Pati merupakan bangunan setengah jadi, terletak diatas bukit, dan dinaungi sebatang pohon kapok randu yang besar dan tinggi. Gedung setengah jadi ini terletak ditengah-tengah ladang dan sawah yang terbuka, yang panas sekali kalau siang hari dan berjarak 5 km dari kota Pati.
 
Kondisi pendidikan Indonesia yang saya baca dari informasi di website-website tentang Indonesia di tahun 1940-an.
– Pemerintah Kolonial Belanda sudah menjajah Indonesia selama +/- 350 tahun.
– Bahwa penduduk Indonesia di tahun 1940an berjumlah 70 juta orang.
– Bahwa 50 juta orang tinggal di P. Jawa.
– Bahwa di Jawa hanya memiliki 8.000 orang lulusan MULO (setingkat  SMP).
– Artinya hanya 0,011 % dari jumlah penduduk 70 juta.
Ini sangat kurang ajar sekali. Pemerintah Hindia Belanda benar2 menghambat kemajuan dan kecerdasan bangsa Indonesia. Belanda menginginkan agar bangsa Indonesia tetap miskin dan bodoh. Belanda ingin mengeruk sebanyak-banyaknya kekayaan Indonesia.
 
Diawal berdirinya SMP Rondole Pati, ayah saya termasuk kuat dalam menghadapi tekanan tekanan dari Jepang. Dengan berjalannya sang waktu, papun yang diminta Jepang diakomodir dan diikuti, ayah takut sekali kepada Kenpetei atau Polisi Rahasia Jepang. Mereka sering menyiksa orang Indonesia yang melawan Jepang dengan bermacam-macam cara. Ada yang dipanggang diterik matahari sehari suntuk, ada yang dimasukkan keruangan penyiksaan. Kenpetai memang dilatih khusus untuk menyiksa.
 
Sejak Jepang menduduki Pati, ayah merubah gaya beliau. Yang tadinya perlente menjadi tidak perlente. Antara lain ayah memakai pakaian ala Jepang, yaitu bahan drill yang ukuran pahanya lebar sekali. Lalu sepeda ayah yang bagus disembunyikan diganti dengan sepeda made in Japan, dengan ban roda dari karet mati. Ban dengan karet mati ini akan membuat sakit pinggang kalau kelamaan bersepedanya. Pernah ban karet mati dari sepeda ayah lepas sendiri, dan hampir jatuh. Ibu berceritera dengan lembut tetapi tetap kocak.
 
Ayah membuat kurikulum SMP sesuai instruksi Jepang. Disamping para murid mempelajari ilmu pengetahuan di sekolah SMP, para murid juga melakukan kegiatan yang membantu jalannya perang. Kerja bakti disawah, diladang, memperbaiki saluran irigasi, dan membantu memanen padi yang hasilnya sebagian diserahkan untuk kepentingan perang Jepang. 
 
Latihan baris berbaris, latihan peperangan (kyoren), latihan merayap (hofuku) dan latihan pertempuran merupakan pengganti olah raga. Semua itu merupakan modal para pemuda untuk menghadapi perang kemerdekaan.Murid laki2 akan berteriak 'chiaaatttt' sambil menusukkan moku-ju (senapan kayu) atau takeyari (bambu runcing). Teriakan akan lebih keras dan bersemangat kalau ditonton murid perempuan. Badan mereka masih kurus2 tetapi tersenyum bangga dan percaya diri.
 
Kepandaian ayah saya yang sangat menonjol adalah musik, terutama sebagai dirigen atau pemimpin koor. Ayah mampu mendidik murid2 SMP yang muda2 dari pelosok2 yang suaranya aslinya 'blero' atau sumbang. Dengan ketekunan dan kesabaran yang luar biasa, disetiap sore mereka para murid diajarin menyanyi, sampai bisa. Dengan hanya diiringi guitar. Gitar ini milik orang Belanda di Pati yang dititipkan ke ayah, yang empunya ketika itu sedang dimasukkan ke camp oleh Jepang. Guitar ini buatan Itali, sudah tua namun suaranya … bagus sekali. 
 
Suasana pendidikan dengan disiplin sekeras baja, dan berada dalam lokasi yang jauh dari kota, dibina oleh guru2 yang arief dan bijaksana, menciptakan suasana belajar yang sungguh2.
 
Anak2 dipompa dengan semangat Asia Timur Raya yang dipimpin Dai Nippon,  Bahasa Jepang menjadi idola dan digandrungi. Setiap tahun SMP Rondole dari Pati mengirim wakil untuk ikut Lomba Pidato dalam Bahasa Jepang di Jakarta. Dan murid dari SMP Rondole Pati selalu menang. Ada kategori Tzuzuri Kata dan Hanashi Kata. Sehingga Pati Da Ichi Shoto Chu Gakko menjadi terkenal di Jawa dan Madura.
 
Balada Anak-anak Ndole.
 
(1)
sejak 13 Mei 1943
putra-putri dari penjuru desa dan kota
anak petani, pengusaha dan pamongpraja
kumpul belajar
dibangunan setengah jadi
dibukit gersang penghujung dsa rondole
(2)
anak-anak ndole
menuntut ilmu
dalam globalisasi "hakko ichiu"
dai nippon no sidono moto
semangat pantang menyerah nippon seishin
jiwa dan tanggung jawab ksatrya bushido
kamplengan disiplin "genjumin bakaero"
kearifan guru menjaga mental tak retak
pidato radio bung karno membakar semangat kebangsaan dan kemerdekaan
kalimat sejuk bung hatta mengantar perhitungan perjuangan
sementara pinggang terlilit kencang
sebatas jatah makanan tonari kumi
(3)
dengan kekencangan ikat pinggang
diantara mayat korban kelaparan
anak-anak ndole ber-kinrohoshi
berbalut lumpur menanam padi disawah
terdera gatal-gatal menuai padi
gaya selebritis dara dengan arit dan pengki ditangan
telapak tangan menebal kapal
oleh genggaman arit perambah tanaman
hantaman cangkul pengolah tanah
 
permainan kibasen, latihan sentokroyen, kirikumi, dan sokogekki
menjadi modal perang kemerdekaan
sebagai combattan dipelbagai palagan
menjadi caraka antara desa dan kota
menjadi palang merah penolong prajurit kita
dalam peperangan gerilya
dara dan jejaka kurus bersabung nyawa
tersnyum bangga
percaya diri
 
(berlanjut ..)
Gufron Sumariyono

Setiap pagi anak2 murid SMP Rondole Pati pergi kesekolah dengan naik sepeda yang ban rodanya dari karet mati, sebagian besar berjalan kaki menyusuri galengan sawah dan jalan setapak. Didepan Keibodan yang naik sepeda harus turun, sepeda dituntun pelan2, kalau berani menaiki sepeda si murid akan ditampar oleh tentara Jepang.
 
Kinrohosi merupakan tugas wajib bagi murid laki2 dan perempuan, yang digalakkan pada waktu itu adalah menanam jarak. Buah jarak ini akan diambil minyaknya dan dikumpulkan disuatu gudang, selanjutnya orang Jepang akan mengangkut minyak jarak ketempat yang dirahasiakan.
 
Pada saat ada liburan 2 minggu, semua murid laki2 termasuk guru2 yang masih muda diwajibkan menjalani kegiatan training PETA (Pembela Tanah Air). Mereka dipinjami pakaian hijau yang berlengan panjang tetapi bercelana pendek, dipinjami senjata laras panjang dan topi baja yang besar dan berat. Selama latihan 2 minggu semua peserta tidur dibarak tentara, didipan kayu beralas tikar pandan bantalnya terbuat dari kapuk yang tipis.
 
Bangun pagi dengan terumpet, disambung olahraga dan kakeysu atau lari2 pagi. Istirahat hanya sekejap disambung dengan memeriksa laras bedhil yang panjang. Kalau dalam pemeriksaan terdapat pasir, si murid akan digampar oleh pelatih. Mandi hanya sebentar ramai2, lalu masuk ruang kelas. Mata pelajaran yang diajarkan teori perang, teori mengadapi musuh, berkelahi dengan musuh, pertahanan dll dll. Disambung praktek dilapangan, biasanya dibukit yang tandus. Ada merayap 1,2,3,4 (dai ichi, dai ni, dai sam, dai yon hoofuku). lelahnya bukan main dan tenggorokan kering sekali karena kehausan. Karena tidak disediakan air minum, para peserta training minum air dari parit yang ada disitu, airnya jernih mengambil airnya dengan memakai topi/boshi. Herannya tidak ada yang sakit perut. Siang pulang ke barak untuk makan dan istirahat. Jam 1500 kumpul lagi untuk latihan nyanyi2 dipimpin Chudanco dibantu Shodanco atau Bundanco. Sore baru boleh mandi, istirahat dan makan malam yang sederhana. Malam ada pelajaran teori tentang senjata. Malam jam 22.00 ada apel malam.
 
Semua pengalaman itu berguna pada waktu perang kemerdekaan ditahun 1945-1950. Para murid dan guru bergabung di BKR (Badan Keamanan Rakyat). Ayah juga ikut BKR memanggul senjata dan berperang di Palagan Semarang, Pucakwangi, dan Surakarta.
 
Pemuda2 dan pemudi2 dan sebagian dari guru muda, dari SMP Karesidenan Pati Rondole turut aktif membela kemerdekaan di front depan. Karena umurnya rata2 masih belasan tahun, mereka belum diberi pangkat apa2, sebagai prajurit biasa saja. Selama perang gerilya mereka ada yang diberi pangkat,  ada yang sersan, sersan mayor paling tinggi letnan. Beberapa diantara mereka meninggal terkena peluru yang ditembakkan tentara Belanda dan tentara Gurka. Kisah2 heroik ditulis oleh para alumni SMP Rondole Pati dan dikumpulkan didalam buku saku kecil yang dibagikan setiap ada pertemuan reuni SMP Rondole.
 
Salah satu dari alumni SMP Rondole Pati adalah mertua dari kawan kita Agam Napitupulu.
 
Selama perang kemerdekaan 1945-1947 ayah saya tidak mengajar, karena beliau turut bergabung di BKR, dan para pemudanya semua turut berperang. Pengabdian pemuda, pemudi dan guru SMP Rondole Pati sangat luas dan tanpa pamrih. Pemudi2 nya bekerja dikesehatan bergabung dengan Palang Merah Indonesia, sebagian di dapur umum. Mereka menyatu dan berhubungan erat sehingga mempertebal rasa persaudaraan diantara mereka. Sampai sekarang beliau2 yang masih hidup, yang rata2 berumur diatas 70 tahun, masih kumpul2. Markasnya di jalan Borobudur no 1, rumah dari Ibu Wahjoeni, kelahiran 1928, angkatan ke-1 SMP Rondole Pati. Sebagian dari alumni menjadi tokoh nasional memegang jabatan yang prestigius dan berbobot.(Persis seperti ex IBMers yang ikatan kekeluargaannya sangat erat dan dipertahankan sampai sekarang).
 
Zaman Pendudukan Jepang adalah waktu yang sengsara bagi keluarga Soegijono. Gaji ayah tidak cukup untuk membiayai hidup keluarga, makan dijatah. Abang saya lahir akhir Desember 1943 dalam kondisi prihatin. Ibu setiap bulan bolak balik ke Bakaran Wetan, Juwana untuk mengambil beras dari mbah Minah. Almarhum Kakek meninggalkan warisan sawah yang ditanami padi.  Ayah pernah sakit typhus dan dirawat di RS Suwondo Pati, saking kritisnya karena kekurangan obat dan perawatan yang amat minim ayah hampir meninggal dunia. Alhamdullilah, setelah 2 bulan dirawat di RS ayah sembuh dan diijinkan pulang. Suwondo adalah murid SMP Rondole yang gugur dimedan perang melawan Belanda di daerah Demak, dekat Semarang. Nama almarhum diabadikan untuk RS di Pati.
 
Balada anak-anak Ndole
 
(4)
jembatan emas terbangun dengan berbagai teman sebagai tumbal
gugur sebagai syuhada di palagan semarang, pucakwangi, surakarta
atau menggeluti pertempuran di dulangmas, dibawah naungan gunung slamet, ciremay, galunggung atau gunung sawal
demi bangsa dan tanah air
berbekal rondole seishin, gelora perjuangan bung karno
perhitungan arief bung hatta
ketegaran melanda pantangan penyair chairil anwar
kelembutan desau cinta dan keindahan ibu pertiwi ismail marzuki
melantunkan elan revolusi
(5)
diseberang jembatan emas kemerdekaan
anak-anak ndole berjuang memperkokoh
pilar-pilar bangsa
melalui ilmu pelbagai lembaga pendidikan
di tanah air, di kaki gunung fuji
dilembah pegunungan alpen
dibawah kibaran stars and stripes banner
dalam kawalan infanteri dangir marwoto
gilasan roda panser sahuntung
dan jajaran baterai artileri eddy achir
kebhayangkaraan kardi, koenadi dan darto
(6)
kini tepat lewat 59 tahun
wajah ayu dara-dara dan tampang gagah jejaka ndole
telah menjadi nenek keriput dan kakek setengah pikun
namun percaya diri dan kearifan hidup
dan bersatu dalam benang merah kebersamaan
mensyukuri kurnia Illahi
dan ketulusan silaturahmi
dibumi pandan aran
(7)
sisa hidup kami
untuk berbakti pada tanah air dan bangsa
dan kebahagiaan keturunan kami
serta kejayaan bunda pertiwi
melalui iman, takwa, amal dan silaturahmi
sampai detak jantung kami terhenti
 
                                                                bumi pandan aran, 12 mei 2002
                                                                anak-anak ndole. 
 
(berlanjut ..)
Gufron Sumariyono
 
Jepang menyerah kepada Sekutu tanggal 14 Agustus 1945. Bala tentara Jepang di Pati kehilangan semangat. Mereka tidak bernafsu untuk merintangi pemuda2 Pati yang sedang terbakar semangatnya mengumumkan kemerdekaan. Para pemuda di Pati sudah tahu bahwa Soekarno-Hatta telah memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 di Jakarta. Dengan bambu runcing dipundak, para pemuda dan rakyat di Pati keluar kejalanan menyambut kemerdekaan.
 
Tentara Jepang di Pati berusaha menyelamatkan diri dari dendam rakyat di Pati dengan jalan mengurung diri didalam asrama. Mereka baru membela diri apabila diserang oleh pemuda2 dari Pati yang berusaha merampas senjata mereka. Usaha merampas senjata yang pada mulanya hanya bersifat perorangan kemudian meningkat menjadi gerakan massa yang lebih teratur. Polisi2 Pati dibantu pemuda dari Rondole dan gurunya, yang pernah dilatih PETA oleh Jepang, berperan sangat aktif untuk melucuti kesatuan tentara Jepang dan mengambil senjata, perlengkapan dan alat-alat militer lainnya. Aksi melucuti dan merebut senjata Jepang di Pati boleh dikatakan sukses.
 
Peristiwa pertempuran lima hari di Semarang, dimana pemuda Rondole dan ayah saya ikut, dimulai awal Oktober 1945. Ceriteranya begini, ketika itu ada sekitar 400 orang veteran2 AL Jepang yang pernah bertempur di Solomon, Pasifik akan dipekerjakan untuk mengubah pabrik gula Cepiring (30 km sebelah Barat Semarang) menjadi pabrik senjata. Begitu masuk kota Semarang, tawanan Jepang ini memberontak, bahkan menyerang tentara Indonesia dan polisi Indonesia yang bertugas mengawal mereka.
 
Orang2 Jepang ini melarikan diri dan bergabung dengan Kidobutai Jatingaleh Semarang, yaitu batalyon Jepang setempat. Mereka bergerak dengan dalih mencari orang2 Jepang yang tertawan. Ada desas-desus bahwa cadangan air di Candi diracuni.
 
Pertempuran mulai pecah dinihari 15 Oktober 1945. Ratusan tentara Jepang Kidobutai dan ditambah ratusan batalyon Jepang yang sedang singgah di Semarang, mereka  bersenjata lengkap, bertempur dengan ribuan orang Semarang, gabungan pemuda dan TKR Semarang yang amat minim persenjataannya. Kisah heroik rakyat Semarang antara lain, sesudah sholat subuh saudara2 muslim keluar dari masjid Agung Semarang bersenjatakan keris, tumbak, bambu runcing, pentungan apa saja turut bertempur, sebagian besar dari mereka gugur diterjang peluru Jepang. Pertempuran paling seru terjadi di Simpang Lima, ribuan orang Semarang bertempur,  termasuk puluhan murid2 dan guru SMP Rondole yang datang dari Pati. Setelah lima hari bertempur lalu cease fire. Korbannya luar biasa banyaknya, ada 2000-an rakyat Semarang gugur dan ada 100 tentara Jepang yang tewas.
 
Pemudi dan murid putri dari SMP Rondole Pati, termasuk ibu Partini, ibu mertua dari Agam Napitupulu, bergabung dengan Palang Merah Indonesia di Pati. Mereka menjalankan tugasnya digaris depan memberi pertolongan kepada korban2 pertempuran. Berkat PMI banyak korban yang dapat diselamatkan dan sebagian dari mereka dapat kembali ke medan pertempuran.
 
Kondisi ayah dan ibu saya waktu awal kemerdekaan memprihatinkan. Ayah sering meninggalkan ibu di Pati, ayah berjuang bersama murid2 SMP Rondole Pati yang sudah dilatih perang oleh Jepang. Mbah Minah dengan dibantu seorang pembantu yang bisu dari Bakaran Wetan, namanya Pele, setiap bulan datang membawa beras dari kampung.
 
SMP Rondole Pati tidak mempunyai kegiatan selama berbulan-bulan. Awal tahun 1947 SMP Rondole resmi dipindahkan dari desa Rondole ke kota Pati. Namanya diganti menjadi SMP Negeri 1 Pati. Ayah dipercaya untuk menjadi Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Pati. Ayah meninggalkan medan perang dan memutuskan untuk kembali ke profesinya sebagai guru. Guru2 SMP Rondole semua pindah. Kurikulum SMP pun diperbaharui, pelajaran di kelas lebih diutamakan.
 
SMP Negeri 1 Pati menjadi sangat populer diseantara Pati, Kudus, Juwana dan Rembang. Setiap hari murid dari Juwana dan Rembang berangkat naik kereta api uap. Ketika kereta melewati sekolah sebagian dari murid laki2 berani meloncat turun dari kereta yang sedang berjalan. Murid2 perempuan berhenti di halte alun-alun, lalu berjalan kaki kesekolah. Murid lain ada yang naik sepeda dengan ban sepeda biasa dan yang lain berjalan kaki.
 
Pada tahun 1950, waktu saya berumur 5 tahun, saya dimasukkan ke Sekolah Frobel (TK) pimpinan ibu Fatonah, disebelah masjid Pati. Setiap pagi jam 07.00 saya berangkat sekolah diantar sepeda oleh Tukang Kebon SMP dan jam 11.00 dijemput pulang. Perlengkapan sekolah yang saya bawa antar lain sabak (batu tulis), gerep, botol diisi teh manis dan roti yang diolesin dengan gula merah. Semua dimasukkan di tas dari kain. Kawan2 lain juga sama bawaannya.
 
Selama 3 tahun, dari mulai kelas 1 sampai kelas 3 SR Kanisius, setiap pagi saya berjalan kaki dari rumah dijalan Pasar di Ngarus kesekolah SR Kanisius yang jaraknya kurang lebih 3 km, melalui jalan kampung yang teduh dan tidak panas. Ayah dan ibu menganggap saya sudah besar jadi tidak perlu diantar dan jemput. Saya diharuskan pergi dan pulang kesekolah sendiri.  Ibu memberi saya tugas menyapu dan mengepel lantai rumah setiap pagi, yang saya kerjakan sebelum berangkat sekolah.
 
Dari usia dini, ayah dan ibu sudah melatih dan mendidik saya untuk bertanggung jawab. Menyapu dan mengepel lantai rumah, sore hari mengasah gerep agar tajam, menjaga kebersihan rumah, pakaian kotor harus diletakkan diember didekat sumur. Dengan lemah lembut ibu mengajarkan hal-hal yang kecil dan sepele tetapi amat sangat penting terutama kebersihan, disiplin, kerapihan, sopan santun atau budi pekerti.
 
Pada waktu saya kelas 3 SR, umur saya 9 tahun, ayah membeli rumah di Mertokusuman dijalan P.Diponegoro. Jarak dengan sekolah SR lebih pendek yaitu hanya 2 km saja. Ayah membelikan sepeda untuk saya ketika saya dikelas 5 SR. Selama ini hanya ada 2 sepeda, 1 untuk ayah dan yang satu dipakai ramai2.
 
Sampai kelas 4 SR saya masih memakai sabak (batu tulis) dan gerep, baru dikelas 5 saya memakai buku tulis, alat tulisnya pensil, setip, pen celup dan tinta. Kami diajarin menulis halus dirumah oleh ibunda tercinta. Tulisan bapak dan ibu saya sangat indah sekali, apalagi kalau memakai pen celup. Luar biasa indahnya seperti melukis.
 
Kehidupan saya sewaktu di SR sederhana tetapi berkecukupan, gaji ayah sebagai guru dan kepala sekolah masih cukup dibelanjakan membeli barang2 keperluan keluarga. Kalau pagi ayah mengajar di SMP Negeri, siang dan sore mengajar di SMP Partikelir. Peranan pendidikan anak2 ditangani oleh ibunda tercinta. Setiap hari natal kami mendapat baju baru sederhana, sedang sepatunya dibeli dari Toko Sepatu Bata. Sepatu Bata sangat terkenal bagus dan kuat bisa tahan lama. Toko ini dikelola oleh orang tuanya Jenny (istrinya T. Subiyanto). Selain menjual sepatu Bata, orang tuanya Jenny memiliki pabrik es lilin, es batu dan pabrik roti terbesar di Pati dengan merek Canada, selain menjual peralatan listrik.
 
Dipintu masuk rumah orang tuanya Jenny yang menghadap ke jalan Daendels atau jalan P. Sudirman itu ada bel listrik. Saya pernah berbuat kenakalan, dua atau tiga kali, yaitu menaruh permen karet ditombol bel listrik, sehingga berbunyi tak henti2nya dan kami cepat2 lari menghilang. Adik saya melapor ke ibu, wah .. saya didukani (dimarahi) oleh ibu, sejak itu tidak pernah lagi. Maaf ya Jenny. 
 
Ibunya Jenny dan ibu saya sangat akrab sekali. Hari Minggu setelah selesai misa ibu suka membeli roti merek Canada, saya mengikuti ibu, kalau kebetulan ada pemilik roti Canada yaitu mamanya Jenny, beliau sering menambah satu roti dan tidak usah dibayar. Mamanya Jenny menyuruh saya memilih roti yang saya sukai. Saya selalu memilih roti kismis atau roti coklat. Kalau saya melihat roti kismis atau coklat, saya sering teringat roti Canada yang diberi gratis oleh ibunya Jenny. Terima kasih ya Jenny.
 
(berlanjut ..)
Gufron Sumariyono
 
Selama 6 tahun saya sekolah di SR Kanisius, bapak dan ibu kami mengajarkan kepada kami tentang tanggung jawab, bekerja yang rajin tanpa pamrih, belajar yang giat agar kelak dapat berguna bagi nusa dan bangsa, budi pekerti, keuletan dalam belajar, kesabaran dalam hidup yang sederhana, hidup yang damai dengan tetangga, menghormati yang tua, menghormati guru.
 
Hidup itu seperti siang dan malam, tidak sama apa yang kamu rencanakan dengan kenyataan. Harus siap untuk susah dan senang. Jangan terlalu sedih kalau sedang mendapat kesusahan, jangan terlalu senang kalau sedang mendapat keuntungan.
 
Mulai usia dini kami sudah diajarkan apa arti hidup, misalnya jangan lekas panik, jangan lekas marah, jangan cepat emosi. Hidup didunia hanya sebentar, kata Ibu dengan lemah dan lembut kepada kami, maka hiduplah yang biasa2 saja, jangan habis2an.
 
Disamping pitutur, bapak dan ibu pun memberikan contoh beramal yang nyata. Mulai dari menolong 2 orang paman dari Bakaran Wetan, Juwana untuk disekolahkan ke SGB di Pati, yaitu sekolah untuk calon guru SR. Kedua paman itu tinggal bersama kami. Sampai kehal-hal yang ada kaitannya dengan keuangan, membantu mereka yang kekurangan dan tidak beruntung dalam mencari rezeki.
 
Dalam hal belajar harus serius, bersemangat dan yakin bahwa nantinya setelah dewasa akan menikmati hasilnya. Setiap malam bapak dan ibu selalu menungguin kami belajar, sering ibu menggorengkan pisang atau singkong untuk kami. Kalau akan ujian maka makanan kami diistimewakan dengan menambah telur goreng. 
 
Bagian yang ke-10 adalah bagian yang terakhir dari serial : Saya bangga jadi anak guru. Mudah-mudahan serial ini dapat menjadi kenangan yang baik dari almarhum ayahanda saya, yang telah meninggal dunia pada bulan Desember 1996.  
 
Mohon maaf kalau ada kata dan kalimat yang kurang berkenan.
 
 
Foto pertama : Keluarga Soegijono, ayah-ibu-abang dan saya sendiri (1948)
 
Foto kedua : Saya ditengah-tengah, diapit oleh abang dan adik. (1949)
 
( habis.)
Gufron Sumariyono