ImageNama ayah saya (Almarhum) Mathias Soegijono, lahir di Jogja, keturunan ketiga dari Pakualaman dari garwa selir, didalam darah ayah mengalir setitik kecil darah biru. Ayah lebih dikenal oleh masyarakat kota Pati, kota dimana saya dilahirkan dan dibesarkan,  dengan nama Pak Giek.

    

Ayah adalah alumni Sekolah Guru zaman Belanda namanya : Kweekschool dan Normaalschool di Muntilan, kota kecil yang terletak diantara Magelang dan Jogjakarta. Sekolah guru dengan sistim asrama ini didirikan tahun 1904 oleh Pastor Gregorius Yosephus Van Lith SJ. Alumni dari Perguruan Van Lith dikenal sebagai guru2 yang handal, sebagian lulusan Van Lith Muntilan beralih profesi dari guru menjadi politikus, pegawai negeri dan pengusaha dan umumnya sukses antara lain Frans Sedam, Doeriat, Kasimo.
 
Sekolah Guru Van Lith itu gedungnya di Muntilan masih kokoh berdiri dan sekarang menjadi Kampus SMU Pangudi Luhur Van Lith, dengan asrama putra yang dapat menampung 100 murid dan asrama putri 40 orang. Prestasi SMU Pangudi Luhur sangat hebat, setiap tahun mengikuti lomba dan selalu menang. Berbagai macam Lomba Science seperti Kimia, Fisika dan Matematika. Juara lomba berdebat dalam bahasa Inggris di Sanata Dharma. Juara lomba mendesign website dan drumband se Jawa Tengah. Hal itu dimungkinkan karena fasilitas fisik dari kampus lengkap sekali. Disitu ada laboratorium kimia, fisika, botani, bahasa Inggris dan komputer yang dikelola dengan benar dan apik. Sistim pendidikan betul2 sangat diperhatikan untuk membina anak2 dengan guru2 pembimbing yang bagus2 dan berdedikasi tinggi.
 
Setelah ayah lulus Sekolah Guru di Muntilan, sekitar tahun 1939an, ayah melanjutkan pendidikannya ke kota Maastricht di Negeri Belanda selama hampir 3 tahun. Ayah kembali ke Indonesia tahun 1941 dan langsung memilih kota Pati sebagai kota dimana ayah mengabdi sebagai guru. Menurut mantan murid ayah, gaya ayah saya waktu itu sangat elegan dan perlente. Pakain dinasnya adalah celana putih, berdasi, berjas putih dan bertopi model Vietnam warna krem. Kendaraan ayah waktu itu sepeda, merknya Fongers buatan Belanda. Di Pati ayah dikenal dengan nama Meneer Soegijono. Banyak gadis2 Pati yang jatuh hati dengan pemuda Soegijono.
 
Ibu saya bernama Sri Jahjoe kelahiran desa Bakaran, Juana, lulusan Kweekschool, sekolah untuk guru SR, dari Salatiga. Ibu lebih dikenal dengan nama bu Giek.
 
Ayah jatuh cinta kepada ibu, ketika ibu mengikuti kursus bahasa Belanda yang dipimpin ayah. Ini artinya guru mencintai muridnya sendiri.  Dan lahirlah 12 orang anak dari rahim beliau. Saya putra ke-2 dari 12 orang.   
 
Ayah dan Ibu adalah pendidik sejati, beliau berdua alumni sekolah guru yang terkenal saat itu dan membaktikan seluruh hidupnya sebagai guru sekolah.
 
 


Bagian 2
ImageKota Pati itu kotanya damai, bersih dan kecil, para pendatang baru dikota Pati akan cepat sekali dikenal dan diketahui oleh para penghuni lama. Demikian juga dengan ayah saya, dengan postur tinggi 174 cm, muda, simpatik, selalu senyum dan sangat agama-is, ayah cepat diterima oleh penduduk kota Pati.
Ayah saya dianggap priyayi yang terpelajar karena pernah sekolah di Belanda, dan sangat potensial sekali untuk menjadi pemimpin dan guru yang handal, mengalahkan guru2 lain di kota Pati.
   
  Kepopuleran Meneer Soegijono dan terutama kursus Bahasa Belanda yang didirikan beliau menjadi magnit yang dahsyat yang mampu menjadi daya tarik gadis2 remaja dikota Pati. Ruangan untuk mengajar yang berkapasitas 30 orang menjadi penuh sesak dalam waktu yang sangat singkat, dan harus pindah ke ruangan yang lebih lebar untuk menampung animo yang meledak.
   
  Bagaimana ayah jatuh cinta ke ibu? cerita menurut ibu begini, ketika itu ayah sedang membina hubungan serius dengan seorang guru cewek muda nan cantik. Waktu mau dilamar maka ayah mengajukan permintaan agar upacara pemberkatan perkawinan diadakan di Gereja Katholiek dan meminta ibu guru muda nan cantik itu untuk dibabtis dulu menjadi katholiek. Jawaban dari cewek guru muda nan cantik mengagetkan ayah, karena dia tidak bersedia dibabtis menjadi katholiek, karena orang tuanya tidak setuju. Singkat cerita hubungan asmara kedua sejoli yang sama2 memiliki profesi sebagai guru putus.
   
  Berita ini menyebar diantara murid kursus bahasa Belanda dengan cepat bagai kilat. Karena sudah putus, maka ayah mulai mengalihkan cintanya ke gadis lain. Diantara murid kursus bahasa Belanda yang diasuhnya, terdapat 'ibu saya' yang baru berumur 18 tahun, baru beberapa bulan ikut kursus bahasa belanda, tetapi ibu saya sudah menunjukkan bakat bahasa yang luar biasa.
   
  Untuk menghindari patah hati yang kedua, yang merupakan pengalaman bercinta yang pahit, maka ayah menghindari berpacaran seintensif yang pertama. Ayah langsung meminta ibu saya apa bersedia menjadi istri ayah? Apa ibu saya bersedia masuk katholiek ? Apa ibu saya bersedia kawin digereja ? Jawaban ibu saya lurus dan langsung, kalau Meneer Soegijono serius maka Meneer harus menghadap ke nenek Suminah, ibunya ibu ini yang sudah janda ditinggal mati kakek ayah dari ibu. Waktu itu rumah mbah Minah di desa Bakaran Wetan, kira 6 km dari Juana.
   
  Tanpa menunggu lama, hari Minggu Meneer Soegijono dan gadis muda nan cantik Sri Jahjoe berangkat. Dari Pati ke Juana naik spoor boemel, istilah yang lain sepur truthook, karena kalau jalan berbunyi thook thook. Tenaga loko penarik kereta api ini berasal dari boiler yang dibakar dengan kayu api, setelah air di boiler menjadi uap maka tenaga uap ini dipakai untuk menggerakkan roda loko yang besar dan berat. Asap lokonya berwarna putih mengepul ngepul keluar dari cerobong di kepala loko, bunyi peluitnya melengking .. tuiiiiit .. tuiiiit …
   
  Dari stasiun kereta api Juana kedua muda-mudi itu pindah naik  'andong',  yaitu kereta dengan roda kayu berlingkaran besar dan ditarik oleh kuda, menuju ke desa Bakaran Wetan, menemui Nenek 'mbah Minah'.  Jalan ke desa Bakaran rusak berat kalau kereta 'andong' sedang jalan para penumpangnya harus berpegangan dipinggiran, karena banyak lubang dijalan yang cukup dalam, walau 6 km jaraknya, tetapi memerlukan waktu kira2 sejam dan cukup membuat pinggang sakit.
   
  Sebelum mengambil keputusan mbah Minah berembuk dahulu dengan para pini sepuh dari famili beliau. Ayah saya ditanya atau lebih tepatnya 'diinterograsi' oleh tim yang menanyakan asal usulnya, pekerjaannya, sekolahnya, dan lain lain. Semua berlangsung dengan bahasa 'Jawa Kromo Inggil'. Keputusan dari tim investigasi, semua setuju kalau putri mbah Minah, Sri Jahjoe, akan dijadikan istri oleh Meneer Soegijono, dan setuju kalau ibu masuk katholiek. Bukan main bahagianya ayah saya mendengar sendiri bahwa mbah Minah dan pini sepuh menyetujui semua permintaan ayah saya..
   
  mbah Minah sendiri juga bahagia karena dapat mantu 'priyayi' dari Jogja, yang berkwalitas tinggi, orangnya gede duwur gagah dan punya bayaran (gaji) yang tinggi. Ayah saya menjadi tontonan dan dikagumi semua saudara2 ibu, pakde, paman, bude, bibik  yang masih sederhana2 dan miskin2.  Sebagian besar dari mereka hanya sekolah SR 2 tahun, sekedar bisa baca dan menulis. Sedang ibu saya yang lulusan Salatiga sudah dianggap terpelajar sekali.
   
  Desa Bakaran Wetan ditahun 1941 masih sangat tradisionil, kumuh dan betul2 desa yang tertinggal.  Almarhum Kakek saya, suaminya mbah Minah itu pedagang yang kaya di Bakaran Wetan. Sawah nya banyak, tambak bandengnya banyak, kerbaunya banyak, toko kelontongnya besar dan merupakan satu-satunya toko kelontong di Bakaran Wetan. Kalau kakek saya 'kulakan' minyak goreng kacang selalu membeli dari pak Loo dikota Juana, satu2nya pabrik minyak goreng dengan bahan baku kacang tanah. Pak Loo ini adalah ayahnya Thomas Subiyanto, senior saya di IBM Indonesia, seorang Insinyur lulusan ITB. Biaya sekolah ibu saya selama ibu sekolah di Kweekschool, sekolah guru SR,  di Salatiga, berasal dari keuntungan dagang kakek saya. Kakek meninggal karena sakit lever dan ketika meninggal ibu saya sedang sekolah di Salatiga.
   
  Ayah dan Ibu menikah awal 1942, dengan sederhana, dan ada makan2 malam yang dimulai jam 19:00 dan yang dihadiri tetangga dan kawan2 dikota Pati. Ditengah2 pesta kawin tiba2 menggelegar bom diluar kota Pati yang ditembakkan oleh kapal2 Jepang yang berlabuh di pantai dekat Juana. Maka pesta kawin langsung bubar dan masing2 tamu menyelamatkan nyawanya sendiri. Pengantin belum sempat berfoto, karena tukang fotonya sudah keburu pergi, maka tidak ada dokumen perkawinan yang berupa foto.  
   
  Akhirnya pesta kawin di Bakaran Wetanpun dibatalkan karena suasananya sudah mencekam sekali. Beritanya bala tentara Jepang sudah mendarat di Semarang dan Juana dan sedang mau untuk menguasai kota Pati. Semua orang ketakutan lebih2 orang2 Belanda yang tinggalnya di kota Pati mereka berusaha menyelamatkan nyawanya dengan mengungsi ke pedesaan dan lain2nya. Sebagian dari barang2 berharga dititipkan ke orang lain, ayah saya juga ketitipan barang2 orang belanda ini.
   
  (berlanjut ..)
  Gufron Sumariyono


Bagian 3
Image

Juwana ditahun 1939 an.

 

  Kecamatan yang kecil, kumuh, tidak bersih, kekurangan air minum. Para penduduk Juwana dan desa sekitar Juwana umumnya mempunyai kesukaan adu jago atau menyabung ayam. Salah satu tempat menyabung ayam adalah halaman belakang dari Pakde saya di Bakaran. Inilah hiburan satu2nya di Juwana. Karena lpenerangan masih lampu minyak tanah, radio masih belum banyak yang memilikinya. Radionya masih model lama, besar sekali merek yang terkenal adalah Philips. Belum ada radio transistor. Hiburan lain adalah kethoprak, yang gedung dan panggung masih sederhana, ada di Juwana.

  Dirumah kakek saya ada radio yang besar, ada lampu bagus, dikenal dengan nama 'Lampu Belanda' atau 'Dutch Lamp' yang memakai minyak tanah. Lalu ada lampu petromax. Rumah kakek di Bakaran model Joglo, besar dan luas, terbuat dari kayu jati 100%, pintu utamanya ukuran tinggi 4 atau 5 meter, lebar 2 x 1 meter lebih. Yang luar biasa adalah ketebalan dari pintu jati tersebut, kira2 tebalnya 10 cm atau mungkin 15 cm. Saya tidak kuat membuka, sangat berat sekali. Dirumah itulah ibu saya dilahirkan dan dibesarkan sampai tamat sekolah SR desa.   
   
  Ibu menceriterakan kisah beliau bersekolah guru di Kweekschool di Salatiga tahun 1939. Inilah ceriteranya. Kakek termasuk orang kampung yang visioner, beliau menginginkan agar anak2nya sekolah setinggi-tingginya. Karena kakek sering berhubungan dengan teman dagangnya yang berasal dari Semarang, maka beliau tahu ada sekolah guru SR di Salatiga.
   
  Setelah tamat SR di Juwana di tahun 1939, ibu saya ditawari oleh kakek untuk sekolah guru di Salatiga, dan ibu mau. Kakek amat bangga mempunya putri pertama seperti ibu, kulitnya kuning langsat, cantik dan rajin membantu kakek ditokonya. Melayani pembeli dan mencatat uang masuk dan uang keluar. Kakek sudah punya feeling kalau ibu punya bakat sekolah. Kakek lalu menceriterakan kepada ibu saya, bahwa uang yang disimpan kakek sudah lumayan banyak dan mencukupi untuk membiayai sekolah anak2 yang berjumlah 3 orang, termasuk membiayai ibu sekolah di sekolah guru di Salatiga.
   
  Halangan ibu untuk sekolah guru datang dari nenek. Pada suatu malam nenek mengajak ibu berbicara, maksud nenek adalah  untuk membatalkan niat ibu pergi sekolah guru di Salatiga, karena ongkos sekolah dan asrama mahal sekali. Kata nenek, uang sekolah guru akan dibelikan emas dan akan diberikan kepada ibu saya semuanya, berupa kalung, gelang krincing, anting2, giwang dll dll. Ibu menolak bujukan nenek, pokoknya ibu saya ingin sekolah guru di Salatiga, ibu saya ingin jadi guru SR. Perlu diketahui bahwa pada tahun 1939, ibu saya adalah satu2 nya perempuan muda yang berani membuat rencana sekolah sampai ke Salatiga, ibu adalah pendobrak dan perintis kemajuan dari desa Bakaran Wetan. Berita kalau ibu akan sekolah guru di Salatiga sudah membuat heboh seluruh desa Bakaran Wetan.
   
  Mereka kawatir, kalau ibu sakit siapa yang merawat ? Kalu ibu rindu siapa yang akan mengantar pulang ke Juwana ? Kalau ada gangguan di Salatiga siapa yang akan melindungi ? Kalau kehabisan uang bagaimana cara mengirimkannya ? Kalau rindu masakan bandeng siapa yang akan mengantar bandeng ke Salatiga ? Umumnya penduduk masih menganut konsep hidup : Mangan ora mangan pokoke biso kumpul bareng.
   
  Saya kagum akan keberanian dan semangat dari ibu. Ibu tidak mudah dirayu, walau ibu diiming-imingi emas dan uang oleh nenek, ibu tetap pada pendiriannya dan ibu tetap berniat untuk masuk kesekolah guru di Salatiga.
   
  Ceritera ini sering diceriterakan ibu kepada putra dan putrinya yang berjumlah 12 orang. Sebuah pelajaran spiritual yang amat tinggi dan dalam sekali. Bahwa ilmu yang diperoleh dengan sekolah, ilmu yang diperoleh dengan perjuangan nilainya lebih tinggi dibanding emas. Bahwa harga diri seorang manusia itu tidak boleh dijual atau diganti dengan emas. Ibu saya ditahun 1939 sudah memiliki prinsip hidup yang luar biasa tingginya. Ibu saya sekarang masih hidup, berumur 82 tahun, fisik beliau memang lemah, terkena osteophorosis sehingga kekuatan tulang tinggal 40% alias kropos, tetapi daya ingatan beliau masih kuat sekali. Kami semua amat menghormati ibu kami.
   
  Dipagi hari diawal tahun 1939, dengan mantap dan yakin ibu berangkat ke Salatiga untuk sekolah guru,  diantar paman, karena kakek sudah mulai sakit2an. Yang ngantar dari Bakaran Wetan ada kira2 ada 5 andong masing2 berisi 6-7 orang, mereka ngantar sampai stasiun Juwana. Dengan berlinang air mata para paman, bibi, saudara2 lain melepas ibu berangkat. Kata Ibu perjalanan dari Bakaran ke Juwana dengan andong lancar, dari Juwana ke Semarang naik sepur bumel lancar, lalu dari Semarang ke Salatiga naik kereta api gunung, yang relnya ada 3 karena ditengah ada gerigi untuk naik gunung pun lancar.
   
  Pemandangan sekitar Salatiga bagus sekali karena ada pegunungan, ada danau dan sangat hijau sekali. Berlainan dengan Juwana-Pati yang datar dan sedikit gersang.
   
  (berlanjut ..)
  Gufron Sumariyono

 


Bagian 4

ImageSekolah guru Noormalschool di Salatiga di pertengahan tahun 1938. Sri Jahjoe nan cantik, gadis dusun asal Bakaran Wetan, Juwana, terlihat sangat sedih sekali.

 Berhari-hari Sri Jahjoe menangis sampai matanya bengkak. Hal ini disebabkan karena baru saja diberi tahu oleh guru pembimbingnya Mevrouw Suminah yang menerima  surat dari paman Sri Jahjoe, bahwa ayah nya Sri Jahjoe, telah meninggal dunia. Sudah berbulan-bulan kakek terbaring dirumah, karena penyakit lever.
Pada usia 14 tahun, Sri Jahjoe sudah menjadi anak yatim.
 
Sri Jahjoe berangkat ke Salatiga pada hari Selasa dan kakek meninggal pada hari Kamis, hanya terpaut 3 hari saja.
 
Masih terbayang-bayang wajah kakek yang terbaring ditempat tidur pada hari Selasa pagi, beberapa jam sebelum ibu naik andong.
 
Inilah dialog yang terjadi pada hari Selasa pagi, seperti yang diceriterakan ibu kepada saya :
 
Kakek : 'Kowe disangoni piro karo ibumu nduk ?' (Kamu disangoni berapa oleh ibumu nak)
 
Sri Jahjoe : 'Seringgit pak' (satu ringgit di tahun 1938 = 2,5 gulden dan itu banyak sekali).
 
Kakek : (lalu menarik uang dari bawah bantal) Iki tak tambahi seringgit meneh, dadi kabeh rong ringgit. Wis kowe ora usah ngrukoke omongane wong2 liyo, kowe kudu manut karo omonganku, kowe kudu mangkat sekolah nang Salatiga. Aku njaluk didongakke supoyo biso waras, nek aku wis waras mengko aku niliki kowe nang Solotigo. (Ini saya tambahi satu ringgit lagi, jadi semuanya dua ringgit. Kamu tidak usah mendengarkan omongan orang lain, kamu harus menurut apa yang saya katakan, kamu harus sekolah guru di Salatiga. Saya minta didoakan saja agar dapat sembuh. kalau sembuh aku akan menengok kamu di Salatiga).
 
Sri Jahjoe : Nggih pak, kulo dongakaken supados bapak saged pulih sehat. Mangke nek sampun sehat nuweni kawulo ing Solotigo. Kulo nyuwun pamit nggih pak.  (Iya pak, saya akan mendoakan agar bapak dapat sembuh. Kalau sembuh bapak bisa menengok saya di Salatiga, Saya mohon diri ya Pak).
 
Kakek : Yo wis nduk mangkato saiki supoyo ora ketinggalan sepur.  (ya sudah nak berangkatlah sekarang juga agar tidak ketinggalan keretanya).
 
Ibu lalu bersujud, mencium ujung kaki kakek, mencium lutut kakek, mencium tangan kakek dan terakhir mencium pipi kakek. Kedua orang itu berlinang airmata. Dengan dibantu paman, kakek bangun dan kakek mencium kening putrinya yang disayangi, Sri Jahjoe.
 
Menurut penjelasan ibu, perpisahan pada hari selasa pagi itu sangat mengharukan. Dalam kondisi sakit lever yang berat, tidak bisa bangun, kakek tetap kokoh memberi semangat kepada putrinya. Nenek, para famili, paman, bibi dan adiknya Ibu turut menyaksikan dan semuanya menangis.
 
Tiga hari sesudah ibu berangkat ke Salatiga kakek meninggal dunia. Innallilahiwa'inailaihi rojiun. Andaikata Sri Jahjoe nan cantik berangkatnya ke Salatiga ditunda 3 hari lagi, nasibnya akan lain sama sekali. Nasib manusia sungguh benar ada ditangan Yang Maha Kuasa.
 
Nasib yang malang terjadi pada adik kandung ibu yang bernama Sri Karlin, kami biasa memanggil Lik Lien. Dia tidak disekolahkan ke Salatiga, walau sudah dijanjikan oleh kakek.
 
(berlanjut …)
Gufron Sumariyono


Bagian 5
ImageAyah mulai bekerja sebagai guru di Pati tahun 1940. Kota Pati sudah menjadi semacam 'Ibukota Karesidenan' membawahi Kabupaten Kudus, Rembang, Blora, Jepara dan Pati sendiri.

 Kata ayah ada beberapa orang Belanda yang bekerja dipemerintahan sebagai pegawai Pemerintahan Hindia Belanda, antara lain Residen, ada yang di pekerjaan umum. Karena fasih berbahasa Belanda ayah cepat menjadi akrab dengan kelompok Belanda di Pati. Ada kuburan Belanda yang terletak tidak jauh dari rumah, tanahnya luas dengan ratusan kuburan yang tertata rapi, apik ada patung2, ada marmer putih2, dan aneka design. Saya dan kawan2 sering berburu burung memakai 'plintheng' atau ketepel.
 
Hasil bumi dizaman kolonial Belanda yang terkenal di Karesidenan Pati adalah gula. Di Karesidenan Pati ada 5 pabrik gula yang besar, 2 di Kudus dan yang 3 ada di Pati. Kondisi kota Pati sangat bersih, rapi dan teratur. Kesejahteraan penduduk Pati sangat bagus, kata ayah penduduk Pati makmur dan sejahtera. Ayah memutuskan untuk mengabdi sebagai guru di Pati. 
 
Karena penasaran saya membuka website tentang gula dizaman Hindia Belanda, disitu tertulis bahwa produksi gula di Jawa adalah 14,8 MT/ha, dengan rendemen rata2 10%. Bandingkan dengan angka dari Dep Pertanian tahun 2002, produksi gula 4,75 MT/hektare dengan rendemen 6%.
 
Mengapa hal ini bisa terjadi ? Menurut analisa 'tokoh ekonomi' yang saya ajak berdiskusi, ada beberapa faktor yang utama antara lain : bahwa terjadi pemerasan tenaga kerja kolonial Belanda ke bangsa kita, bahwa masih diberlakukan sistim tanam paksa, bahwa upah para buruh sangat rendah, sistim sewa tanah berjangka panjang, pola cocok tanam yang sangat bagus dan manajemen Belanda yang bagus. Hal2 itu membuat pabrik2 gula di Jawa menangguk untuk besar sekali.
 
Angka lain yang mencengangkan saya adalah, ternyata total produksi gula di pulau Jawa zaman Hindia Belanda mencapai 3 juta ton per tahun, dengan jumlah export 2 juta ton per tahun. Artinya 66% dari 3 juta Ton produksi gula itu diexport keluar negeri.
 
Bandingkan dengan kondisi sekarang, dari data di Dep Pertanian tertulis bahwa Indonesia membutuhkan gula di tahun 2003 sebanyak 3,3 juta ton/tahun. Yang diimport sebanyak 2,2 juta ton sedang produksi dalam negeri 1,1 juta ton.
 
Berapa persen tanah yang ditanami tebu ? Sangat luas sekali dan memang saya masih ingat dengan jelas, bahwa kalau saya ke Trangkil dan Tayu, desa2 yang terletak diutara kota pati, maka sepanjang jalan puluhan kilometer pemandangan yang saya lihat adalah tebu melulu. Apalagi kalau tebu sudah agak tua dan siap panen, maka bunga tebu merupakan pemandangan yang indah.
 
Gigi saya dan abang saya sangat bagus, utuh dan akarnya kuat sekali, belum ada yang dicabut. Hal ini disebabkan karena ketika masih kanak2 kami suka mencuri tebu di kebun tebu, lalu memakan tebu disawah diterik matahari yang panas dengan enak sekali. Ada tebu yang hijau agak lunak dagingnya tapi kurang manis, ada tebu yang kuning agak keras dagingnya dan rasanya manis sekali. Gigi kami terbiasa untuk mengupas kulit tebu, kalau tidak ada pisau. Atau pisau hanya satu tetapi dipakai ramai2, karena kami tidak sabar maka gigi kami dipergunakan untuk mengupas kulit tebu. Kami melakukan ritual memakan tebu hampir setiap hari, karena tidak setiap saat ada tebu. Setahun hanya 1 kali atau 2 kali musim tebu tergantung musimnya. Selesai giling sudah tidak ada tebu lagi disawah.
 
Kadang2 kami membawa 3-4 lonjor tebu kerumah dan kalau ketahuan ibu sering ditanya, dan dinasehati oleh ibu 'agar jangan mencuri tebu, itu dosa'. Ibu menasehati dengan lemah lembut sambil menyiapkan makan siang, dan besoknya kami lakukan lagi.
 
Disetiap kebun tebu selalu ada mandor jaganya, terlebih-lebih kalau tebu2 itu sudah tua, siap panen dan sudah muncul bunga2nya. Kami sering sekali kepergok mandor tebu, kalau ini terjadi maka terjadi permainan kucing2an di kebun tebu. Umur kami waktu itu baru 9 tahunan dan terus kami lakukan sampai umur 13 tahun. Asyik sekali main kucing2an menghindari mandor tebu. Pernah saya ketangkap sekali takutnya bukan main. Saya masih ingat, mandornya kurus hitam dan membawa clurit dipinggangnya, saya digelandang kekantor kelurahan. Disana tebu yang dan bunga tebu yang saya ambil ditaruh dimeja dan mandornya lalu berbicara dengan orang disitu. Tiba2 keluar anak kecil yang seumur saya, dan dia itu kawan sekolah saya di SR Kanisius. Saya dinasehati oleh orang kelurahan dan disuruh pulang saja. Besoknya saya dan kawan saya itu pulang sekolah bersama-sama naik sepeda, kerumah dia dan ritual makan tebu terjadi lagi.
 
Wah .. saya ngelantur agak jauh .. tapi tidak apa2, sebab saya sudah menemukan kunci jawaban, mengapa ayah saya memilih kota Pati untuk mengabdi sebagai guru.
Rupanya Pati menyimpan magnit yang kuat dibidang industri gula.
 
(berlanjut ..)
Gufron Sumariyono