Pembicaraan tentang syariat islam adalah pembicaraan yang meletihkan. Dan menjemukan. Yang pro cenderung emosional, yang curiga cenderung paranoid. Secara pribadi, saya termasuk yang skeptis terhadap syariat agama apa pun, hukum agama apa pun, untuk diterapkan di peradaban manusia sekarang ini



Manusia-manusia di abad 20 sudah lebih cerdas dibanding hukum-hukum
yang tertulis di kitab suci mana pun! Ketika sebgian negara di muka
bumi menanda-tangani HAM dan Konvensi Jenewa, itu merupakan bukti
kearifan manusia dalam berperadaban tanpa menyebut agama.

Ada agama yang mengeklaim memperjuangkan hak-hak perempuan, karena
membebaskan perempuan dari diskriminasi kaum laki-laki pada zamannya.
Tapi di abad 20 ini emansipasi dan pejuang gender sudah melompat jauh
dari agama apun yang memperjuangkan hak persamaan pria dan wanita.

Kini, di muka bumi ini, ada 8 negara industri maju (G-8) yang
menguasai sebagian besar kekayaan dan menjadi simbol kemajuan planet
ini. Tak satu pun dari negara-negara itu yang menerapkan syariat
agama di negaranya.

Dari sana, antara lain, saya setuju dengan konsep sekularisme, dalam
arti negara tidak turut campur dalam urusan agama warganya, dan harus
berjarak dengan agama apa pun yang berkembang di negara itu.

Meski saya muslim, menyekolahkan anak di sekolah Islam, dan anak laki-
laki saya menggunakan nama depan Mohamad, saya tidak setuju penerapan
Syariat Islam dalam kehidupan, apalagi jika diterapkan sebagai hukum
negara dan pemerintahan.

Gagasan menerapkan Syariat islam adalah gagasan mundur, romantisme
masa lalu yang semu, dan sangat mudah ditafsirkan keArab-araban,
keTimur-Tengahan.

Penerapan Syariat Islam lebih memperlihatkan ungkapan kepanikan,
ketidak-percayaan diri atas kemampuan kita sebagai bangsa untuk
bangkit menyamai negara-negara yang sudah maju, lalu menjadi eskapis.
Hukum Tuhan menjadi pelarian. Karena Tuhan tak mungkin salah.

Alih-alih meniru Korea, Jepang, dan Cina, agar bisa menjadi Macan
Asia, syukur-syukur masuk G-8, rakyat Indonesia malah diarahkan
menjadi Taliban, masuk Hisbut Thahir, dan berkiblat ke Afganistan!

Secara pribadi, saya menganggap ajaran agama merupakan kontruksi yang
dibuat manusia berdarahkan tafsir-tafsir atas wahyu yang diturunkan
Tuhan. Aturan-aturan yang disebut syariat itu sebagian besarnya
adalah kontruksi atas tafsir-tafsir.

Tambah hari saya tambah sadar, bahwa Tuhan juga punya calo. Ulama,
ustad, pendeta, pastur, rabi, banyak mengambil posisi sebagai calo
Tuhan, calo hukum Allah, dan calo moralitas. Dan mereka dapat untung
banyak. Dan mereka tak malu-malu melakukan manipulasi. Sadar dan
tidak sadar, dengan pengetahuan atau keterbatasan pengetahuannya,
melakukan manipulasi, dan mencari celah keuntungan di dalamnya.

Bagi saya mustahil Tuhan hanya menerima ajaran satu agama, lalu
mengabaikan agama-agama yang lain di dunia ini. Mustahil menerima
satu aliran agama dan menolak aliran-aliran agama yang lain. Gak
logis sama sekali.

Agama adalah masalah pribadi, hubungan manusia dengan Tuhannya.
Setiap orang punya kebutuhan, dan ukuran yang berbeda dalam hal
menerapkan spiritualitas agama bagi dirinya. Memilih shalat hanya 5
menit, atau disertai zikir berjam-jam adalah pilihan dirinya, tidak
bisa dipaksakan siapa pun.

Saya sendiri menyekolahkan anak-anak saya di sekolah islam karena
secara umum kurikulumnya bagus, dan modern, tidak semata-mata belajar
agama. Kebetulan, anak-anak juga tidak ada yang luar biasa. Bisa baca
Quran bisa menikmati MTV.

Pembiacaraan dan perdebatan tentang syariat agama, syariat Islam
khususnya, sering jadi meletihkan, dan menjemukan, karena umumnya
para pembicara/pendebat cenderung nebeng, berlindung, dari ayat-ayat
kitab suci, yang dipilih-pilih untuk mendukung gagasan pikirannya
sendiri, lalu berkata: Itu bukan saya yang bilang, lho, itu kitab
suci. Itu mutlak benar! Nggak mungkin salah.

Padahal, di situ kesalahannya. Sudah bertahun-tahun belajar agama
masih nggak percaya diri. Nggak punya pikiran sendiri.


Wassalam,


Dimas.




--- In apa