Ada sesuatu yang menarik dikupas dalam Majalah Gatra terbitan sepuluh tahun yang lalu 7 Juni 1997. Dalam rubrik Agama pada majalah tersebut diturunkan sebuah tulisan yang membicarakan masalah sekitar beberapa Fatwa yang dikeluarkan oleh MUI dan tanggapan beberapa Cendekiawan dan Ulama-Ulama Islam Indonesia terhadap beberapa Fatwa MUI dan sampai dimana keterikatan ummat Islam Indonesia terhadap Fatwa yang dikeluarkan oleh lembaga yang dibuat oleh Pemerintah itu.



Masalah kodok.......

Mungkin sudah kehabisan bahan tentang apa yang akan difatwakan,
Ulama-Ulama MUI ini bikin kejutan lagi dengan Fatwa nya tentang kodok. Kodok
adalah suatu makanan yang jarang dimakan oleh orang-orang Islam itu
nampaknya menarik pula bagi mereka untuk dijadikan objek Fatwa. Maka
keluarlah Fatwa tentang pengharaman kodok untuk dikonsumsi oleh orang
Islam.

Tetapi karena kodok merupakan komuditi ekspor yang mendatangkan banyak
devisa bagi negara maka Fatwa MUI ini hanya mengharamkan buat dimakan tetapi
boleh membudi-dayakannya untuk dikonsumsi orang lain. Jadi menurut mereka kodok
hanya haram untuk dimakan orang Islam tetapi halal untuk diternakkan untuk
dimakan orang lain. Bagaimana dengan babi? Sayang sekali MUI tidak
mengeluarkan Fatwa tentang halal-haramnya beternak babi untuk diekspor.

Ini hanya sebuah contoh Fatwa yang menurut Nurcholis Majid (almarhum)
tidak bisa dijadikan mengikat kaum Muslimin Indonesia untuk mematuhinya .
Kodok yang diharamkan oleh MUI tentu membuat orang-orang dari Mahzab Maliki
dan Hambali dan juga orang-orang Persis di Indonesia jadi heran juga.
Mereka sama sekali tidak mengharamkan kodok bahkan mengatakan kodok itu
halal untuk dikonsumsi.
Dengan sendirinya Fatwa pengharaman itu tidak bisa mengikat mereka
untuk membenarkan dan mengakuinya. "Apakah dengan adanya Fatwa MUI itu
mereka harus mengubah pendapatnya kemudian mengharamkan kodok ?",
Cendekiawan Muslim terkemuka itu malah balik bertanya... (Dari Majalah Gatra 7
Juni 1997).

MUI DAN SDSB..
Ada sebuah pendapat yang dikemukakan oleh salah seorang anggota Komisi Fatwa
MUI sehubungan dengan maraknya SDSB di Indonesia tempohari. Umumnya para
Ulama-Ulama Indonesia telah mengharamkan SDSB tersebut dan
mengganggapnya sebagai "maisir" atau sejenis perjudian yang dilarang oleh
Islam. Ketika seorang reporter sebuah Majalah Mingguan meminta pendapat
Professor Ibrahim Hosen tentang SDSB tersebut, beliau tanpa tedeng
aleng-aleng mengatakan bahwa SDSB bukanlah sejenis "maisir" atau perjudian
dan dengan demikian SDSB adalah halal.
Apa alasan Ketua Komisi Fatwa MUI itu? Yang namanya perjudian itu
"berhadap-hadapan" sedangkan pada pemasangan SDSB orang-orang itu tidak
saling berhadapan, kendatipun faktor nasib keberuntungannya hampir
sama dengan perjudian.... Sayang sekali ini hanya ucapan beliau.... dan
belum sempat dituang dalam sebuah Fatwa, karena SDSB keburu dihentikan oleh
Menteri Sosial sehingga Umat Islam Indonesia diam merasa tak perlu
membicarakanya lagi...

Banyak juga Fatwa MUI ini bersifat tanggapan terhadap suatu masalah yang
timbul dikalangan Pemerintah dan masyarakat. Beberapa orang anggota MUI
memberikan contoh sesuatu kepada masyarakat Islam agar membenarkan pendapat
mereka. Untuk membuktikan bahwa Supermi itu adalah halal mereka beramai-ramai
berkunjung ke Pabrik Indofood untuk mencicipi supermie, dan tentu saja
kunjungan mereka itu diliput pula oleh Pers sehingga dengan demikian
masyarakat nggak perlu sangsi lagi mengkonsumsi Supermi sebagai makanan yang
tidak mengandung daging babi.
Masalah halal dan haramnya makanan juga menarik bagi MUI ikut berpartisipasi
dan ambil bagian . Sebuah kerja sama dengan Depkes telah dirintis mereka
untuk memberikan suatu rekomendasi label halal terhadap suatu produk yang
dipasarkan di Indonesia. Pro dan kontra tentang pemberian label halal oleh MUI
ini sempat juga dibincangkan dengan hangat dikalangan masyarakat Islam
Indonesia. Kok label halal yang perlu direkomendasi oleh MUI ? Mbok
sekali-sekali MUI keluarkan label haram suatu produk yang akan dipasarkan, dan
ini baru kejutan. Apa berani ?

Wassalam,
Uwan Oji
Rumah Gadang Gonjong Limo
Kampuang Tangah Dibaruah
Talangmaua
Telp.+62-0752-92367
Payakumbuh
Sumatera Barat