Kamis, 17 Agustus 2006, Ohio:

Aku berada ribuan mil jauhnya dari Jakarta, dari Istana Merdeka, tempat dimana upacara peringatan proklamasi kemerdekaan Indonesia diselenggarakan dengan cara sangat seksama oleh sejumlah orang pilihan negara. Jujur, aku senang, karena aku tidak perlu (dan juga tidak boleh) memasang bendera merah-putih di depan rumahku di Athens Ohio, di negara paling  berkuasa di dunia Amerika Serikat ini. Dan aku tidak perlu kuatir ditegur Ketua RT, atau dijadikan bahan pembicaraan tetangga, hanya karena lupa memasang bendera tanggal 17 Agustus. (sementara ketua RT yang sama tidak pernah menegur tetangga yang sampahnya melimpah sampai ke jalan, atau seenaknya memarkir mobil menutupi jalan masuk orang lain ke rumahnya, atau puluhan ekor kucingnya berkeliaran kemana-mana).

Namun, terus terang, aku sama sekali tidak bergairah untuk menganggap 17 Agustus ini sebagai hari yang istimewa, bermakna bagiku, dan pantas untuk dirayakan. Sebab itu ketika mahasiswa-mahasiswa Indonesia di Athens Ohio ini merencanakan hendak mengadakan perayaan tujuh-belasan pada tanggal sembilan belas nanti, aku lebih merasakannya sebagai beban ketimbang ajakan. Ya, entah kenapa tiba-tiba aku merasa sangat ganjil dan muak dengan kata Dirgahayu, HUT-RI, paskibraka, detik-detik proklamasi, dan bahkan Indonesia. Kata-kata itu, entah kenapa, bagiku sekarang hampir tidak bermakna. Dan hanya membual perutku mual.

***

Indonesia bagiku, atau mungkin tepatnya Indonesia dalam pikiranku saat ini, ibarat benang kusut dengan simpul mati di sana-sini. Semakin diurai semakin kusut. Semakin dipikirkan semakin membuat frustrasi. Nasib orang Aceh paska tsunami, nasib orang Papua dan Mentawai atau Enggano, gerakan arabisasi kabupaten-kabupaten, hutang luar negeri yang tidak terhitung bila dirupiahkan, korupsi partai-partai, kekerasan di Poso dan Maluku, pembabatan hutan kalimantan, mafia peradilan dan lain-lain, bagiku adalah simpul-simpul mati benang kusut Indonesia itu. Dan aku tidak punya kekuatan sama sekali memikirkannya apalagi menguraikan dan menyelesaikan masalahnya. Bahkan aku tidak lagi kuat mendoakannya. Dalam keadaan ini, aku cuma bisa menunggu, keajaiban atau kenyataan yang paling buruk datang. Bila yang terakhir, semoga aku dan orang-orang yang kusayangi bisa bertahan.

***
Tanpa masa depan yang jelas bagi orang Aceh, Papua, Enggano, Madura, dan juga Batak tentunya, dll, bagiku Indonesia hanyalah masa lalu yang tidak berguna. Tanpa masa depan suku-suku yang bertarung di ribuan pulau itu, upacara tujuhbelasan cuma menjadi sebuah tipuan atau khayalan belaka untuk mempertahankan kondisi buruk yang ad. Karena itulah aku ingin mendengar renungan yang jujur tentang apakah masih ada masa depan bagi “proyek Indonesia” di 17 Agustus ini ketimbang menyaksikan paskibraka berjalan mundur di hadapan SBY dan Kalla.

***

Sisa-sisa kepercayaan di hatiku yang terdalam mengharap proklamasi baru kemerdekaan hari esok. Semoga ada anak-anak muda yang berani “mendesak” pemimpin-pemimpin bangsa untuk sekali lagi memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, terutama dari kebodohan, kekerasan, kebencian terhadap suku dan agama lain, keserakahan dan keputusasaan.

Semoga sembuh, selamat panjang umur Indonesia!

Daniel Harahap