Beberapa waktu lalu kita dikejutkan dengan isu pro kontra mengenaiperda-perda bernuansa syari’at Islam di beberapa daerah.Tapi bila kita mautelaah lebih jauh, benarkah perda-perda yang dipermasalahkan itu bernuansaIslam.

Ambil contoh perda di Bulukumba yang melarang pasangan untuk menika hbila mereka atau salah satunya tidak bisa baca tulis Al Qur’an. Padahal dalam hukum Islam pasangan yang saling mencintai dan berkehendak untuk menikah tidak boleh dihalangi oleh siapapun kecuali atas alasan yang syar’i.Bahkan bila orang tua/wali nasab adlol atau enggan untuk menikahkan maka negarawajib dan berhak untuk mengambil alih peran sebagai wali (hakim) dan pahamini dianut oleh sistim hukum Islam positif di Indonesia (Kompilasi HukumIslam Indonesia pasal 23 ayat 1 dan 2).Ini dikarenakan pernikahan hukumnyaadalah wajib dalam agama jadi menghalangi kehendak nikah bagi pasangan yangsaling mencinta dianggap sebagai penentangan terhadap hukum agama.Alasanpenolakan yang syar’i hanya meliputi adanya hubungan darah/sepersusuansehingga dilarang menikah , beda agama, calonnya gila , belum akil baligh(kecuali kasus hak ijbar dalam mazhab syafi’i) ,dan berperangai buruk (sukajudi , mabuk-mabukan dll).Dan alasan tidak bisa baca tulis Al Qur’an itusama sekali tidak masuk sebagai alasan yang syar’i.Nabi s.a.w sendiri tidakbisa baca tulis Al Qur’an tapi Allah s.w.t tidak pernah melarang beliauuntuk menikah..Daripada membuat perda yang sama sekali tidak dilandasikaidah hukum Islam ini lebih baik bila Pemda Bulukumba membuat Perda yangmelarang korupsi berjama’ah para ustadz di KUA yang melipatgandakan biayapencatatan nikah yang berkisar 25-35 ribu (bila di KUA) sampai 35-45 ribu(bila di rumah) menjadi ratusan ribu bahkan jutaan rupiah.Perda lain yangkontroversial misalnya perda pelacuran di Tangerang yang memberi hak aparattrantib menangkapi siapa saja yang DICURIGAI sebagai pelacur.Padahal dalam sistim hukum manapun termasuk hukum Islam seseorang tidak boleh dihukum hanya atas dasar kecurigaan.

Dalam hukum Islam ada pasal mengenai qadf(tuduhan berzina) yang mengancam hukuman cambuk 80 kali bagi orang yangmenuduh berzina tanpa bukti dan saksi yang memadai (QS 24:4 ) . Berdasarkanhukum Islam , kehormatan seseorang itu sangat dimuliakan dan harusdilindungi.Jadi kalau benar perda ini bernafaskan Islam harusnya aparattrantib yang menangkapi perempuan baik-baik yang sedang menunggu angkot ,pulang shift malam , menunggu pesanan nasi goreng dll dicambuk 80 kali.DiUSA saja , PSK tidak bisa dan tidak boleh ditangkap hanya karena merekaberdandan menor dan berdiri di pinggir jalan , mereka baru bisa ditangkapbila ada bukti audio/video bahwa telah terjadi transaksi.Jadi perda-perdaini pada dasarnya lebih bernuansa politis daripada Islam dimana perda inidibuat sekedar sebagai lipstik bagi politisi untuk mengalihkan perhatianmasyarakat dari isu-isu penting seperti pengangguran , sampah , air bersih ,korupsi dll.Jadi perda busana muslimah dianggap lebih penting dari perdatransparansi anggaran dan belanja daerah , perda mengaji dianggap patutdiprioritaskan daripada perda larangan pungutan gila-gilaan di sekolah negribagi siswa/i baru.Dan ini bukanlah bentuk penegakan Syari’at Islam tapihanya sebuah bentuk kemunafikan yang dibungkus atas nama Syari’at Islam.