Assalamualaikum wr.wb.
Kalaulah semua orang-orang Mainstream Islam dan Ulama-Ulama Mereka (Ulama Uhum mentalis kufur seperti sebagian besar ulama-ulama semisal MUI , FPI , MMI) itu mencoba membaca kembali kitab Suci mereka Al-Qur’an itu tentulah mereka tidak menuduh secara gegabah dengan macam-macam tuduhan dan melansir fitnah mereka terhadap Jamaah Ahmadiyah yang diindikasikan oleh mereka sebagi satu-satunya kelompok kafir dan berada diluar Islam. Pada hal dalam beberapa hadist secara jelas disebutkan bahwa hanya satu golongan saja yang yang betul-betul Islam, yaitu golongan “illa millatan wahidah”, yakni satu golonganyang menurut beliau Rasulullah SAW dikecualikan dari neraka diantara tujuh puluh tiga golongan yang diprediksi oleh beliau SAW akan menghuni neraka itu…. (Tirdmidzi).

Kenyataan pada zaman sekarang sangat sulit untuk diingkari bahwa
indikasi satu golongan yang dikecualikan dari neraka diantara 73
golongan yang sekurang-kurangnya ada dalam Islam sekarang ini memang telah wujud ada dihadapan kita. Mereka para ulama-ulama itu juga telah sepakat memutuskan dengan fatwa mereka bahwa Jamaah Ahmadiyah adalah satu-satunya golongan yang kafir dan berada diluar Islam. …. Satu golongan yang dikecualikan diantara 73 golongan lain yang mengaku Islam dan umat Muhammad SAW telah dikafirkan oleh 72 golongan lainnya yang juga semuanya mengaku Islam dan umat Muhammad SAW.

“Ulama-Ulama Uhum itu (MUI dan kroni-kroninya ) yang sukanya
mengkafir-kafirkan orang-orang Islam itu laksana orang-orang yang bopeng dengan bercak-bercak hitam diwajah mereka , namun memaksa orang-orang lain untuk bercermin meneliti wajah mereka.Mereka tidak tahu adanya kebopengan diwajah mereka karena mereka tidak pernah mengaca diri melihat wajah mereka sendiri sebelum menyodorkan cermin itu kepada orang lain.. Mereka seakan-akan sedang berbugil diri beramai-ramai
diatas panggung namun masih saja mencoba berteriak menganjurkan orang-orang yang telah berbusana dihadapan mereka agar memasang kembali pakaian mereka…Ada istilah yang begitu populer ditengah masyarakat kita dimana memang ada orang maling malah berteriak kemalingan … “maling teriak maling”….Anda tidak percaya? Berikut di ketengahkan tiga contoh saja diantara sekian contoh yang bisa di ketengahkan di milis ini sebagai bukti ketidakbenaran apa yang mereka fitnahkan itu…

Pertama, tentang Kitab Suci Al-Qur’an dan Kitab Suci Tadzkirah yang mereka hebohkan itu. Mereka mengatakan bahwa Kitab Suci orang-orang Ahmadiyah adalah Tadzkirah dan Tadzkirah itu berbeda dengan Al-Qur’an kitab Suci mereka dan orang-orang Islam yang mayoritas itu. Mereka juga memaksakan kehendak mereka agar orang Ahmadiyah mau mengakui bahwa Tadzkirah itu benar-benar ada dan benar-benar Kitab Suci mereka , dan Tadzkirah yang menurut mereka itu adalah merupakan Kitab Suci yang
berbeda dengan Al-Qur’an yang mereka punyai.

Sebenarnya cara mereka memaksakan kehendak itu saja sudah berlawanan dengan Al-Quran yang menurut mereka adalah satu-satunya Kitab Suci dan panduan hidup mereka. Nah anda-anda semua , kebodohan yang demikian itulah yang telah mereka pertontonkan dihadapan kita-kita semua.Apakah mereka tidak pernah membaca dan mengetahui bahwa yang berkitab sucikan
Tadzkirah itu bukannya orang-orang Ahmadiyah saja tetapi mereka juga berkitab sucikan Tadzkirah itu. Sayangnya mereka tidak pernah membaca dan memahami Kitab Suci Tadzkirah mereka itu. Mereka hanya pandai membaca Tadzkirah itu meniru-niru beo, tetapi tidak pernah memahami apa yang terkandung dalam Tadzkirah itu sehingga Tadzkirah yang mereka lagukan itu ,syair dan melodinya tidak sama dengan Tadzkirah yang mereka baca itu. Layaknya keledai yang membawa setumpuk buku-buku dipunggungnya namun ia tidak mampu membacanya…

Ulama-2 itu laksana keledai-2 yang membawa kitab dipunggungnya
sebagaimana yang dikatakan oleh Tadzkirah itu. Anda jengkel dan
penasaran inilah buktinya sebenarnya bahwa al-Qur’an itu sesungguhnya identik dengan Tadzkirah sebagai mana kutipan ayat-ayat Al-Qur’an berikut ini… “Kalla innahu Tazkirah…Famansya ‘a zakarah… Waman
yazkuruna illa an yasya ‘a llahu , huwa ahlul taqwaa, wa ahlul
maghfirah…” yang artinya sbb: ” Sekali-kali tidak demikian halnya . Sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah Tazkirah ( peringatan)…. Maka barangsiapa menghendaki niscaya dia mengambil pelajaran daripadanya (Al-Qur’an). Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran daripadanya kecuali (jika) Allah menghendakinya. Dia (Allah) adalah Tuhan Yang
patut (kita) bertaqwa kepadaNya dan berhak memberikan
pengampunan….(QS. Al-Muddatstir 74:54, 55, dan 56). dikutip dari Al-Qur’an dan Terjemahnya dari Departemen Agama RI) Penerbit CV Gema Risalah Press, Bandung… 1993). Dengan demikian yang dikatakan Tadzkirah itu sendiri adalah Al-Qur’an , sayangnya mereka tidak memahami dan mengetahuinya…

Kedua, MUI mengeluar fatwa mereka yang mengatakan bahwa orang-orang
Ahmadiyah adalah kafir, murtad , sesat dan menyesatkan dan mereka meminta agar Pemerintah melarang keberadaan Jamaah Ahmadiyah dan memohon
agar Jamaah Ahmadikyah membubarkan dirinyanya . Nyanyian senada juga didendangkan oleh oleh Ketua MUI Sumatera Barat, Buya Masoed Abidin bersama-sama dengan Irfanda Abidin dari FUI Sumatera Barat , dan beberapa anggota Kelompok Paganagari secara koor bersama mengulang-ulang lantunan lagu dalam ratapan dan himbauan Menteri Agama Maftuh Basuni agar orang-orang Ahmadiyah jangan melakukan ritual-ritual Islam dan agar mereka mencari atau membuat agama sendiri selain Islam karena Jamaah Ahmadiyah telah menodai Islam satu-satunya agama yang
diredai Allah itu….

Siapa sesungguhnya yang telah menodai Islam? Kalaulah mereka membaca dan memahami ajaran Islam yang mereka anut tentulah himbauan mereka terhadap orang Ahmadi agar mereka mencari dan membuat agama baru selain Islam tidak akan mereka lakukan. Apakah mereka tidak membaca Al-Quran yang menyerukan agar orang-orang masuk kedalam Islam secara kaffah bukan
mengeluarkan orang-orang telah Islam kepada kekafiran dan kesesatan sebagaimana yang mereka perbuat ini. Mereka tidak mengajak orang-orang kepada Islam bahkan mengeluarkannya bahkan menyuruh orang-orang yang telah Islam agar mencari agama selain Islam… ! Apakah mereka sengaja mencoba melawan Al-Quran yang mengatakan bahwa ” barang siapa yang mencari agama selain Islam tidak diterima agama itu dari padanya dan diakhirat dalam keadaan merugi….. Mereka mengecam orang yang murtad
dari Islam tetapi mereka melakukan pemurtadan terhadap orang yang telah Islam.. Aneh memang nyata… Memang orang-orang bodoh sering bertindah aneh yang mereka tidak menyadari keanehan yang mereka perbuat…Orang-orang Ahmadi mereka suruh mencari agama selain Islam pada hal mereka mengetahui bahwa “barang siapa yang mencari agama selain Islam tidak diterima agama itu dari padanya”…(QS. 3:80)

Nah ini yang ketiga, mereka mengatakan orang-orang Ahmadiyah tidak mempercayai Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi terakhir dalam pengertian mutlak yakni tidak mempercayai bahwa Islam agama yang juga Terakhir dan sempurna. Mari kita lihat siapa yang tidak mempercayai Muhammad SAW sebagai Nabi Terakhir secara mutlak dan tidak mempercayai Islam agama yang Terakhir dan sempurna itu. Berikut keterangan kami bahwa apa yang mereka tuduhkan itu tidak benar dan bagaikan bumerang dari Papua itu , yang tidak mengenai alamat dan sasarannya dan malah kembali mengenai
dan menohok mereka sendiri.

Mereka mengatakan Muhammad SAW sebagai Nabi terakhir dalam pengertian mutlak. Betapa indahnya pengakuan mereka itu bila dilihat dari kacamata Islam. Namun sayangnya yang demikian hanyalah ucapan mereka dibibir saja. Betapa tidak bisa diterima akal sehat disatu pihak mereka meyakini Muhammad SAW sebagai Nabi terakhir dilain pihak mereka meyakini juga Nabi Isa yang datang sebelum Muhammad SAW itu “masih hidup hingga masa
kini” dan “akan turun dari atas langit diakhir zaman sebagai juga Nabi Terakkhir seperti halnya juga Nabi Muhammad SAW .

Ketika dikatakan kepada mereka bahwa kepercayaan mereka Nabi Isa hidup dilangit dan turun dari langit diakhir zaman itu akan mengarahkan mereka kepada keyakinan bahwa Nabi Isa yang menjadi Nabi Terakhir , mereka berdalih berdalih bersilat lidah dengan mempermainkan makna dari perkataan Nabi Terakhir itu. Kata mereka ……”bahwa Muhammmad SAW adalah Nabi yang terakhir datangnya namun duluan matinya , sementara Nabi Isa yang Nabi datang duluan dari Muhammad SAW namun adalah Nabi paling belakangan matinya . Siapa yang terakhir sebenarnya? Orang-orang
yang berakal pasti menjawab bahwa Nabi Yang Terakhir adalah Nabi yang paling akhir pergi atau wafat… anak-anak kecil saja logikanya pasti menjawabnya demikian… Atau kedua-duanya sama-sama Nabi Terakhir? Semakin tidak mungkinlah yang demikian akan terjadi. Kalau seandainya begitu keadaannya maka kemungkinan yang lain adalah bahwa kedua-duanya bukanlah Nabi Terakhir … Jadi siapa Nabi Yang Terakhir dengan pengertian mutlak sebagaimana yang mereka katakan itu? Mereka akan
kebingungan bila menjawabnya. Suatu kontradiksi dalam keimanan mereka yang menurut mereka hanya bisa diselesaikan dengan menganjurkan kekerasan sebagaimana yang telah mereka lakukan terhadap Jamaah Ahmadiyah.

Dengan demikian semakin jelaslah bagi kita bahwa merekalah yang tidak mempercayai sepenuhnya bahwa Muhammad SAW adalah Nabi Terakhir, namun sayangnya mereka tidak mengerti dan memahami apa yang ada dalam hati mereka sendiri. Mereka mengatakan apa yang tidak mereka perbuat… Kaburan ma’tan an taqulu ma latafaluun.. Amat besar murka Allah kepada orang-orang yang mengaku beriman tetapi tidak mengamalkan apa yang dikataknnya itu…. (QS. 61:3).

Yang ini masih dari pengakuan mereka , “Islam adalah agama sempurna dan tidak ada tambahan apa-apa lagi dan telah disempurnakan oleh Muhammad SAW lewat Syahadatain ” Asyahadualla ila ha ilallah, wasyahadu anna Muhamaddarasululullah.”…. Tidak ada syahadat yang lain dari itu dan tidak ada penggantian dan tambahan lain-lainnya… Yang dikatakan mereka
itu benar adanya tidak bantahan dari Jamaah Ahmadiyah dan semua
orang-orang yang mengaku Islam.Namun apakah MUI dan ulama-ulama itu mengamalkan apa yang mereka katakan dan sepakati itu ?

Apa yang sering kita dengar dari mulut-mulut mereka ketika mereka
berkhotbah atau berdiri gagah didepan mimbar-2 masjid mengkhotbahi orang-orang Islam? Dari mulut mereka “sangat sering “keluar ucapan syahadat yang ditambah-tambahi pada ujungnya dengan perkataan ” La Nabiya Bakda…”. Sebagian besar orang-orang Islam yang memang bodoh ini meniru-niru syahadatain mereka itu, dengan menambah-nambahi perkataan “la nabiya bakda” diujung syahadat mereka…

Ucapan syahadatain yang begini jelas sama sekali tidak diajarkan oleh Rasulullah SAW, juga sahabat-sahabat beliau dan sama sekali tidak pernah kita dengar dalam lafaz Adzan, Iqamat dan Attahiyat dalam sholat… Apakah menurut mereka Rasulullah SAW belum menyempurnakan syahadatain yang merupakan gerbang pertama dalam Rukun Islam itu maka mereka perlu menambah-nambahinya dengan lafaz “la nabiya bakda itu”…?

Itu saja dulu ada puluhan tindakan dan ucapan mereka yang bila kita cermati jelas-jelas mencoba melawan Islam… Wahai “Ulama-Ulama Uhum” kenapa kalian hanya berkata tetapi tidak mengamalkan apa yang kalian katakan? Tidak kah kalian mengetahui bahwa dalam kitab Tadzkirah itu ada tertulis” Kabura ma’tan indallahu an taqulu mala tafaluun..? Amat besar murka Allah kepada mereka (orang-orang yang mengaku beriman) yang
hanya berkata tetapi tidak mengamalkan apa yang dikatakannya..(QS. 61:3)

Wassalamualaikum wr.wb.
Adi N.S
(alamat lengkap sengaja dihapus untuk kebaikan & keselamatan penulis)