Tag

Barusan saya temukan e-mail ini di inbox saya – sebuah curahan kemarahan, kejijikan, kesedihan yang luar biasa terhadap "pemimpin-pemimpin" kita yang samasekali tidak menghargai nyawa rakyatnya sendiri.


Ternyata ada waktu satu jam sejak bisa dideteksinya/diramalkan akan terjadi
tsunami di selatan Jawa. Para "pemimpin" itu TAHU mereka punya waktu satu jam
untuk memberikan warning! Satu jam adalah waktu yang CUKUP untuk memberikan
warning! Dengan segala cara, dengan corong pengeras suara di mesjid-mesjid,
corong pengeras suara di jalanan, dengan radio, TV, telepon massal, dengan
helikopter, dengan apa saja, apa pun, waktu satu jam sangat berharga dan cukup
untuk menyelamatkan nyawa ratusan manusia.

Tapi apa yang mereka lakukan?

Nothing. Nil. Nada.

Kata mereka, gempa bumi itu sendiri adalah peringatan alam. Kata mereka, dengan
adanya gempa itu semua penduduk sudah lari ke bukit-bukit. Kata mereka, gimana
kalau ternyata nggak ada tsunami betulan?

Aaaaaaaack!!!

Mereka bukan manusia. Monsters. Devils in disguise!!!

- Laksmi

*************
E-mail di bawah ini bersumber dari milis ISC - UIUC.

*************

Halo temen2 sebangsa dan setanah air.
Pertama -tama mohon maaf jika ada kata2 saya yang terlalu kasar dan menyingung.

Sudah denger donk pastinya tentang Gempa yang melanda Jawa Senin kmaren di
pantai Pangandaran dan Gempa di Jakarta baru kemaren sore waktu Jakarta.
Saya baca berita di koran Seattle Post-Intelligencer (Wed, July 19 2006) tentang
berita penanggulangan tsunami di Indonesia.
Korban yang tertimpa bencana sudah mencapai 531 orang (275 orang masi hilang),
berita selengkapnya saya attach di bawah ini.

Intinya korban yang sebanyak ini, sebenarnya bisa kurang jauh dari yang telah
terdaftar sampai sekarang ini.
Kenapa? Di berita ini dilaporkan kalau Pemerintah Indonesia sebenarnya sudah
mendapat warning tentang tsunami ini kira2 satu jam sebelum tsunami ini mencapai
pantai.
Tetapi apa yang pendapat wakil presiden kita? There was no need (of warning)
because most people had fled inland after the earthquake, fearing the tsunami
[diquote dari artikel dibawah ini]. "After the quake occured, people ran to the
hills. So in actual fact there was a kind of natural early warning system," he
said. (baca tulisan bold di bawah email ini)

Jujur aja, saya kecewa berat sama jawaban Bapak Wapres kita. Maksudnya apa "no
need of warning" ?
Jawaban yang sangat2 mengecewakan dari seorang yang punya kedudukan begitu
tinggi di pemerintahan.
Apa dia bisa bertanggung-jawab ke keluarga 500 nyawa lebih orang yang sudah
meninggal ataupun menghilang sekarang hanya dengan ASUMSI?

Bohong!! Kalau pemerintah mengaku ketidakmampuan teknologi dalam menyampaikan
berita bencana ini.
Memang Indonesia bukan negara maju, tetapi setiap hari orang duduk di televisi,
dengar radio, cek internet.

Bayangkan dalam SATU JAM prior sebelon terjadinya bencana, berapa nyawa orang2
yang bisa diselamatkan?

BODOH sekali pemerintah kita! Mereka secara tidak langsung mengaku mereka
SENGAJA tidak mensebarluaskan warning tsunami,
semata-mata dengan alasan "NATURAL EARLY WARNING SYSTEM"????
Saya tidak tahu seperti apa berita ini dalam bahasa Indonesia, tetapi dalam
quote Bapak Wapres memakai kata "there was a kind"
Secara tidak langsung dia sendiri tidak yakin kalau kemampuan ini, yang disebut
olehnya: "[Stupid] Natural Early Warning System", dimiliki oleh semua warga
setempat

Apa susahnya menyebarkan warning ini lewat radio? atau televisi?
Tentu saja untuk menghindari kematian 500 orang lebih, Bapak Presiden dan Wakil
Presiden bersedia untuk bangun dari kursi kantor mewah mereka dan
mensebarluaskan warning ini, supaya warga bisa melihat pentingnya warning ini.
Apalagi daerah Pangandaran adalah daerah pariwisata, sudah tentu akses telepon
sangatlah mudah untuk digunakan.
Mereka juga bisa bekerja sama dengan pihak lokal, untuk menyebarluaskan warning
ini.

Baru beberapa hari yang lalu, terdengar berita tentang ketidakbecusan Depdiknas
hanya dalam 'pengurusan visa' untuk mereka yang ikut Olimpiade Matematika.

Sekarang saya membaca tentang Wapres kita yang membela diri dengan ber-ASUMSI.
Giliran SIAPA besok?

Saya hanya bisa mendoakan agar pemerintah Indonesia dapat lebih peka dalam hal
yang menyangkut kepentingan orang banyak.
Tidak hanya mengisi kantong mereka masing dengan uang, uang, dan uang.
I love Indonesia, but saya jujur saya jijik dengan MANUSIA MANUSIA SERAKAH di
Indonesia.

Sekali lagi maaf kalau saya terlihat marah dengan pemerintah Indonesia. Karena
saya sungguh2 kecewa.
Biarlah mereka bisa membuka mata dan hati mereka bagi Indonesia bukan bagi
kepentingan mereka sendiri.


Berdoalah buat Indonesia dan pemerintahanya.
Tuhan Memberkati anda dan INDONESIA,

Salam,
Wiryaputra "Wiewie" Pramono


Original article from Seattle Post-Intelligencer:

Tsunami alert system promised
Indonesia still seeking survivors with toll at 531

By IRWAN FIRDAUS
THE ASSOCIATED PRESS

PANGANDARAN, Indonesia -- Indonesia pledged to build a nationwide tsunami alert
system as soldiers pulled bodies from ravaged beaches, homes and hotels Tuesday.
Parents searched tearfully for their children, and the death toll hit at least
531, with about 275 people missing.

Bodies covered in white sheets piled up at makeshift morgues, while others lay
beneath the blazing sun in the tourist resort of Pangandaran, a 6-month-old baby
among them.

The search for survivors continued Tuesday, with parents among the last to give
up.

"The water was too strong," said Irah as she dug through a pile of rubble with
her bare hands, close to the spot where she last saw her 6-year-old son. "Oh,
God. Eki, where are you?"

The magnitude 7.7 undersea quake on Monday triggered walls of water more than 6
feet high that crashed into a 110-mile stretch of beach on Java island, an area
spared by the devastating 2004 Asian tsunami.

The waves destroyed houses, restaurants and hotels and tossed boats, cars and
motorbikes far inland.

The government said today that emergency workers recovered dozens of more
bodies, pushing the death toll to 531 with about 275 people missing.

Almost all the victims were Indonesians, but a Pakistani, a Swede and a Dutch
citizen were among those killed, officials said.

At least 42,000 people fled their homes, either because they were destroyed or
in fear of another tsunami, adding to the difficulty of counting casualties.

At the area's main hospital, in the town of Banjar, medics scrambled to treat
a steady stream of patients, most from the Pangandaran coast. Some slept on
dirty mattresses on the floor, while others were treated in the admissions hall.

Among the handful of foreign patients was Hamed Abukhamiss, a 40-year-old Saudi
who was eating french fries with his family at a beach-side cafe when the
tsunami came into view on the horizon.

His 12-year-old son, Yousif, saw the wave approaching through binoculars, but no
one believed him when he yelled, "Tsunami!" Less than a minute later the family
was swept away in the torrent of water, and Abukhamiss' wife and 4-year-old son
were killed.

Monday's quake struck at 3:24 p.m. about 150 miles beneath the ocean floor,
causing tall buildings to sway hundreds of miles away in the capital, Jakarta.

After the quake, the Pacific Tsunami Warning Center and Japan's Meteorological
Agency issued warnings of a possible tsunami. It struck Java about an hour
later.

Science and Technology Minister Kusmayanto Kadiman said Indonesia received the
bulletins 45 minutes before the tsunami hit but did not announce them because
they did not want to cause unnecessary alarm.

He said Indonesia now planned to speed up plans for a nationwide warning system.

Indonesia was hardest hit by the tsunami in late 2004, which killed at least
216,000 people in a dozen Indian Ocean nations -- with more than half the deaths
occurring in Sumatra island's Aceh province.

Though the country started to install a warning system after that disaster, it
is still in the early stages. The government had been planning to extend the
alert system to Java -- which was hit by a quake in May that killed more than
5,800 people -- in 2007.

Answering reporters' questions as to why no warning was issued on Monday, Vice
President Jusuf Kalla claimed there was no need because most people had fled
inland after the earthquake, fearing a tsunami.


"After the quake occurred, people ran to the hills ... so in actual fact there
was a kind of natural early warning system," he said.


However, of dozens of people interviewed in Pangandaran on Tuesday, only one
person said he felt a slight tremor. None said there was a mass movement of
people to higher ground before the tsunami