IMHO, salah satu penyebab perang dan konflik antar negara adalah KEBERADAAN AGAMA, keberadaan NEGARA, keberadaan PAHAM NASIONALISME dsb yg mengkotak-kotak manusia ke dalam kotak-kotak yg berbeda nilai baik dan buruknya (Ingat syair lagu perdamaian John Lennon yg berbunyi "Imagine there's no religion").



Keberadaan agama sih tak masalah, seandainya agama itu memperlakukan
umat yg mempercayai dan tak mempercayai agama tsb secara setara dan
adil (mis. kriteria berkah/karma baik bagi setiap individu bukan
berbasis kepercayaan lewat sumpah, lewat baptis, lewat pengucapan
kalimat syahadat, dsb, ttp lewat prilaku dan pola pikir). Perlakuan
setara ini sangat mendidik umat beragama agar jangan membenci orang
lain hanya karena orang tsb berbeda pendapat atau tak mempercayai
ucapan2-nya. Sayangnya, cuma agama yg saya percaya saja :-) yg
memenuhi kriteria ini.

Secara umum, sumber konflik adalah keberadaan kotak2 dan batas2 yg
memisahkan satu kelompok manusia dg kelompok manusia lain atas dasar
agama, ras, suku, bangsa, negara, dsb. Jadi saya setuju bahwa
penciptaan negara baru - termasuk penciptaan negara Israel di tahun
1948 (?) - akan memberikan dampak negatif thd perdamaian di masa
berikutnya (dan untuk kasus Israel, jika benar dulu diciptakan,
dampak negatifnya sekarang sudah terbukti).

Tetapi pijakan kita di masa sekarang adalah KEADAAN MASA SEKARANG.
Kita sekarang tak bisa menyalahkan pembuat sejarah masa lalu atau
berusaha kembali ke masa lalu, mis. menyuruh semua orang Israel yg
dulunya berasal dari luar Israel untuk kembali ke negara asal bapak-
ibu, nenek-kakek, nenek-kakek buyutnya dulu. Kalau kita selalu
berpikir ke masa lalu, 90-100% negara2 di dunia (termasuk negara
Indonesia) dulu tak pernah ada atau tak persis sama dg keberadaannya
sekarang ini!

IMO, yang paling penting SAAT INI adalah mempersatukan semua manusia
dalam satu keluarga, lepas dari batas2 negara, ras, agama, dsb dalam
satu 'keluarga' yg lebih besar, lepas dari batas2 negara, ras,
agama, dsb.

Apa yg dilakukan beberapa negara2 Eropah ketika bersatu dalam
European Union (EU) adalah suatu langkah yg diawali oleh suatu
ide yg mirip2 dg ide mempersatukan seluruh manusia dalam
satu 'keluarga' besar di atas. Ide awal dari EU tentu saja ingin
membuat makmur seluruh rakyat negara2 Eropah yg tergabung dalam EU
(Ide yg lebih baik seharusnya menambahkan ide berikut: tanpa
melupakan atau mengorbankan rakyat dari negara2 lain yg berada di
luar EU).

Kesulitan mempersatukan negara2 Eropah dalam EU merupakan gambaran
sifat tamak manusia dan sekaligus merupakan gambaran kesulitan
mempersatukan kita dalam satu 'keluarga' besar. Mayoritas rakyat di
dalam setiap negara Eropah yg bergabung dalam EU menyatakan bahwa
mereka setuju negaranya bergabung dg EU asalkan pemerintah negara
mereka JANGAN mengorbankan 'kepentingan nasional'-nya. Jadi mereka
masih ingin memelihara keberadaan BATAS-BATAS NEGARA anggota EU dan
ujung-ujungnya mereka tak mau mengorbankan sedikit kesejahteraan
mereka demi perbaikan kesejahteraan sesama manusia yg berada di
negara2 tetangga.

Dari paragraf di atas, tampak adanya indikasi bahwa mayoritas rakyat
di negara2 EU masih terpatok pada 'nasionalisme' masing2 negara
(sebelum bergabung dg EU). Indikasi lain: banyak rakyat di negara2
EU yg merasa khawatir dg keadaan ekonomi negara mereka di masa yad
apabila negara2 miskin dari Eropah Timur ikut bergabung ke EU. FYI,
kadang2 ada berita pertentangan antara anggota2 parlemen EU yg
berpatokan pada kesejahtraan dan kemajuan EU secara KESELURUHAN dg
anggota2 parlemen atau pejabat2 pemerintah negara2 anggota mati2-an
membela 'kepentingan nasional/ lokal' negara2 anggota.

Contoh negara yg hampir berhasil mempersatukan beberapa negara
menjadi satu keluarga besar adalah AS. Mungkin karena persatuan ini
sudah dijalankan sejak awal berdirinya AS, maka saat ini berpindah
dari satu negara bagian ke negara bagian lain di Amerika sudah
terasa persis seperti berpindah dari satu tempat ke tempat lain di
dalam SATU negara. Sayangnya rakyat Amerika, spt halnya rakyat
negara2 EU, masih mementingkan kepentingan mereka sendiri.

Demokrasi sih secara umum dinikmati oleh rakyat di negara AS dan
negara2 EU. Ttp demokrasi mereka saat ini hanya berlaku dan
bermanfaat bagi mereka sendiri. Padahal IMO demokrasi sejati harus
lepas dari batas2 negara, agama, ras, bangsa, dsb. Bagi saya,
demokrasi mereka masih demokrasi lokal. Secara global, mereka belum
demokratis.