Pesta world cup di Jerman baru saja usai. Semarak sukacita rakyat Italia atas kemenangan regunya diwarnai misteri pengkartumerahan Zinedine Zidane menjelang akhir perpanjangan waktu. Milyaran pasang mata melihat tandukan kepala plontos Zidane ke dada Marco Materazzi. Faktanya si Marco jatuh kesakitan, maka pelakunya layak mendapat kartu merah. Apa penyebab Zidane naik pitam tak terlihat tak terdengar.

Nuansa arena pertandingan olahraga, persaingan bisnis ataupun politik tak jauh beda dengan medan pertempuran. Harus pakai strategi dan taktik. Pendekatan terbuka untuk perang, pendekatan tertutup untuk menang; kata Tsun Zu lebih 2000 tahun yang lalu. “Terbuka” yang mudah dilihat khalayak, “tertutup” hanya diketahui kalangan terbatas.

Peran Zidane sebagai play maker tim Perancis semakin menanjak setelah mempecundangi tim Brasil. Pada laga final dominasinya dalam tim kian terlihat jelas. Kepiawaian Zidane jadi tumpuan kekuatan sekaligus kelemahan tim. Artinya kalau Zidane lumpuh tim ikut lumpuh.

Strategi konvensional adalah mengunci gerak pemain bintang atau mencederainya. Pada world cup 2006 ternyata fenomena provokasi terbukti efektif, bisa-bisa menjadi trend laga ke depan. Kalimat ucapan provokatif Materazzi adalah pendekatan tertutup tak terdengar sulit dibuktikan. Bagi yang menang, si Marco provokator adalah pahlawan, ya salah Zidane sendiri kenapa bisa terpancing.

Di Indonesia sebutan provokator sangat populer pada kerusuhan Mei 1998. Ada beberapa orang sangar berambut cepak, bakar ban bekas ajak massa membakar menjarah, lalu menghilang; maka Jakarta menjadi lautan api….. Perhatian rakyat untuk menyorot Cendana dan ordebaru langsung buyar dan sibuk menggunjingi provokator. Mungkin Materazzi belajar dari provokator Indonesia.

Biar tak ikut world cup, penggagas provokator Indonesia boleh bangga karena resepnya mendunia. Teknik provokasi adalah bagian penting dalam strategi pendekatan tertutup untuk menang. Sang provokator mendapat tempat terhormat tapi tidak diumumkan; bila perlu malah dikorbankan.

Untuk melemahkan kekuatan reformasi, provoke kelompok dan tokoh-tokohnya sampai terpancing dan bertindak bodoh. Untuk melemahkan partai atau agama tertentu, provoke gegeran munas sampai gembos. Gunakan isu agama supaya terus bertikai sampai penonton ikut bosen dan muak.

DJP