Awal sejarah pergerakan kebangsaan Indonesia ditandai dengan lahirnya organisasi Boedi Oetomo 1908, Syarikat Dagang Islam (SI) yang kemudian pecah jadi SI merah cikal bakal Partai Komunis Indonesia (PKI), menyusul partai-partai lain yang berfaham nasionalisme Indonesia.. Umumnya pergerakan nasional ini menentang penjajahan Belanda dan mendambakan Indonesia merdeka. Tokoh-tokoh yang dicap ekstrim oleh pemerintah Hindia Belanda banyak yang dipenjarakan dan dibuang keluar Jawa sampai ke Tanah Merah Digul.

Setelah Proklamasi 17-8-1945 para politisi saling berebut pengaruh dan meruncing pada gerakan pemberontakan separatis untuk mendominasi negara. Bung Karno yang melihat realita paham politik pergerakan kebangsaan Indonesia, ingin menyatukannya dalam formulasi Nasakom. Sementara itu kekuatan dari luar – Blok Barat dan Timur ikut meramaikan konflik politisi domestik dengan mendukung kelompok yang dijagokannya melalui berbagai intrik dan provokasi. Cerita selanjutnya Bung Karno beserta kaum nasionalis pendukung setianya termasuk kaum komunis, ditumbangkan dilibas diburu dibasmi dan dimusnahkan.

Perseteruan blok Barat-Timur dengan gemilang dimenangkan blok Barat pimpinan AS. Yang menarik, di negara yang banyak pemeluk Islamnya, blok Barat bekerja sama dengan kelompok Islam mengalahkan blok Timur yang berpaham komunis itu. Kampanye komunisme sebagai atheis sangat efektif membakar kelompok Islam untuk jihad fisabililah. Target blok Barat untuk menguasai perekonomian dan sumber energi dunia bergandengan mesra dengan kelompok Islam yang ingin membela Tuhan.

Dalam konteks global, negara-negara sedang berkembang termasuk Indonesia, hanyalah obyek sasaran eksploitasi negara adidaya. Hampir dapat dipastikan rezim penguasa negara berkembang yang bisa relatif langgeng adalah berkat dukungan Barat. Politisi rezim sangat mahfum bahwa kekuatannya semu dan sangat tergantung sang adidaya, karenanya cenderung ambil manfaat pribadi ber KKN. Ketika adidaya memerangi komunis dia ikut, ketika memerangi teroris dia juga harus ikut. Ikut adalah prasyarat dari adidaya; no other choice, sistemnya sudah mapan.

Tragisnya sumber energi yang kian terbatas itu paling banyak di Timur Tengah yang mayoritas penduduknya umat Islam. Setelah blok Timur dilumpuhkan, sekarang giliran Islam. Kekuatan komunis relatif homogen dan militan sehingga perlu bantuan kelompok Islam. Sedangkan Islam heterogen punya tradisi konflik internal berspektrum dari lemah, moderat sampai ekstrim. Yang lemah moderat dirangkul sambil diawasi, yang ekstrim teroris diprovokasi supaya makin frustrasi dan terisolir dari umat yang lain.

Osama bin Laden yang dulu bersobat dengan Rambo, sadar setelah semuanya terlambat, malah balik aksinya dimanfaatkan untuk memojokkan Islam. Ulah pengagum penirunya di Indonesia juga berdampak sama. Fenomena ini bisa terdorong cinta agama tapi bukan mustahil rekayasa adidaya. Gerakan sporadis anarkis terhadap isu-isu non substansial lebih banyak mengundang antipati ketimbang simpati dari sesama umat; apalagi dari saudara sebangsa non muslim. Perlu ditelaah apakah massa anarkis itu mayoritas intelektual atau preman pengangguran.

Kekuatan Islam berdisiplin militan yang masih potensial tampaknya tinggal Iran. Setelah Iraq porak poranda, adidaya sedang bersiap untuk menggoyahkan Iran.

Sementara itu intelektual Islam mulai banyak melansir pemikiran filosofis tentang hegemoni sekuler Barat Kristen yang katanya mempengaruhi pola fikir intelektual Islam didikan Barat, lalu asyik menuding tuduh konspirasi Yahudi Kristen. Ketika sengketa filosofis berkepanjangan, adidaya terus melenggang melanjutkan proyek penguasaan ekonomi dan sumber energi dunia.

Rupanya Indonesia sebagai negara dan bangsa belia hanyalah partikel yang mengikuti orbit strategi global. Setelah Bung Karno dan pendukungnyanya dilumpuhkan, kekayaannya terjarah habis, umat Islamnya pun terfragmentasi seperti nun jauh disana. Rekonsiliasi anak bangsa agar menjadi bangsa besar bermartabat tak pernah bergerak konvergen, energinya habis siasia oleh perilaku bhinneka yang bergerak divergen.

DJP