Ada penulis di milis ini yang mengatakan bahwa ada yang phobia terhadap Islam. Apa benar?  Phobia Islam ini istilah baru, yang populer setelah 9/11. Istilah ini dipopulerkan oleh para muslim yang merasa kok Islam dipojokkan. Yang lucu adalah, kenapa cuma Islam yang bermasalah? Seluruh agama2 lain di dunia adem ayem, kenapa cuma Islam yang tersorot? Kenapa cuma sebagian pemeluk Islam yang merasa ada phobia terhadap agamanya?
Jawabnya sebenarnya sederhana. Islam saat ini digiring oleh para fundamentalist
ke titik nadir. Yang menjadi korban terutama adalah para muslim secara umum,
para muslim moderat. Tetapi ini tidak berarti muslim moderat tidak berperan
dalam hal ini. Mereka yang diam ketika Islam fundamentalist mulai naik. Kasus
paling menggenaskan adalah Kasus Iran. Para muslim moderatlah yang menggolkan
Revolusi Islam, hanya untuk kemudian di sikat habis. Mereka tadinya pikir para
mullah tidak berbahaya. Mereka kan kerjanya berdoa, kira2 pikirnya gitu.
Ex-president Republik Islam Iran, Abol-Hassan Bani-Sadr merenungkan hal
tersebut dan menuliskan dalam bukunya. Ulasan tentang tulisannya saya tulis di:
http://www.socineer.com/soc-banisadr.html

Sekarang kembali ke pertanyaan semula. Benarkah ada Phobia terhadap Islam?

Apa itu Phobia? Phobia adalah perasaan takut yang intens tanpa alasan. MIsalnya
phobia terhadap ruang tertutup, phobia terhadap anjing, etc. Ketika orang mulai
aware terhadap bahaya yang bisa ditimbulkan oleh kelompok Islam Fundamentalist,
apakah kekhawatiran itu tidak beralasan seperti phobia?

Dengan demikian TIDAK ADA PHOBIA terhadap Islam. Yang ada adalah
AWARENESS terhadap bahaya Islam fundamentalist. Mereka berbahaya.
Mereka berbahaya karena mereka terindoktrinasi secara membabi buta. Mereka
berbahaya karena mereka akan memaksakan kehendak mereka kepada Anda2,
terutama kaum Muslim lain. Mereka berbahaya karena mereka suicidal, mereka
didorong untuk rindu mati untuk ideologinya. Mereka mampu mengorbankan
segala2nya untuk ideologinya, termasuk masyarakatnya, termasuk bangsanya,
termasuk budayanya.

Sikap mereka sudah sangat keterlaluan. Negara2 Barat sejak Perang Dunia ke II
menganut sikap yang kurang lebih humanistis, merasa bertanggung jawab untuk
sesama manusia, dan membuka pintu immigrasi ke negara mereka. Pada dekade2
akhir ini, banyak orang merasa tidak lagi aman dan nyaman hidup di negara
mereka, dan pindah ke Amerika, Canada, dan negara2 Barat lain. Negara2
Barat itu menerima mereka sebagai bagian dari masyarakat.

Tetapi apa yang terjadi? Sebagian dari mereka ternyata punya ideologi
fundamentalist Islam. Sesampai di negara Barat, mereka menutup diri, merasa
seluruh masyarakat Barat itu setan2. Dan beberapa dari antara mereka mulai
merancang rencana untuk menghancurkan tetangga2 mereka. Di Canada baru2
ini ada plot yang berhasil digagalkan. Mereka mau menghancurkan sarana2 di
Ontario dengan bomb. Sebelum itu mereka mencoba untuk membuat masyarakat
terisolasi berdasarkan Syariat Islam di Canada.Untunglah hal ini digagalkan oleh
Premier di Ontario.

Sangat menggenaskan. Mereka datang untuk mendapat perlindungan dan keamanan
di negara baru, tetapi mereka tega sekali untuk menghancurkan kedamaian dan
tetangga mereka. Mesjid2 mereka digunakan untuk menularkan virus2 kebencian
kepada negara baru yang merangkul mereka. Waktu mereka datang, volunteer2
banyak yang bekerja untuk membuat mereka betah. Dimanakan letak hati nurani
mereka ketika mereka ingin menghancurkan masyarakat yang merangkul mereka?

Iya, mereka tidak lagi punya hati nurani. Semua itu sudah dimatikan oleh
ideologi agama. Mereka adalah orang yang mampu membunuh orangtua sendiri jika
diperlukan oleh tujuan ideologis. Dengan banyaknya mesjid2 yang tersebar, yang
digunakan oleh mereka untuk menyebar kebencian. Pengurus mesjid yang moderat
sering tidak mampu menahan mereka, bahkan kalah populer dengan mereka.

Di kota saya banyak muncul pengungsi baru dari Afghanistan. Salah satu keluarga
saya menjadi volunteer untuk mengurusi anak2 mereka dalam bidang pendidikan.
Anak2 tersebut dalam kondisi yang menggenaskan, dan membuat pilu hati semua
yang melihatnya. Masyakat disini membuat organisasi volunteering khusus untuk
membantu mereka, dan membuat mereka betah dan mengikis kepahitan di Afghan.
Moga2 anak2 itu waktu dewasa tidak akan berubah haluan untuk membenci
masyarakat di sini. Tetapi entahlah, ketika anak2 masih kecil, mereka masih
polos dan mudah tersentuh oleh perasaan kasih. Tetapi nanti ketika sudah mulai
dewasa, mereka akan masuk lebih dalam ke komunitas mereka, aktif di mesjid,
dan moga2 cuci otak yang mungkin mereka dapatkan di mesjid tidak meluluhkan
kenangan masa kanak2, bahwa masyarakat sekitar mengasihi mereka.

Hal yang membuat optimis adalah, bahwa sudah ada banyak dari anak2 yang
mencoba di cuci otak, berhasil menolak dan tumbuh berkembang menjadi
pemuka masyarakat, dan intelektual yang kritis. Salah satunya adalah Irshad
Manji, yang tidak bisa melupakan kehangatan masa kecil di Richmond, dan
ketika waktu remaja pendidikan di mesjid mencoba untuk mencuci otaknya,
dia menolak. Dan akhirnya dia menjadi jurnalis populer. Dia tetap muslim,
tetapi muslim yang humanistis. Dia mengarang buku "The Trouble with Islam:
A Muslim's Call for Reform in Her Faith". Dia mengajak orang2 AWARE
pada fundamentalisme dalam Islam ini.

Dan muslim seperti Irshad Manji itu banyak sekali saat ini. Buku2 tentang
Islam belakangan ini muncul dari penulis2 muslim, yang jestru bersikap sangat
kritis terhadap agamanya. Sepertinya ada gelombang muslim moderat yang
mulai berani ngomong. Mungkin karena sudah dipojokkan di tempat yang
paling pojok, banyak yang harus mengungsi dari negaranya karena
pemikirannya, sehingga mereka akhirnya ngomong terus terang.
Islam moderat saat ini mulai banyak bersuara karena ini sudah mulai
merupakan urusan survival. Ancaman sudah di ambang pintu.

Bukan PHOBIA, tetapi AWARENESS.