Tag

 Beberapa waktu yang lalu saya pernah menuliskan bahwa dengan adanya internet dan begitu ramainya milist di cyber-espace ini, dan siapa saja boleh menulis tentang apa saja, bebas sensor, maka orang-orang yang tadinya tidak biasa menulis atau tidak berapa bisa menulis, mereka mecobanya di milist internet.
Dan begitu tulisannya disiarkan – teman-teman itu sangat gembira. Timbul
semangat menulisnya – dan timbul kegairahannya. Mereka menulis prosa –
menulis puisi – menulis essay dan menulis renungan – memoire –
semi-biogaraphie – roman-biographie dan banyak lagi. Saya memperhatikan dan
mengamati, ada teman-teman yang menulis semacam snap-shot, dan sketsa –
mereka mungkin tanpa tahu dan tanpa peduli – termasuk golongan mana jenis
tulisan mereka.

Pokoknya menulis – dan menulis. Saya sangat gembira bahwa di milist
Sastra-Pembebasn beberapa hari ini hampir setiap hari menyiarkan cerpen dan
puisi. Saya melihat ini sangat gembira – bahwa banyak orang mau menulis –
mau mengarang tetapi tidak ada gelanggang – mau berlatih katakanlah mau
bertanding tapi tidak ada arena. Yang saya maksudkan gelanggang dan arena
itu adalah bagaikan sebuah pentass – sebuah panggung dan lebih kongkritnya
lagi adalah Suratkabar – Majalah – Tabloid – pada pokoknya media-cetak.
Untuk bisa memasuki media-cetak adalah sangat sulit – apalagi bagi orang
yang baru mulai atau baru sekedar latihan menulis.

Sebab di media-cetak peraturannya tentu saja harus keras sebab sesuai dengan
misi yang dibawakan oleh media-cetak tersebut dan semua ini akan menyangkut
prestise dan mutu media-cetak itu. Karenanya orang-orang yang baru mau
menulis atau yang baru beberapa kali menulis – merasa segan buat
mengirimkannya ke media-cetak. Sekarang ada media-espace internet berupa
belasan bahkan bisa puluhan milist yang bisa dimasuki buat menyiarkan
tulisan kita buat disiarkan. Dengan adanya cyberpace-internet-milist ini
sangat menguntungkan para penulis-baru dan calon-calon pengarang.

Dalam beberapa tulisan saya – sudah saya katakan dengan adanya dan banyaknya
para penulis yang menyiarkan tulisannya maka terbukah kemungkinan Sastara
Indonesia melahirkan mutiara-mutiara berharga bagi Sastra Indonesia. Dengan
tanpa ragu-ragu saya katakan di antara begitu banyak batu-batu yang
tampaknya biasa-biasa saja – akan tampak di antarnya ada butiran mutira atau
bentuk permata calon Sastra Indonesia. Maka mereka ini saya sebut sebagai
Sastrawan-Internet. Dari kuantitas yang begitu banyak, pada biasanya akan
melahirkan butiran kualitas yang cukup bermutu.
Dan saya sudah menemukannya buat catatan saya secara pribadi.

Para penulis yang saya sebutkan sebagai Sastrawan Internet itu atau baru
sampai tingkat calon penulias buat jadi Sastrawan Internet – memang sampai
kini belum ada pemerhatinya. Tetapi dalam pikiran dan penelaahan saya –
mereka para penulis di berbagai milist ini, cukup banyak yang bermutu. Jadi
dalam hati saya – kita bakal punya banyak Sastrawan Betulan. Dan Sastrawan
Betulan ini pusat berkumpulnya adalah sekitar Universitas Indonesia –
Fakultas Sastra dan majalah-majalah resmi budaya-sastra seperti Horison –
Kalam – Basis dan lain-lainnya.

Kami dulu ada satu pandangan – pabila sudah diakui oleh HB Jassin – maka
barulah merasa sah sebagai pengarang. Ini menurut saya tradisi yang tidak
begitu baik. Sehingga menurut pengamatan saya – betapa lamanya seorang
Motinggo Busye berasa di luara medan dan gelanggang-resmi ini. Juga
pengarang yang cukup banyak tulisannya yang bagus-bagus seperti Marga T,
dengan novelnya KARMILA yang sudah dicetak 30 kali itu – tetap di luar
pengakuan sebagai "Sastrawan Resmi", karena disebabkan belum ada pengakuan
dari HB Jassin!

Dan betapa saya merasa risihnya – sedihnya ketika tadi siang pada waktu kami
rapat majalah KREASI, ada teman yang mengatakan bahwa ada pandangan seorang
penyair di Indonesia yang penyair ini sudah termasuk senior dan terkenal,
mengatakan bahwa hasil-sastra yang tertulis dan disiarkan di berbagai milist
ini hanyalah Sastra Sampah! Waduh – sakit juga rasanya dada mendengarkan
seorang sastrawan Indonesia yang sudah begitu senior dan terkenal,
mengatakan hasil sastra hanya melalui internet itu adalah Sastra Sampah.
Berkat adanya milist internet ini, sejak kejatuhan babe tahun 1998, saya
menulis di internet sejak tahun 1997, saya sudah menerbitkan buku di
penerbitan Grasindo – Gramedia – Garba-Tuk – Karya Pena – Gunung Mulia –
….Cendikia di Bandung – Kreasi di Jakarta dan beredar di beberapa
toko-buku. Namun pabila menuruti paham dan isme sastrawan – penyair
Indonesia yang sangat tekenal itu – 12 buku saya itu adalah Sampah Sastra!

Saya tidak boleh marah dan sakit hati – saya harus bersobron sesuai dengan
arti nama saya. Biarlah kalau dia mau bilang begitu. Tetapi saya sangat
menghargai dan menyangi semua hasil sastra yang ada di berbagai milist yang
saya baca setiap hari. Jadi memang ada dua pandangan dunia tentang sastra di
milist intetnet ini. Pandangan yang menganggap Sampah Sastra – di satu pihak
dan memilih, mencerna, mengambil butiran-butiran mutiara sastra yang ada di
sekitar kita di berbagai milist ini, di lain pihak. Saya berdiri di pihak
terakhir ini – jelas dan tegas!,-

Holland,- 17 Juni 06,-