Sewaktu saya jadi guru Sekolah Dasar, ada seorang murid saya,  perempuan, yang lidahnya sangat tajam. Sebutlah namanya Puan.

Beberapa kali saya lihat teman-temannya pergi menahan marah setelah
diserang habis-habisan oleh Si Puan ini dengan kata-katanya yang
menyakitkan.

Suatu saat, saya lihat ada seorang anak laki-laki yang tidak tahan
dengan kata-kata Puan, memukul dia.

Pena membentuk kata. Kata membentuk kalimat. Kalimat membentuk dan
menyampaikan ide. Beberapa ide yang disampaikan bisa sampai
meluluhlantakkan Bali.

Demokrasi, salah satunya disangga oleh kebebasan berpendapat.
Sayangnya, pendapat 99 orang bodoh memiliki kekuatan yang lebih
besar dibandingkan pendapat satu orang pandai, meskipun pendapat 99
orang bodoh itu membawa mereka kedalam kehancuran.

Campuran formula mayoritas orang bodoh di Indonesia (lihat Human
Development Index) ditambah ide busuk yang disampaikan lewat kata-
kata berbalut otoritas keagamaan telah dan akan terus menghasilkan
kehancuran.

Saya lupa, siapa yang menyampaikan ini:
"Marilah kita tempa pedang kita menjadi mata bajak"
yang menandai keinginan dan kesepakatan perdamaian.

Kalau kata-kata kita itu bahkan disetarakan dengan pedang, maka:
"Marilah kita untai kata-kata kita menjadi nyanyian kehidupan"

Pertanyaannya, apakah yang akan kita lakukan kepada orang-orang yang
menggunakan pena-nya untuk melakukan serangan? Saya kurang sepakat
dengan ide yang menyatakan bahwa selama orang itu hanya bicara saja,
tidak melakukan sesuatu, maka orang itu tidak berbahaya dan tidak
dapat dihukum.

Dalam kasus Puan dan teman-temannya, Puan TELAH melakukan KEKERASAN
VERBAL alias Verbal abuse, dan menurut saya layak untuk dihukum,
karena TELAH melakukan kekerasan.

[siapa tahu, perdebatan ini di apakabar bisa jadi bahan pertimbangan
para anggota DPR dalam menyusun Undang Undang Pencegahan Provokasi,
misalnya]

Salam,
Rully