Gempa bumi kemarin benar2 luarbiasa.  Lagi2 lempengan tektonik australasia bikin gara2 — tulisan RDP secara saintifik menjelaskan hal2 ini.  Salut.
Gempa ini tampak sangat luarbiasa karena bersamaan waktu dengan meningkatnya kegiatan volkanologis Merapi; sehingga mudah di 'gothak-gathuk' non-saintifik (spt 'analisa' kijero) — definitely will be done by the javanese. Ada 'teori konspirasi' ttg sultan (yogya) yg berusaha 'mengalihkan enerji merapi ke laut jawa' dan sebagian enerji itu 'mbrabas' (bocor) menjadi gempa di tepian laut selatan. Teori ini mendukung keras kejayaan kraton – membuat banyak orang awam dan pious menyembah sultan

Ada lagi teori lain yg menggambarkan akan naiknya seorang raja baru – spt implisit di cerita senopati nya kijero — berkaitan dengan bergeraknya 'kedua wadyabala mataram' (merapi dan laut kidul). Jelas ini teori yg sangat memikat bagi calon2 2009. Bener2 Kaco. Teori lain lagi yg lebih2 kurang ajarnya adalah 'ngamuk'nya wadyabala sohartons — karena di-kuya2 dia mengerahkan jin peri perawangan nya menghajar 'orang2 mataram' yg kurang ajar. Sebagai 'bukti' adalah rusaknya Imogiri dan robohnya tembok di kraton. Jadinya teori ini berbalikan dengan teori kraton nomor satu diatas. Nyuhartons menjadi sang tokoh.

Jelas bahwa teori mbajing ini akan dapat traction (= pendukung) dikalangan gedibal cendana — plus mereka2 yg terus2an berharap agar kejayaan pribadinya (yg diperoleh dari ngrampok bareng2 cendana dulu sampe kini) tidak diutik2. – Tiga teori diatas bisa dapat traction di kalangan masing2. Dan selalu ada 'wong tuwo' yg akan pasang muka serius dan nyebar pitutur yg basisnya adalah salah satu dari teori diatas — biasanya di kembangkan sedemikian rupa agar ada role bagi dirinya pribadi –> sambil memuja virtual boss mengangkat diri sendiri — penipuan psikologis terhadap diri sendiri dan orang lain yg sudah menjadi high art dikalangan wong jowo.

Apa yg sesungguhnya terjadi? Seratus tahun yl tidak ada pendapat yg lebih berbobot dari salah satu teori konspirasi diatas. Tidak ada pendapat apapun yg bisa membawa bukti yg lebih riil, sehingga 'mana yg benar' itu tidak bisa ditentukan. Kini tidak lagi — ada penjelasan BMG, USGS (dan EMS yg di state RDP di kolomnya ) yg dilengkapi dengan foto2 udara, teori2 saintifik yg bukan hanya empiris, juga didukung oleh fakta2 lain. Baru saja beberapa hari yl ditulisanku ttg evolusi aku menyinggung teori2 lain yg juga 'seharusnya' ditentang oleh agamawan yg menentang evolusi — salah satunya adalah teori plate-tectonics. Teori ttg pergerakan lempeng bumi, yg menjadi dasar dari semua sains ttg geologi (dan juga menjadi dasar penjelasan dispersi biologis dan merupakan juga bukti evolusi). Teori ini sekarang sangat jelas kebenarannya. Dan teori ini pula yg menjelaskan mengapa hal2 spt vulkanologi dan gempa Jawa ini terjadi. Juga mengapa hal2 ini terjadi tanpa bisa diprediksi secara tepat. Dan berbagai kesimpulan lain. Di BBC website ada penjelasan pendek secara grafis yg sangat jelas menerangkan efek2 vulkanologi, gempa dan tsunami berdasar penjelasan saintifik ini. http://news.bbc.co.uk/1/hi/world/4126809.stm Teori geologi ini juga menjelaskan tempat2 mana yg sangat mungkin mengalami bencana2 ini – tempat2 mana yg mempunyai probabilitas rendah dan mana yg hampir tidak mungkin (tengah2 Kalimantan misalnya, adalah sangat stabil secara geologis). Sehingga prediksi bisa dibuat secara sangat bertanggung jawab.

Kembali ke bencana kita. Gempa terakhir ini adalah suatu pergeseran (sesar – bahasa teknis nya) horizontal antara lempengan australia dan asia — lempengan yg sama yg menjadi sumber bencana tsunami Acheh 2004 yl. Retakan antara kedua lempeng besar ini memanjang dari ujung sumatra sampai ke utara austalia, melengkung mengikuti contour pulau2 Sumatra dan Jawa. Retakan ini pulalah yg mengakibatkan banyaknya gunung berapi (termasuk Merapi) di area ini. Belakangan, terjadi geseran2 pada retakan ini — kita masih ingat sejak gempa Acheh akhir 2004, terjadi lagi geseran2 di retakan yg sama kearah selatan, di dekat Nias, kemudian semakin selatan. Pada saat itupun (2005) sudah ada ketakutan bahwa geseran2 pada retakan ini akan terus bergerak ke selatan, dan bisa mengancam lautan Indonesia. Akhli2 Australia bahkan sudah mengkhawatirkan ancaman pada pantai utara Australia, berupa tsunami. Ancaman gempa ini bisa langsung sebagai gempa – spt yg terjadi sabtu yl, jika epicenter (pusat gempa)nya cukup dekat dengan pemukiman — bisa juga berupa ancaman tsunami, jika gempa itu dilaut dan terjadi pergeseran vertikal spt di Acheh (bukan di Jawa ini). Bisa juga secara tidak langsung dengan ancaman aktivitas gunung berapi spt Merapi. Jadi teori geologi modern memberi kita jawaban atas semua masalah ini. Jawaban saintifik. Jawaban yg benar, mikir. Jawaban spt ini perlu kemampuan logika, dan keterkaitan dengan berbagai kaidah saintifik. Tidak memberi jawaban2 'psikologis' maupun mythical atau alegori moralita – tidak 'menenangkan jiwa' secara langsung spt ujar2 orang tua. Dan juga mempunyai banyak keterbatasan teknis, spt ketidak mampuan membuat prediksi detail ngaku akurat (pernyataan dinas BMG Indonesia yg skeptis menanggapi statemen2 bahwa 'akan ada gempa nanti malam jam 10' itu tepat dan typical science) Terkadang sebagai manusia dengan darah dan daging dan emosi yg bisa menyiksa – kita membutuhkan assurance / kata2 bijak yg menenangkan pikiran dan membantu kita untuk bisa menghadapi kesulitan2 yg dihadapi. Jadi jawaban2 'psikologis' alegoris moralitas itu juga perlu bagi masyarakat yg sedang menghadapi musibah. Tetapi jawaban2 itu tidak benar secara faktual. Tidak ada tuhan, allah atau dewa apalagi setan genjik manusia berkuasa — yg mengatur bencana2 ini untuk tujuan apapun. Bencana2 ini terjadi karena asas kejadian fisika geologis – jika tekanan magma dari bumi menemukan jalan keluar dari kawah gunung berapi, maka akan ada aktifitas vulaknologi. Jika retakan dua lempeng tektonis mengalami pergeseran maka terjadi gempa bumi dan seterusnya. Kita (setidaknya science saat ini) tidak bisa memprediksi secara akurat kapan suatu retakan akan bergeser dan mengakibatkan gempa; tetapi tidak berarti bahwa kita tidak tahu apa2 ttg geologi. Walau jelas tidak semua hal, banyak sekali yg telah diketahui ttg geologi.

Banyak sekali hal2 praktis yg bisa diterapkan untuk mengurangi penderitaan manusia akibat bencana2 spt ini. Science memberi jawaban. Disisi sebaliknya, penderitaan kemanusiaan — manusia sebagai individu orang perorang — adalah sumber dari empati kita sebagai manusia. Empati adalah sumber dari kematangan jiwa kita. Dan melihat bencana spt ini, satu keluarga yg harus mengais reruntuhan rumah untuk menemukan orang tua, kakek atau anak cucu mereka terkubur dan luka parah karena timbunan reruntuhan — memahami penderitaan langsung spt ini adalah esensi kemanusiaan. Itulah, science dan empati kemanusiaan (yg sering ditonjolkan oleh agama dan tradisi, dan secara historis adalah warisan leluhur ke kemanusiaan kita), adalah dua sisi kemanusiaan yg saling melengkapi. Untuk bisa membantu penderitaan manusia secara makro dan long term — science sangat diperlukan. Untuk bisa berempati pada penderitaan individu2 ini, dan menggerakkan jiwa kita kearah kebenaran dan kemanusiaan, kita tidak boleh mengingkari kesejarahan, tradisi dan keseluruhan yg membuat kita sebagai manusia utuh — hal2 yg ditekankan oleh tradisi dan agama — dan juga hal2 yg sampai saat ini belum dimengerti oleh science.

Menganggap science sebagai satu2 nya cara memandang semuanya adalah arogan melebihi batas. Sebaliknya menilai kenyataan duniawi berdasar tradisi (baca: agama) tanpa menggunakan kaidah2 science yg jelas2 telah terbukti adalah tidak bertanggung jawab sama sekali. Kaidah2 science, traktor dan alat2 berat harus turun tangan untuk mempercepat pembangunan korban bencana ini; empati dan rasa kemanusiaan (dilandasi agama, tradisi atau apapun) harus menjadi driver traktor itu. Dan tidak ada lagi tempat untuk teori2 konspirasi palsu yg hanya menyesatkan. Di masa lalu teori2 itu bagus untuk mengisi waktu gossip seraya berspekulasi sebarangan tanpa bukti empiris. Sekarang tidak lagi saatnya.

Dukaku untuk yogyakarta

b@b 290506